24. Rasa Tanpa Ungkapan

5.2K 469 74
                                        

P.s: Jangan lupa puter lagu di mulmed, ya.

***

Lova masih setia mematung di tempatnya, bahkan sampai Vegi kembali dari toilet. Vegi yang tidak mengetahui apa yang terjadi diantara Lova dan Selina tadi, mengerutkan kening melihat ekspresi ratu-nya.

"Lov?" Vegi menepuk pelan pundak Lova untuk mengembalikan kesadarannya.

"Ah-iya-apa?" Lova menjawab pertanyaan Vegi dengan gelagapan.

"Lo kenapa?"

Lova terdiam sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk berbohong pada Vegi. "Ga papa. Gue cuma ga nyangka aja, Selina bakal pindah keluar kota. Berarti ga ada yang bakal ganggu gue lagi, dong."

Meski gerak-gerik Lova terlihat sedikit meragukan, Vegi tetap mencoba memercayainya. Vegi mengacak pelan rambut Lova sambil tersenyum tipis. Hal sederhana yang selalu Vegi lakukan padanya, namun selalu ia respon dengan pipi merona.

Beberapa detik kemudian, lampu di kafe tersebut padam secara tiba-tiba. Membuat kafe benar-benar menjadi gelap gulita, tanpa sedikitpun pencahayaan di dalamnya. Tidak ada suara apapun, keadaan menjadi hening total.

Lova bisa merasakan debaran jantungnya yang kini memacu dengan sangat cepat. Ke mana perginya pengunjung kafe yang tadinya sangat ramai? Jujur, Lova merasa sangat ketakutan. Dia mengulurkan tangannya mencoba untuk meraba-raba sekitarnya.

"Ve-Vegi, lo di ma-mana? Vegi, gue takut. Jangan tinggalin gue ..." Lova menggigit bibir bawahnya mencoba untuk tidak menangis.

Sepi. Gelap. Hening.

Lova membenci keadaan ini. Ingin rasanya dia pergi ke rumahnya sesegera mungkin, namun rasa takut membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Satu-satunya yang bisa membantunya adalah Vegi. Beberapa saat lalu, Vegi masih berada di hadapannya. Lalu, ke mana perginya Vegi sekarang?

"Vegi, ja-jangan bercanda gue mohon. Lo di mana? Gue bener-bener takut ..." Lova berjongkok lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Suara isak tangis mulai terdengar dari bibir Lova.

Di tengah-tengah tangisan Lova, sebuah cahaya muncul tepat dari arah panggung kafe. Lova langsung berdiri dan menoleh ke sumber cahaya tersebut.

Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah sosok Vegi duduk sambil membawa sebuah gitar, lalu di depannya terdapat microphone. Di belakang Vegi, ada berpuluh-puluh lampu kecil berwarna gold yang dibentuk menjadi kata 'Queen.'

Lova tidak mengerti dengan semua ini. Setelah yakin kalau Lova sudah memfokuskan pandangannya pada Vegi, Vegi mulai memetik senar gitarnya.

Across the ocean, across the sea,
Starting to forget the way you looked at me now
Over the mountains, across the sky,
Need to see your face, I need to look in your eyes

Vegi menatap lurus ke arah Lova sebelum kembali melanjutkan nyanyiannya. Hal itu membuat Lova tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan Vegi. Bahkan, Lova tidak bergerak sedikitpun dari posisinya saat ini.

Through the storm and through the clouds
Bumps on the road and upside down now
I know it's hard, babe, to sleep at night
Don't you worry
'cause everything's gonna be alright, ai-ai-ai-aight
Be alright, ai-ai-ai-aight

Jemuran Zone Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang