Hari ini ada meeting dengan beberapa client dari Malaysia, semoga saja berjalan lancar dan sukses.
Aku mengenakan jas biru donker keberuntunganku karena biasanya setiap aku memakai jas ini percaya atau tidak, ada saja keberuntungan yang aku dapatkan dan benar saja meeting kami siang tadi berjalan lancar tanpa adanya hambatan sekalipun. Ini berkat karyawan - karyawan setiaku yang siap menemaniku overtime sampai pagi, Karin, Delina, Aida, Chiko, Alex juga Edi. Aku, Chiko dan Delina merupakan teman satu kampus dulu di Stanford sedangkan Karin dan Alex satu kuliah di Jakarta.
Kami semua langsung berpesta mengunjungi salah satu bar yang terkenal di Jakarta. Aku memang minum tapi tidak sebanyak Karin, dia sangat cinta alkohol. Aku duduk di sebuah sofa panjang bersama Alex, dia sibuk menyalakan rokoknya sementara aku terus memperhatikan Karin, Aida, Delina juga Chiko yang berjoget di dance floor, sesekali aku tertawa melihat mereka.
[Flashback On]
Malam minggu, 2001
"Bu, Ayah, kenalin ini Dennis, temen Ita"
"duh tampan sekali nak Dennis ini, pacarnya Ita ya?" tanya Ibu menggoda kami.
"hehehe"
"ga boleh pacaran, teman saja" kata Ayah sambil membersihkan laras panjangnya.
"engga pacaran, Yah"
"terus malam minggu begini mau kemana?"
"maaf Yah sebelumnya, Dennis mau ngajak Alista jalan, itu juga kalo dibolehin" tanya Dennis sopan.
"kemana?"
"mau nonton wayang di Sonobudoyo"
"silahkan saja"
"yauda, Ita sama Dennis pergi dulu, jangan dikunci pintunya sebelum Ita pulang" pesanku pada Ibu.
"iya, Ta"
Aku dan Dennis naik motornya menuju Museum Sonobudoyo, Dennis suka sekali dengan wayang begitupun aku. Setelah nonton wayang dia memarkir motornya di lapangan Badran dan kita berjalan di sekitar alun - alun.
"Ayahmu pangkatnya apa?" tanya Dennis sambil memakan kacang rebus yang kami beli tadi.
"kolonel bintang tiga"
"aku juga pengen jadi tentara, seperti Ayahmu"
"jangan, aku ga mau kamu galak"
"galak sama calon menantu gpp toh" tanyanya usil.
"haha amin"
Itu kencan pertamaku bersama Dennis setelah tiga hari yang lalu dia menyatakan perasaannya padaku, sebenarnya Dennis yang aku kenal itu sama sekali tidak romantis malah terbilang cuek banget sama cewek.
Dua bulan sebelum kami pacaran hampir tiap hari aku menerima surat cinta dari seseorang entah puisi, kata - kata mutiara dan lain - lain, dan pada saat aku dan Dennis di satukan dalam kelompok belajar, aku mampir kerumahnya dan tak sengaja masuk ke dalam kamarnya dinding kamarnya di tempelkan sebuah poster besar berisikan karangan puisi yang ia buat sama dengan puisi yang ia kirim kemarin. Lalu amplop - amplop surat ini mirip dengan surat cintaku. Aku suka bagaimana dia mengungkapkan isi hatinya, dia spesial menurutku.
Aku ingat betul caranya mengirim surat - surat itu, dari yang tiba - tiba sudah ada di mejaku, lewat ibu - ibu kantin disekolah, guru olahraga, mba Dina, Ibu, Ayah bahkan satpam di komplek kami. Yang jelas, saat aku belum tahu kalau pengirimnya itu Dennis aku sudah jatuh cinta dengan si penulis, dan aku berharap itu Dennis, dan ya, doaku dikabul Tuhan. Aku bahagia bisa kenal kamu, Dennis, aku bahagia.
[Flashback Off]
Tiba - tiba Alex membisikkan sesuatu di telingaku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku dan ini diluar dugaan dia mencium bibirku, aku langsung mendorongnya sekuat tenaga tapi justru dorongan yang ku beri membuatnya tambah menggila aku merasakan nafasnya memburu di leherku. Aku takut ini semakin jauh, aku menamparnya dengan memejamkan mataku, aku tau hal ini wajar kita sudah dewasa tapi bukan Alex, aku ingin melakukannya dengan seorang pria yang aku cintai.
Dia melepaskan ciumannya, aku melihat dia merasa bersalah apa yang tadi dilakukannya terhadapku, lalu dia bangkit dari sofa dan bergabung dengan yang lainnya.
Kemudian aku mendapat pesan darinya, maaf, Ta. gue benar - benar khilaf, gue khilaf, terima kasih udah nampar gue kalau engga gue pasti udah gila tadi.
Please deh Lex, tadi lo bukan gila tapi udah gila banget! Oke, Alex, kali ini aku maafkan mengingat dia adalah karyawan tercerdas di kantor, aku akan melupakan kejadian tadi di bar.
Dan sepertinya malam ini aku akan menginap di apartemen Karin karena ga mungkin aku pulang dengan pakaian dengan bau yang menyengat seperti ini, aku sudah bilang Ayah untuk tidak menungguku pulang dan mengunci pagar lebih awal untungnya aku selalu bawa pakaian ganti di bagasiku. Aku membopong Karin keluar dari bar itu menuju parkiran, dia mabuk berat astaga segera ku pasangkan seat beltnya dan bergegas pulang.
Sudah lama ga ke apartemennya ternyata banyak yang dirubah posisi ruangannya, seperti ruang tv sekarang menghadap ke kamarnya dan ruang makan sekarang dekat dengan ruang tamu lumayan rapih dipandang.
Aku menidurkannya di kamarnya aku melihat foto - foto kami waktu TK, SD, SMP hingga SMU. Ini anak sweet juga nyimpen barang - barang seperti ini. Lalu aku melihat foto Karin dengan Damas yang mana Damas ini mencium pipinya Karin dan ada tanda love di pinggirannya, hah? jadi mereka pernah jadian? kok aku ga tau? ini foto di ambil pas coret - coretan SMU kan? pantes aja selesai konvoi mereka ngilang gitu ternyata di belakang sekolah cium - ciuman kayak gini. Ew!
**
Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 9, ya ampun aku telat. Segera aku bangkit dari kasur dan mencari toilet, duh kepalaku pusing banget padahal hanya meneguk beberapa kali saja. "pagi, Ta" sapa Karin.
"eh sialan, kok lo udah rapih aja?" tanyaku melihat Karin yang sedang memakai lipsticknya.
"kan gue karyawan lo yang paling rajin"
"jahat lo ga ngebangunin gue"
"gini ya, bos, tadi gue udah nyiram lo, sampe bawa - bawa panci buat ngebangunin lo tapi lo act like you die"
"eh gue ga akting yaaa"
"whatever.. udah ah gue berangkat ngantor duluan ya, tenang gue ga bawa mobil lo kok" Karin menghampiriku dan mencium pipiku. "gue bareng Alex" bisiknya.
Apa? Alex? Sejak kapan mereka deket kayak gitu? Kayaknya selama aku di luar negri banyak sekali berita yang aku lewatkan huh, jabatanku sebagai miss ter-update bakalan abis masa periodenya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Lady
Fiksi RemajaSebuah kisah cinta yang tak pernah usai dialami oleh seorang wanita karir yang sibuk bekerja dan menyesampingkan urusan cintanya. Namun, ketika teman - temannya sudah menikah Alista mulai kewalahan mencari cinta sejatinya. Dia terjebak dalam perang...
