Minggu yang ku 'tak' tunggu - tunggu tiba. Acara nujuh bulanan Arum. Sebenarnya aku sudah move on dengan Riza tapi, ada sesuatu yang terganjal dihatiku yang Riza tau dan dia harus memberi tahukannya padaku. Ohya waktu di Singapore dia memberiku secarik kertas di jas keberuntunganku. Ketika ingin mengambilnya di kamarku, suara klakson Baron riuh didepan rumahku. Ya, aku terpaksa bareng sama Baron. Kalau saja mobilku ga dibengkel..
Akan kucari sehabis acaranya Arum. Aku memoles bibirku dengan warna nude. Aku siap!
Aku turun dan langsung berjalan ke arah garasi, kulihat Baron sedang berbincang dengan Ayah. Ayah tertawa begitu senangnya.
"ngobrolin apa sih?" tanyaku kepo karena sudah lama sekali aku tak melihat Ayah tertawa seperti itu.
"kamu" jawab Baron sambil terus tertawa.
"aku?"
"sudah jalan sana, nanti telat lho" kata Ayah.
"yauda, Ita jalan dulu ya, Yah!"
"ya, hati - hati. Ga akan Ayah kunci pintunya sampai Ita pulang"
Ah.. kata - kata itu..
Aku jadi kangen masa remajaku, apalagi sama Ibuku. Ibuku selalu berkata seperti itu ketika aku dan Dennis hendak pergi berdua di malam minggu. Aku tersenyum pada Ayah dan pergi bersama Baron dengan mobilnya.
"kenapa senyam - senyum sih?" tanyaku melihat Baron yang sedari tadi bertingkah aneh disampingku.
"seneng aja, akhirnya impianku yang ke 71 terwujud"
"yang ke 72 apa?"
"megang tangan kamu" katanya sambil melirikku. Setelah itu kami sama - sama terdiam dan kikuk sampai rumah Arum.
Rumahnya besar sekali, Riza benar - benar sudah sukses sekarang. Aku penasaran bagaimana perasaan Arum menjadi nyonya besar di rumah semewah ini.
Ternyata aku telat, disana sudah ada keluarga Damas, Puguh, Panji, Karis serta teman - teman yang lain. Oya, Karin tidak hadir dia nitip salam, ga tau kenapa. Ketika masuk rumahnya, Baron langsung bergabung dengan perkumpulan teman - teman SMU dulu sementara aku ikut nimbrung dengan Karis yang sedang ngobrol dengan Arum.
"makasih ya, Ta sudah sempatin datang"
"iya.."
"kata Damas kamu kesini bareng Baron?"
"Baron maksa habisan."
"ga berubah dari dulu tuh anak" kata Karis sambil tertawa.
"kalian cocok" bisik Arum dan hendak pamit mau bertemu dengan sanak keluarganya yang mulai berdatangan.
"bulan depan lo jadi pulang ke Thailand?"
"jadi dong, Ta. Itukan rumah gue"
"lah bukannya Indo juga rumah lo"
"beda, Indo itu kayak kampung halaman gue, rumah asli gue ya di Thailand"
"oya, Nam sama Shone ga diajak?"
"yakali gue reunian bawa anak, untung Thorn ngerti jadi sekarang anak - anak sama dia. Lagi ke Bandung, sore pulang"
"duh, iri deh"
"justru gue yang iri sama lo, diantara kita bertiga yang mau jadi wanita karir kan gue kenapa jadi lo?"
"hahaha"
Acaranya itu ada pengajian, makan - makan serta temu kangen di halaman belakang rumahnya. Aku melihat Riza yang tampak sibuk mondar - mandir meninjau acara berjalan dengan lancar. Ku pikir dia ga sadar sedari tadi aku memperhatikannya. Namun, aku teringat kata - kataku saat terakhir kali bersamanya di Singapore. Ya, mungkin dia seperti itu karena ucapanku waktu itu. Baiklah aku paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Lady
Novela JuvenilSebuah kisah cinta yang tak pernah usai dialami oleh seorang wanita karir yang sibuk bekerja dan menyesampingkan urusan cintanya. Namun, ketika teman - temannya sudah menikah Alista mulai kewalahan mencari cinta sejatinya. Dia terjebak dalam perang...
