Aku celingak - celinguk mencari dokter ganteng yang menangani Adrian. Mba Dina dan mas Juna kembali kerumah mengambil beberapa baju untuk Adrian jadi, aku yang menemaninya malam ini. Sebenarnya aku benci anak kecil, bukan benci sih, aku ga suka aja pasti ngerepotin kayak Adrian gini, malem - malem pengen pipis jelas lah aku yang jadi korbannya.
Menunggu Dennis datang buatku ngantuk, kemudian aku duduk tertidur di samping Adrian.
Ga kerasa pagi datang aku melihat jam yang melingkar di tangan kiriku. Jam 9. Astaga mana ada meeting hari ini segera ku telpon Karin untuk menunda meeting sampai sejam kemudian. Ternyata mba Dina membawa pakaian kerjaku so, aku mandi dirumah sakit.
"mba, Adrian udah diperiksa belum?" tanyaku pada mba Dina yang sedang memberi makan Adrian.
"udah tadi malem, dokternya baru dateng, kamu malah tidur"
"siapa yang meriksa?" tanyaku berharap kalau Dennis yang memeriksanya.
"tanya mas Juna dia yang tau, sebelum kesini gue ke alfamart dulu beli tisu jadi gue ga tau siapa yang periksa, emang kenapa sih?"
"mas Junanya sekarang mana?"
"kerja lah"
Kemudian seorang suster datang untuk mengambil darah Adrian. Seorang suster yang sama saat aku menanyakan keberadaan Dennis di rumah sakit ini. Setelah mengambil darah Adrian ku gandeng suster itu untuk keluar kamar, lalu menanyakan apa Dennis yang memeriksa Adrian tadi malam.
"ya, benar, dokter ganteng yang memeriksanya"
"kenapa suster ga bangunin saya?" tanyaku agak kesal.
"tadinya saya juga mau bangunin Ibu, tapi kata dokter ganteng Ibu cantik kalo lagi tidur jadi biarkan saja, katanya gitu"
"dia beneran bilang begitu?"
"iya, saya aja kaget dia bilang begitu, memangnya Ibu ada hubungan apasih sama dokter?" tanya suster itu aku hanya tersenyum bahagia membalas pertanyaannya itu. Dennis you made my day.
Sampai kantor aku bahagia sekali, kalimat suster itu masih terngiang - ngiang di otakku. Karin tersenyum melihatku sepertinya dia tahu alasan aku bahagia siang ini. Setelah meeting aku langsung menuju ke rumah sakit, sambil menyelam minum air gitu. Aku memaksa mba Dina untuk pergi bekerja biar aku yang menggantikan posisinya mengurus Adrian untungnya dia mau. Yes!
Aku melihat jam di dinding sudah waktunya untuk Adrian diperiksa, aku berdandan sedikit. Ga sabar rasanya.
"tante mau ketemu siapa sih?" tanya Adrian melihatku sibuk mempercantik diri.
"Adrian makasih ya, tante sayang sama Adrian" kataku tanpa menjawab pertanyaannya dan memeluk bocah kecil ini.
Kemudian, dokter ganteng itu datang, maksudku Dennis. Dia tidak didampingi suster, dia datang sendiri. Aku tersenyum melihat dia masuk, dia pun sebaliknya begitu.
Ini pertama kalinya kita saling bertatap muka setelah belasan tahun tak bertemu masih dengan wajah tampannya itu. Ingin sekali memeluk tubuhnya yang dibalut jas putih itu.
"Adrian, dokter periksa dulu ya" katanya membaringkan tubuh Adrian ke kasur dan mulai memeriksanya.
Setelah memeriksanya, Dennis mengisyaratkan padaku untuk keluar, aku tersenyum. Kemudian kami pergi menuju taman rumah sakit, aku mensejajarkan langkahku di sampingnya.
"aku.." katanya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"tante Andri udah cerita semuanya"
"kamu kemana aja?" tanyaku mulai serius. Aku rasa itu pertanyaan yang pantas untuknya, aku ingin tahu apakah dia juga mencariku seperti aku yang tak kenal waktu mencarinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Lady
Teen FictionSebuah kisah cinta yang tak pernah usai dialami oleh seorang wanita karir yang sibuk bekerja dan menyesampingkan urusan cintanya. Namun, ketika teman - temannya sudah menikah Alista mulai kewalahan mencari cinta sejatinya. Dia terjebak dalam perang...
