Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

25. Bahagia itu Sederhana

6.2K 489 114
                                        

Setelah cukup lama berada dalam posisi berpelukan, mereka mengakhiri kegiatannya. Vegi langsung menghapus sisa-sisa air mata Lova. Lalu mengambil sesuatu yang dia letakkan di atas meja tadi dan memberikannya pada Lova.

Lova mengerutkan alisnya menatap benda itu. Sesuatu yang berbentuk persegi panjang dan dilapisi dengan kertas berwarna merah muda, ditambah pita di tengahnya. Ada catatan kecil di sisi kanan benda itu. Lova membacanya dengan suara yang cukup keras.

"Bukanya kalau udah di rumah aja ya, queen. From your future." Setelah membaca catatan itu, Lova menatap Vegi yang sedang menyengir lebar.

"Ga ada salahnya kan kalau gue pengen jadi masa depan lo? Siapa tau Tuhan ngabulin doa gue, hehe." Vegi berkata murni karena keinginan hatinya.

"Najis." Lova memutar bola matanya. Diluar dia memang mengatakan najis, tapi di dalam hatinya ... dia meng-amin-kan perkataan Vegi.

Sebenarnya, Lova merasa begitu penasaran dengan sesuatu yang berada di tangannya saat ini. Apa boleh buat? Vegi hanya membolehkan Lova membuka di rumahnya. Biarlah itu menjadi kejutan nanti.

Lova tiba-tiba merasakan kantuk yang teramat. Di satu sisi, dia sangat ingin kembali ke rumahnya. Bukan hanya karena mengantuk, tapi juga karena rasa penasaran dengan sesuatu yang Vegi berikan padanya. Namun, di sisi lain, Lova masih ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Vegi. Sudah lama dia tidak berduaan bersama dengan seseorang di hadapannya saat ini.

"Lo keliatan capek banget, Lov. Pulang aja, yuk."

Lova menggelengkan kepalanya sambil menguap (cukup) lebar. "Jangan. Lo udah berusaha bikin surprise buat gue. Mana mungkin gue ngelewatin saat-saat kayak gini. Kapan lagi coba?"

"Ga papa. Pulang sekarang aja. Gue selalu punya waktu kalau lo minta nemenin keluar bareng gue. Lagian besok kita mesti pergi sekolah, kan?"

Lova membenarkan perkataan Vegi. Dan dengan sedikit terpaksa, Lova mengikuti langkah Vegi menuju ke dalam mobil. Mengenai mamida, papihul, Reno, Anissa, dan yang lainnya, mereka sudah membubarkan diri masing-masing sesaat sebelum Lova memeluk Vegi. Maksudnya, mereka memang sengaja memberikan kesempatan untuk Lova dan Vegi berduaan.

Udara malam terasa menusuk ke dalam kulit Lova. Dia lupa membawa jaket untuk menghangatkan tubuhnya. Beruntung Vegi membawa mobil, bukan motor. Vegi membukakan pintu untuk Lova, lalu berjalan menuju kursi pengemudi.

Vegi mulai menjalankan mobilnya. Setelah beberapa belas menit berada di jalanan, Vegi mulai membuka suara.

"Gue sayang banget sama lo, Lov. Sesayang-sayangnya orang sayang."

Masih terfokus dengan jalan raya, Vegi melanjutkan pembicaraannya. "Wajar gak sih, cowok jatuh cinta sama seorang cewek di pertemuan pertama? Katanya ... cinta itu perlu proses. Tapi, kenapa pertama kali liat lo, gue langsung jatuh hati?" Tidak ada balasan. Vegi berpikir, Lova mungkin sedang terdiam dan masih ingin mendengarkan lanjutan perkataannya.

"Dari dulu gue jarang ngomong, kalau bukan hal penting atau ada sesuatu yang menarik. Tapi, semenjak ketemu sama lo, gue sadar gue berubah jadi cowok bawel. Itu artinya ... lo itu penting dan terlalu menarik di mata gue."

"Sadar ga sadar, lo bener-bener berpengaruh besar. Gue boleh bilang sesuatu sama lo? Makasih, karena lo mau masuk ke dalam kehidupan gue dan jadi satu-satunya perempuan yang udah menuhin semua ruang di hati gue."

Masih tidak ada balasan, bahkan beberapa detik sudah berlalu. Vegi mendengar suara hembusan napas yang teratur. Ketika menoleh ke samping, Vegi mendapati Lova yang tertidur di sebelahnya. Pantas saja Lova tidak membalas perkataan Vegi. Dia sudah masuk ke alam mimpi.

Jemuran Zone Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang