"Kenapa? Kaget? Emang ada yang salah dengan kedatangan gue ke sini?" Selina menatap sinis Lova.
"Tau rumah gue dari mana? Situ stalker? Malu, dong," ucap Lova dengan tak kalah sinisnya.
"Apa sih yang seorang Selina ga tau? Apapun bisa gue tau, apalagi yang berhubungan sama lo dan menyangkut soal Vegi."
"Ngapain lo ke rumah gue? Salah alamat, mba? Atau mau minta sedekah? Perasaan ga ada yang ngundang lo, deh," balas Lova ogah-ogahan.
"Lagi ngadain acara dinner, ya? Tapi, kenapa calon pacar gue lo bawa ke rumah lo? Ga laku sampai minjem pacar orang?"
"Gila, ni bocah keselek apaan, sih? Mabok mulu. Calon pacar kata lo? Oplas jadi seksi kayak artis-artis Korea aja, si Vegi belom tentu kepincut sama elo. Jangankan suka, ngelirik pun kagak."
Selina dan Lova terlibat perselisihan. Sampai terdengar sebuah suara yang berhasil menghentikan (sementara) keributan diantara mereka.
"Lova, siapa tamu kita? Kenapa ga disuruh masuk aja?" Mami mengajak Lova berbicara tanpa menoleh sedikitpun pada sang tamu--Selina--
Lova hanya mengangkat kedua bahunya. Akhirnya, Selina yang angkat bicara. "Halo, tante."
Mamida mengalihkan pandangannya dari Lova. "Kamu? Junior yang setingkat di bawah anakku, kan? Siapa sih namanya, Lov? Yang mirip nama artis gemes-gemes itu, kan? Se-Selena Gemes?" Mamida mengerutkan dahinya, berusaha untuk mengingat nama makhluk di depannya.
"Selina tante. Saya adik kelasnya Kak Lova," jawab Selina sambil tersenyum manis.
Mami mengeluarkan tatapan datarnya. "Ga usah sok imut gitu ya, tolong. Geli tau, gak?" Yang dihina malah menanggapi dengan seutas senyuman.
Mamida membisikkan sesuatu pada Lova. "Ternyata si Selina lebih cantik aslinya ketimbang di foto, ya. Mami jelek-jelekin bukannya bales, eh malah senyum. Gendeng ya, dia? Untung cantik."
Selina mendengar apa yang dikatakan mamida pada Lova. "Makasih tante."
"Jangan baper dulu, mba. Cantik di fisik belum tentu cantik batin. Kayak gue dong, cantik alami natural luar dalam." Lova menyilangkan kedua tangannya. Tak lupa senyum meremehkan terukir di bibirnya.
Dan lagi, mereka kembali berdebat. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk saling menjatuhi satu sama lain. Di lain sisi, papihul mulai merasa bingung karena Lova dan mamida tak kunjung balik ke meja makan. Papihul memutuskan untuk menghampiri mereka di pintu utama. Dan Vegi tetap berdiam di meja makan sendirian.
"Kenapa lama se–nak Selina?"
"Halo, om," sapa Selina lalu mencium punggung tangan papihul.
Lova dan mamida memandang Selina dan papihul secara bergantian, kemudian saling bertatapan. "Papi kenal anak alay ini?"
Papi menganggukkan kepalanya. "Kenal dong, sayang. Dia kan Selina anak temen bisnis papi. Ada perlu apa ke sini?"
"Tadi saya baca PM om di BBM. Lagi makan malem ya, om? Seli ganggu, gak? Soalnya kata Kak Lova, saya ganggu."
Lova memutar bola mata malas. "Udah tau ganggu, pake nanya segala. Muka lo udah banyak, ga usah cari muka lagi. Emang papi bikin PM apa, sih?"
"Kamu ga cek BBM? Papi kan buat PM 'Dinner with my family and my calon son in-law (Vegi)' gitu," jawab mami mewakili papi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jemuran Zone
Jugendliteratur[COMPLETED] [33 Chapter + 2 Extra Chapter + Bonus Chapter] Seharusnya, ketika dua hati saling mencintai, mereka pasti akan sama-sama berjuang. Faktanya, sepasang sahabat--berbeda jenis kelamin, salah satu diantaranya atau mungkin keduanya memendam...
