Part 31 "Rain"

1.1K 60 0
                                        

Aimee point of view

Yup, hey guys! Lama kita ga ngobrol, si author sih ngobrol mulu.

Sialan lo! Balik ke cerita sono!!

Hehehe. So back to the story~>

---

Yup, disinilah aku (lagi). Badanku digoyang sembarangan oleh Mia, mukaku ditamparin sama papah biar sadar dan banyak orang membicarakanku, badanku di dorong ke ambulance dan yeah aku bertemu my sweetest friend, hospital!

UGD, kamar, kemo, suntik bla bla bla aku hapal semua aktifitasku nanti di sini. (Yep gue masih pingsan tapi gue ngobrol aja ama kalian sapa tau ntar gabut gue ilang. Abis gue gabisa liat apa-apa).

Aku menebak sudah berada di dalam kamar rumah sakit. Namun kenapaaa aku selalu tak bisa bergerak setelah keluar UGD?????

"Kondisi Aimee memburuk. Mungkin karena ia sudah tak meminum obatnya lagi. Untuk kedepannya mohon Aimee berada di sini untuk di awasi dokter dan suster." Hmmmm tuh pasti dokter Farhan.

"Terimakasih, dok."ucap papa. Tangan papa yang gemetar membuatku rasanya ingin ikut menangis. "Maafkan papa, Aimee. Papa gabisa jagain kamu."ucap papa lirih. Ucapan papa membuatku sedih, yang tadinya aku rela meninggalkan dunia menjadi tak rela karena tak mau berpisah dengan papa.

Langkah kaki Mia terburu-buru meninggalkan kamarku entah kemana. Papa terus mengucapkan kata-kata yang membuatku tak ingin meninggalkannya. Tiba-tiba aku mempunyai kekuatan dan membalas genggaman papa.

Papa menoleh ke arahku dan aku membuka mataku sedikit. Beliau menghapus air matanya dan meletakkan tangannya yang lembut di wajahku. "Aimee sudah sadar ya? Aimee mau apa sekarang?"tanya papa lembut. "Ai...mee.... mau... pa....paah.."ucapku lalu menangis.

Papa langsung memelukku erat dan tangisnya pecah lagi. "Maafin papa ya, nak."kata papa. Aku hanya diam menikmati pelukan hangat papa yang jarang kudapatkan.

Papa melepas peluknya lalu membantuku duduk. Ia menghapus air mataku lalu tersenyum padaku. "Kalo Aimee berjuang, papa juga berjuang! Saranghae?"kata papa tiba-tiba membentuk tangannya menjadi hati dan membuatku tertawa.

Hingga tiba-tiba, Reza membuka kamarku dan aku bisa melihat Mia di belakangnya. Reza berjalan tegas menuju arahku dan tanpa memperdulikan papa, ia memelukku erat. Melihat itu, papa dan Mia pun keluar dari kamarku. Aku diam tak tau harus berkata apa.

"Bodoh."ucap Reza. "What?"tanyaku. "Lo bodoh kalo mikir bisa nyembunyiin penyakit lo yang ga akan sembuh dari gue."ucapnya mulai menangis. Aku diam, ia sudah tahu, tak ada yang bisa kusembunyikan lagi. "Trus lo mau ngapain sekarang kalo uda tau posisi gue?"tanyaku menahan tangis. "Gue bakalan tetep di samping lo apapun yang terjadi karena gue gabisa ngapa-ngapain tanpa elo, Aimee."ucap Reza melepas pelukannya dan menatapku dalam.

Kata-kata Reza berhasil membuatku menangis. Aku menutup kedua mataku dengan kedua tanganku dan menangis. Reza menarik kepalaku lembut ke peluknya lalu mencium kepalaku. "Because in  music you are my muse. In art, you are my inspiration. In life, you are my breath."ucap Reza.

Aku melepas peluknya dan mengusap air mataku lalu tak sengaja melihat pukul 11:11. Aku menutup mataku dan berdoa. Please, God. I love him, let me stay for another day.

Aku dan Reza mengobrol banyak, kami saling menceritakan kejadian yang tak kami lalui bersama hingga aku mendengar suara hujan. Aku turun dari tempat tidurku dan menatap hujan di jendela kamarku. "Za, gue pengen ngebau bau hujan, turun yuk ke taman!"ajakku. "Tapi--" Aku langsung mengecup bibirnya, "Please."ucap ku memohon.

"Ih nyogoknya nyium."kata Reza menutup mulutnya. Aku mencium tangan Reza yang menutup bibirnya lagi. "Pleaseeee.."ucapku membuat wajah melas. Reza pun tak punya pilihan lain dan ia pun mengantarku ke taman. Ia pun menyuruhku hanya berdiri di pintu rumah sakit dan tak membolehkan hujan-hujan sementara ia hilang membeli kopi.

Aku mencium bau tanah yang terkena hujan dalam, segeerrr. Aku pun berlari menuju taman dan berhujan ria. Tubuhku sudah basah kuyup dan aku masih berlarian seperti orang kesetanan. Hingga Reza membawa payung dan ia merusak momen hujanku. "Ah Reza, gue lagi seneng-seneng!"ucapku kesal. "Ngga kayak ginii yuk masuk ah! Ntar lo sakit!"kata Reza.

"Reza!"panggilku. "Paan?!"jawabnya. "Rezaaaaa!!!!"teriakku lebih kencang. "Lo apa--" "Rezaaaaaaaaa!!"teriakku lagi. "Makasih."ucapku pelan. "Buat paan?"tanya Reza. "Karena lo ga pergi dari gue."ucapku lalu mencium dalam Reza. Kami berciuman sebentar lalu Reza segera menarikku kembali ke kamar.

Suster pun memasang infusku dan memberikan obat. Tak lama, papa dan Mia datang membawa barangku. "Mia, lo bawa alat lukis gue ga?"tanyaku. "Gue cuma bawa kanvas kecil sama cat air dikit. Napa?"tanya Mia. Aku langsung mengambilnya dan melukis di atas tempat tidurku. "Lah itu sapa yang lo lukis?"tanya Mia. "Rahasia!!!"ucapku.

Mia terus memandang lukisanku lalu berteriak, "Itu elo sam--" Aku segera menutup mulutnya. "Bukan gue tau!"ucapku mengode Mia bahwa disitu ada papa yang sedang menerima telfon. "Oh iya bukan lo."ucap Mia terkekeh.

"Bagus gak?"tanyaku pada Reza. "TOP!!! Sini gue simpenin."kata Reza membawa lukisanku. "ASTAGAAA DRAGON!!!"teriak Mia tiba-tiba. "Alay banget sih! Bilang aja astaga naga! Pake dragon."kata Reza kesal. "Tiga hari lagi Aimee ulang taun!!! Elo mau apaan, Aimee? Gue beliin dah!"kata Mia.

"Beliin gue lukisan Dance at Le Moulin de la Gallete karya Pierre Auguste Renoir."ucap Aimee. "BUSET! Lo sadar kan itu harganya nyampek satu triliun? Dan itu ada di museum prancis. Lo mau gue jadi buronan nyolong itu buat lo?"kata Mia kesal.

"Hahaha gue bercanda. Terserah elu dah mau ngasih apaan. Gue seneng kalo lo di samping gue aja."ucapku. "Dih sok bijak lo."kata Mia mengeluarkan hpnya dan menelfon seseorang.

"Hmmm, gue pulang dulu ya, My. Mau bilang nyokap lo ultah tiga hari lagi."kata Reza mencium keningku lalu pergi. "Papa pulang dulu ya sayang soalnya besok ada meeting. Love you sayang."ucap papa mencium pipiku dan pergi tinggal aku dan Mia.

"Lah pada ilang kemana?"tanya Mia selesai menelfon. "Mending lo pergi juga. Gue pengen sendirian, Mia."ucapku lemas. "Oke deh gue juga diajak dinner sama Morgan. Bye honey!"ucap Mia pergi.

Aku diam menikmati sunyi. Aku mengambil kertas dan pulpen di sampingku dan menulis sesuatu.

11:11 PMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang