16. Prioritas Tanpa Batas

6K 555 173
                                        

Perkataan orang itu masih terus terngiang-ngiang dengan jelas di benak Vegi. Jika Vegi menuruti permintaan orang itu, dampaknya adalah pasti ada satu hati yang keinginannya akan terpenuhi, satu hati yang nantinya tersakiti, satu hati yang terpaksa membohongi diri sendiri, dan satu hati yang mungkin merasa dikhianati.

Vegi sudah tidak bersemangat dalam menimba ilmu lagi. Dia memutuskan untuk bolos dan akan pergi ke rumah Lova. Hanya Lova yang bisa menenangkan hatinya. Hanya Lova, bukan yang lainnya.

Doi-nya Lova: Lov, gue ke rumah lo, ya. Gue ga akan tenang, sebelum gue tau kalo lo baik-baik aja.

LovaC.: Lo mau bolos? Jangan keseringan bolos. Gue udah baikan, kok. Serius.

Doi-nya Lova: Gue butuh elo, Lov.

LovaC.: Gue cuma ga mau lo bolos karena gue, Veg. Kalo lo dihukum gimana?

Doi-nya Lova: Kalo gue dihukum itu ga masalah. Please, gue cuma mau ketemu sama lo. Setelah itu gue pergi. Gue janji.

LovaC.: Hm, ya udah. Hati-hati.

Vegi tersenyum menatap layar handphonenya. Hal tidak penting seperti jawaban pasrah dari Lova sekalipun, jika itu menyangkut semua hal tentang ratu-nya, Vegi pasti tersenyum bahagia. Kecuali jika Lova terluka.

Vegi langsung memasukkan handphonenya ke dalam saku seragamnya. Dengan semangat empat lima, Vegi keluar dari toilet sekolah dan bersiap pergi ke rumah Lova. Karena niatnya sudah membara, dia bahkan membiarkan tasnya menetap di dalam kelas. Dia menitipkan tasnya itu pada teman kepercayaannya, yaitu Reno.

Tinggal beberapa langkah lagi, Vegi sampai di tempat parkir. Tapi, langkahnya tiba-tiba terhenti, karena ada seseorang yang menepuk pelan pundaknya. Otomatis hal itu membuat Vegi terdiam. Sedetik kemudian, Vegi membalikkan badannya dan pandangan mata mereka bertemu. Satunya dengan tatapan memuja, satunya dengan tatapan hina.

"Kak Vegi mau ke mana? Aku telepon kok ga bisa? Kakak ganti nomor HP?" Selina menatap Vegi dengan penuh keingintahuan.

"Mau bolos, lah. Jangan rusak mood gue, tolong. Bisa gak, jauh dari hadapan gue untuk sehari aja?" Vegi berbicara dengan ekspresi datarnya.

Selina mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum miring. "Gue capek bersikap manis di depan lo dan berusaha untuk ngerebut hati lo, tapi ternyata sia-sia. Gak, ini semua belum berakhir. Gue ga akan nyerah sampai lo jadi milik gue seutuhnya. Lo denger gue, kan? Lo harus jadi milik gue."

"Lo gila, Sel. Gue ga ada rasa sama lo, padahal lo juga tau itu. Hati gue udah jadi milik orang lain." Vegi berusaha menyadarkan Selina, kalau dia itu salah besar.

Selina semakin memperlebar senyum miringnya. "Selina selalu dapetin apa yang dia mau sejak kecil. Selina ga pernah mau terima apapun jenis penolakannya. Jadi, apa kakak yakin mau nolak aku? Kakak lebih milih Lova ketimbang aku? Seriously?" Wajah Selina kini berubah menjadi lebih menakutkan dari sebelumnya.

Vegi menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan sosok Selina di hadapannya saat ini. "Lo ga waras. Lo gila, Sel."

"Iya. Aku gila karena kakak."

Suasana diantara mereka kini terasa sangat menegangkan. Seperti ada suatu perbedaan yang tidak bisa menyatukan hati keduanya. Hati Selina mengharapkan sosok Vegi, tapi hati Vegi menginginkan sosok Lova. Ini menyangkut tentang banyak hati yang terjebak dalam sebuah lingkaran tanpa ujung, bernama cinta.

"KALIAN BERDUA, SEDANG APA DI SANA?! KALIAN MAU BOLOS, YA?!"

Beruntung ada seorang guru BK yang memergoki mereka. Karena kalau tidak, Vegi akan terjebak berdua dengan setan remaja--Selina--

Jemuran Zone Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang