Mamida sudah kembali dari kegiatan berbelanjanya. Dan timmingnya selalu bersamaan dengan Vegi dan Lova yang sedang berduaan.
Vegi dan Lova langsung melepaskan pelukan mereka. Sudah tertangkap basah, malah ditambah dengan mendengar godaan maut dari mamida. Lova menundukkan kepala pertanda malu, sedangkan Vegi menyengir tidak jelas.
"Hai, mami," sapa Vegi pada mamida.
Mami tersenyum lebar sehingga menampilkan deretan gigi putihnya. "Hai juga, calon mantu."
Lova yang mendengar, kini mulai merasa muak. "Mami ngomong apa, sih? Nanti dia baper. Lagian Lova sama Vegi juga ga ada hubungan apapun. Jangan asal nyebut dia calon mantu, mi."
Mamida mengedikkan bahunya acuh. "Oke. Kalau Vegi pacaran sama si Selina yang kemarin-kemarin itu, jangan curhat ke mami, ya." Sontak Lova membulatkan mata mendengar perkataan mamida.
"Eh, jangan dong. Pokoknya, si Seli sama Vegi ga cocok sama sekali," jawab Lova sambil mengerucutkan bibirnya.
Mendengar jawaban dari Lova, mamida dan Vegi saling bertatapan, lalu tersenyum mencurigakan. "Tuh kan, Veg, Lova selalu cemburu kalau mami bawa-bawa nama Selina." Vegi terkekeh menyetujui ucapan mamida.
Lova langsung gelagapan, bingung untuk mengeluarkan kata-kata yang menurutnya pas. "Em-itu-anu-bukan-gitu-aduh-gimana, ya? Maksud Lova, jangan sama Selina, lah. Yang lain aja, Cinta kek, Anissa kek, atau siapapun itu selain Selina."
Vegi merasa gemas dengan Lova, dia mencubit pelan kedua pipi Lova. Otomatis hal itu membuat Lova menjadi bungkam. "Iya deh, apa kata kanjeng ratu aja. Biar seneng." Tangan Vegi beralih untuk mengacak lembut rambut Lova.
Lova menghentakkan kakinya dengan keras menuju ke kamarnya. Mamida hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, menyaksikan tingkah labil Lova.
"Si Lova kalau lagi ngambek, ya gitu. Kamu susul ke kamarnya aja. Biasanya kalau dibujuk dikit doang sama kamu, dia pasti luluh. Maklum lah, dia anaknya sensian dan gengsian." Vegi tersenyum tipis sebelum menyusul Lova yang berada di kamarnya.
Pintu kamar Lova terbuka lebar, mungkin Lova lupa menutup pintunya tadi. Dengan mudahnya, Vegi masuk ke kamar Lova dan langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur Lova. Sedangkan Lova duduk di sofa kamarnya sambil memainkan handphonenya.
"Tau deh, HP baru. Yang lama rusak kebanting, ya?" tebak Vegi asal-asalan, namun tepat sasaran.
"Gara-gara lo, gue jadi banting HP, bego. Untung gue inget akun line yang lama, makanya lo bisa nge-line gue segampang itu."
Masih dengan posisi berbaring, Vegi membalas perkataan Lova. "Berarti, lo emang sengaja ga ganti akun, supaya gue bisa nge-line elo, kan? Aduh ... manis banget sih, kanjeng ratu-nya gue," ucap Vegi dengan tampang tidak berdosa.
"Mati aja, lo!" Lova melempar barang apapun yang berada di jangkauannya ke arah Vegi.
Vegi tertawa lepas menanggapi tingkah menggemaskan Lova. Dia sangat senang menggoda Lova yang sedang dalam masa sensitifnya. Lova mengembungkan pipinya merasa sebal.
"Cuaca lagi panes, lo jangan bikin gue makin panes, dong. Ketawa aja terus sampe mampus. Mana AC di sini lagi rusak pula. Gara-gara lo, nih, sial mulu gue." Lova meletakkan handphonenya dan mengibas-ngibaskan tangannya di dekat wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jemuran Zone
Fiksi Remaja[COMPLETED] [33 Chapter + 2 Extra Chapter + Bonus Chapter] Seharusnya, ketika dua hati saling mencintai, mereka pasti akan sama-sama berjuang. Faktanya, sepasang sahabat--berbeda jenis kelamin, salah satu diantaranya atau mungkin keduanya memendam...
