♥♚♥
"Hee ... mereka lewat jalan yang mana, yaa?" ujarku lalu bergumam panjang setelahnya.
"Dasar bego!"
"Eh?"
"Dari tadi lo ngapain aja, sih? Ngelamun mulu kerjaan!" protes Rey sambil menjitak kepalaku keras. Aku pun meringis sambil mengusap kepala.
"Yee ... kok gue yang disalahin? Lo nya aja yang kelamaan di toilet." Aku membalasnya dengan memukul lengan atasnya.
Rey bersedekap lalu memandangku dengan tatapan kesalnya yang terkesan dingin. "Kalo lo nggak bengong kita nggak bakal ketinggalan, tau!"
"Kalo lo nggak kelamaan kita nggak bakalan ketinggalan, tau!" balasku tak mau kalah sambil menyedekapkan tangan di dada dan memandangnya sok galak. Akhirnya Rey mendecih dan membuang mukanya.
Rey lalu mengeluarkan ponselnya. Sepertinya ia berniat menghubungi seseorang. Setelah cukup lama, ia mendesah dan kembali memasukan ponselnya ke saku. "Nggak ada sinyal!" keluhnya.
Ia lalu memandangi tiga jalan berbeda yang ada di depan kami, lalu kembali berujar.
"Menurut feeling gue mereka lewat jalan tanah yang lebar itu, deh. Soalnya jalan aspal kan lurus. Jadi pasti masih kelihatan kalau pun mereka udah jauh."
"Mmm ... kok feeling gue mereka kayaknya lewat jalan setapak itu?" Aku menunjuk jalan setapak yang dimaksud.
"Nggak mungkin! Jumlah anak-anak kita, eh, anak-anak sekolahan kita 300 orang lebih. Nggak mungkin jumlah sebanyak itu lewat jalan kecil begitu. Palingan juga lewat jalan yang gede."
"Tapi gue maunya lewat jalan yang kecil itu!" sungutku dengan tingkah keras kepala.
"Yaudah. Lo kesana aja sendiri, gue mau lewat jalan yang ini," ujar Rey sambil berlalu melangkah menuju jalan yang dimaksud sambil memasukan kedua lengannya ke saku. Menyebalkan seperti biasanya.
Aku menghela napas pasrah. Kalau sudah begini, mau tak mau, aku harus ikut Rey. Bisa gawat kalau aku tersesat sendirian. Akhirnya kami terus berjalan menyusuri jalan itu selama kurang lebih sepuluh menit. Sampai akhirnya jalan itu kembali terbagi menjadi dua. Dan lagi-lagi kami mendesah bersamaan karna harus memilih.
"Gue mau lewat jalan kanan," kataku lalu berjalan lebih dulu ke jalan yang di maksud. Berharap Rey akan mengikutiku seperti yang kulakukan tadi.
"Oh, gue sih mau lewat kiri,"
Begitu berbalik, tahu-tahu Rey sudah berjalan ke jalan yang sebelah kiri itu. Aku mengerang frustasi. Kenapa cowok ini egois sekali, sih? Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah dan mengikutinya.
Kami terus berjalan jauh sampai kaki ini terasa pegal. Namun anak SMA 27 sama sekali tak terlihat. Ini sudah terlalu jauh. Melewati jembatan, jalan setapak, lalu melewati sawah juga. Tapi semakin berjalan rasanya yang terjadi hanya semakin tersesat. Dasar Rey bodoh! Dia seenaknya memilih jalan sampai-sampai jadi tersesat jauh begini.
Aku menghentikan langkahku dan berteriak, "REEEYYY LO MAU BAWA GUE KEMANA, SIIIIHH???!"
Punggung lebar itu berhenti. Ia lalu berbalik dan menatapku dengan tatapan sebal yang biasanya. "Gue nggak ngajak lo, ya! Lo sendiri yang ngikutin gue," katanya.
"Tapii kaan lo yang nentuin jalannyaa. Kayaknya kita udah nyasar jauh banget, deh!"
"Iya, sih ..." ujarnya kemudian sambil memerhatikan sekitar.
"Lo capek?" tanyanya setelah pandangan matanya kembali terfokus padaku. Aku hanya mengangguk melas.
"Yaudah, istirahat dulu. Tuh ada pohon, duduk disana aja." Rey melangkah ke pohon besar yang ia maksud. Dasar! Dia selalu seenaknya tanpa meminta pendapatku lebih dulu.
Kini kami duduk berdua di bawah pohon itu. Udaranya sedikit sejuk karna pohonnya lumayan rindang. Ah, benar juga. Ini kan tempat dimana waktu SMP sering aku datangi. Ya, aku tidak mungkin salah! Dulu aku suka pergi kesini sehabis ditindas teman-temanku dan menangis lama di sini. Dan saat itu disinilah aku bertemu dengan cowok tersesat yang memakai masker abu diwajahnya itu. Ya, cowok itu, dia sosok pahlawanku. Orang yang telah mengubah diriku.
Tiba-tiba kulihat Rey merogoh tas gendongnya dan mengambil sebuah botol mineral dari dalamnya. Setelah itu dia menegak botol itu. Entah kenapa melihat Rey dengan baju yang berkeringat di bagian bawah lehernya sambil menegak air mengingatkanku pada iklan coca-cola. Dia terlihat cool. Dan lagi-lagi jantungku berdebar hanya melihatnya saja. Uh, sepertinya dia benar-benar memasang jimat anti Chelsea di tubuhnya.
Aku merogoh tasku juga, berniat melepas dahaga seperti yang dilakukan Rey barusan. Eeh? Kemana botol air mineralku, ya?
"Nyari apa?" tanya Rey yang sambil memasang tutup botol yang dipegangnya.
"Botol minum gue kok nggak ada, ya?"
"Lo kan udah minum tadi sampe tandas!" ujar Rey sambil memandangku keki. Ah! Benar juga. Aku sudah meminumnya tadi. Sampai lupa.
"Haaaahhh ..." hela napasku keras.
"Mau?" Rey mengangkat botol miliknya. Air yang tersisa tinggal seperlima botol. Ah, bukan, tapi seperenam. Entahlah, yang jelas hanya tinggal sedikit sekali.
Aku mencebik, "Ogah ..." kataku sambil membuang muka.
"Oh, yaudah ..." Rey terlihat kembali membuka tutup botolnya dan hendak menegaknya lagi. Aaaahh ... tidak! Airku yang berharga!, jeritku dalam hati.
"Stop!" kataku cepat dan membuat Rey menghentikan aktifitasnya. Ia lalu melihatku dengan senyuman miring di bibirnya yang tipis.
Aku, dengan muka yang memerah akhirnya merebut botolnya dan menegak sisa air yang sedikit itu. Tapi itu tidak membuat rasa hausku hilang. Alhasil rasa malu justru menjalariku. Sialan!
"Jadi ... kita udah ciuman dua kali, ya?" Tiba-tiba Rey berujar dengan nada datar. Sontak aku menoleh cepat ke arahnya.
"Ehhh?!" kataku sambil melotot lebar. Apa yang dia katakan barusan??!
"Pertama, di sedotan lemon waktu itu, inget? Kedua, barusan, di mulut botol itu," jelasnya dengan senyum jahil sembari menunjuk botol kosong di tanganku.
Lagi, jantungku berdebar hebat. Sekarang Rey malah cengengesan melihat tampangku yang sedang shock, sepertinya. Dasar orang ini! Sikapnya susah ditebak.
"Apaan, sih!? Apanya yang ciuman!" cibirku.
"Lo sendiri yang bilang kalau itu sama aja kayak ciuman secara nggak langsung. Gue sih nggak menghitung itu sebagai ciuman. Lagian kok lo ..., Ha! Lo belum pernah ciuman, ya?" tuding Rey dengan senyum miring yang lagi-lagi ia tunjukan.
"Pe-pe-pe-pernah kok! Enak aja!" sungutku lalu membuang muka. Menyembunyikan pipiku yang mungkin saja sudah memerah sekarang.
"Ha ... bohong!" ujar Rey.
"Gue bilang udah pernah!"
Rey malah menaikkan sebelah alisnya. "Bohong! Kalo gitu, gue mau ngasih tau lo rasanya gimana."
Dengan cepat ia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kedua tangannya ia tempelkan ke pohon, dan tubuhku berada di antara kedua tangannya. Dia mengunciku!
Jantungku kini melompat-lompat kala dia menatapku dengan jarak sedekat ini. Kurasa darahku mengalir dengan deras saat ini. Aku sampai lupa bagaimana caranya bernapas! Tidak ada pergerakan yang bisa aku lakukan selain bibirku yang bergerak terbata-bata. Akhirnya aku hanya menutup mataku. Apa dia benar-benar akan menciumku? Huaaaa ... bagaimana ini?
Beberapa detik berlalu sejak aku menutup mataku, namun tidak terjadi apa-apa.
"Dasar bego!"
Mendengar suara itu akhirnya aku kembali membuka mataku perlahan. Rey sudah kembali ke posisi yang sebelumnya, tidak lagi berada di dekatku.
"Eh?"
"Udah gue duga lo itu tipe cewek yang polos," ujarnya. Kali ini wajahnya sudah kembali datar seperti biasanya.
"Ma-maksudnya?" tanyaku dengan dada yang masih berpacu kencang.
Rey lalu menoleh dan menatapku lekat-lekat, "Jangan pernah berlaku bodoh kayak tadi lagi! Kalo cowoknya bukan gue mungkin lo udah kenapa-napa," ujarnya.
"Eeh?" Lagi-lagi aku hanya bisa melongo. Apa maksudnya itu tadi? Apa dia sedang memberitahuku sesuatu?
"Gue nggak ngerti maksud lo!"
"Denger, ya, Chelsea bego, jangan pernah tutup mata lo kalau ada cowok ngelakuin hal yang gue lakuin tadi. Itu kesannya lo bersedia buat ..., ah, lupain." Kulihat wajah Rey sedikit memerah. Ia berdeham sekali lalu memalingkan wajahnya.
"Enak aja! Maksud lo tadi gue bersedia buat lo cium? Gue cuma kaget aja, tau!" protesku dengan pipi yang memanas.
"Ya makanya, kan tadi gue bilang jangan tutup mata lo kalo lagi di posisi itu, gue cuma ngasih tau lo, ngerti?" ujarnya tanpa memandangku. Aku hanya berdecih dan memalingkan wajahku sambil berusaha menghilangkan debaran di dadaku ini. Dasar cowok sialan!
Atmosfer diantara kami jadi sedikit canggung. Akhirnya kebungkaman terjadi sampai akhirnya Rey tiba-tiba berdiri dari duduknya. Dia lalu menengok kanan-kiri, memperhatikan sekitarnya dengan mata yang bergerak liar, seperti sedang melihat ... hantu?
Aku ikut berdiri. "Rey, jangan nakutin gue, deh! Ada apa, si?"
"Rasanya gue pernah kesini sebelumnya." Rey terus memposisikan kornea matanya ke atas sambil bergumam panjang. "Ah, iya. Waktu SMP gue pernah nyasar terus akhirnya kesini. Bener, gue nggak mungkin salah," ujarnya kemudian.
A-a-apa? Dia pernah kesini waktu SMP? Ja-jadi ... cowok yang waktu itu aku temui disini adalah ..
Rey? Ah, tidak mungkin. Mari kita pastikan.
"Haa ... lo pernah nyasar kesini? Terus lo ngapain disini?" tanyaku.
Rey menggaruk dagunya yang kutebak tidak gatal. "Waktu itu ... gue nemuin cewek jelek, gendut, berambut dora yang ... lagi nangis?"
What?? Cewek jelek? Gendut? Berambut dora?? Ck, memang menyedihkan, ya, aku di masa lalu. Dan itu berarti ... Rey adalah cowok bermasker abu yang waktu itu!!! Orang yang aku anggap sebagai pahlawan itu adalah ... Rey? Sungguh?! Ah ... dunia benar-benar sempit!
Benar juga. Aku masih ingat mata Rey yang menatapku beberapa tahun lalu. Ya, mata itu. Mata yang dingin dan teduh. Kenapa aku baru sadar sekarang?
"Chelsea bego, kenapa lo bengong?" Tahu-tahu Rey sudah berdiri di depanku dan menatapku lekat.
"Eeh? Ng-nggak papa!"
Rey semakin memerhatikan wajahku. Dia lalu mengangkat alisnya sebelah. "Kok, wajah lu mirip cewek gendut waktu itu, ya?"
"E-e-enak aja!! Gue kurus dari lahir, tau!" bentakku bohong.
"Hmm ... perasaan gue aja kali, ya," Rey memalingkan wajahnya dan menggaruk tengkuk.
Sebentar, bukankah seharusnya aku senang bisa bertemu sosok pahlawanku itu? Tapi kok ... mendengar Rey menyebutku 'cewek jelek, gendut, berambut dora', aku malah jadi tidak ingin Rey tahu kalau itu aku? Huaaa ... lagipula kenapa dia harus Rey, sih!
♥♚♥
KAMU SEDANG MEMBACA
DUA SEJOLI SALING JATUH CINTA
Storie d'amoreCapcussss Langsung Ajah JANGAN Lupa Vote and Coment Tuk NEXT Happy Reading MUAHHHHHHH.....
