ATTENTION! (18++)
"Hey its 11:11 lets make a wish!" Apa kau percaya keajaiban pukul 11:11? Inilah kisah Aimee Suherman tentang kepercayaannya pada pukul 11:11. Aimee percaya jika ia membuat permintaan pada pukul 11:11 maka permintaannya akan terkabu...
Aku membuka mataku perlahan dan meloncat kaget saat ada Adam menatapku. "Ngapain lo disini?"kataku mengusap mataku. Ia diam menatapku dengan tatapan yang tak bisa kutebak. "Paan sih, Dam."ucapku. "Lu hari ini beda kak."ucap Adam.
"Pasti gue lebih cantik kaaannn????"kataku memegang kedua wajahku. "Sok imut deh. By the way lu ultah ye lusa? Hmm habede deh ya."kata Adam menarik tanganku untuk menjabatnya lalu di kembalikan lagi.
"Kan masih lusa ngapain lu bilang sekarang?"tanyaku. "Gapapa. Habede ya."ucapnya lagi. "Gitu doang? Lu ga ngasih gue kado apa gituuu?"tanyaku. "Nope. Itu urusan bang Reza. Gue mah bagian nyelametin aja."kata Adam memberiku kartu ucapan. "Udah? Lu bagian gini doang?"tanyaku kesal. Adam mengangguk mantap. Aku pun menarik kertas yang suster Nyla berikan dan memberikannya pada Adam. (Suster Nyla itu yang selalu ngerawat gue. Cantik orangnya, dan die suka ama Adam).
"Paan neh, kak?"tanya Adam. "Tuh dari fans lo, tapi katanya lo harus buka kalo lo uda di rumah."kataku. "Duh jadi gasabar gue pulang."kata Adam mencoba mengintip. "Lah? Lo ga pulang sekarang?"tanyaku. "Gue mah disini jagain elu kak disuruh ama bang Reza."kata Adam.
Dokter dan suster pun masuk ke kamarku untuk kontrol dan menyuntik obat. Namun datang asisten dokter laki-laki yang wajahnya familiar. "Elo......"ucapku menunjuknya. "Pagi, Aimee."katanya tersenyum. Kuakui ia cukup manis, kaca matanya membingkai matanya dengan indah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kita pernah ketemu dimana ya?"tanyaku. "Operasi pertama lo."katanya tersenyum. "Ah iya...."ucapku. "Lo mau jalan-jalan?"tanyanya. "Yeah."jawabku seperti terhipnotis. "Yah, kak. Gue? Gue gimana?"tanya Adam. "Lu jagain aja kamar gue."kataku berjalan dengan asisten dokter itu.
"Gue William. Panggil Will aja."katanya. "Yeah kayanya lo uda tau nama gue jadi gue gausa ngenalin."kataku. Ia mengantarku berjalan-jalan dan duduk di taman. Aku mulai mengenalnya perlahan begitu juga ia mengenalku. Aku bahagia karena bisa punya teman lain sebelum aku meninggalkan dunia ini.
"Dont give up."katanya menggenggam tanganku. "Hmm?"tanyaku heran. "Gue tau keadaan lo sekarang. Dibalik senyum lo, gue tau kesedihan di mata lo."katanya menatapku dalam. "Kayaknya gue ketauan ya?"kataku tak berani menatapnya. Ia menggenggam wajahku dengan kedua tangannya. "Setiap orang pantes hidup bahagia. Lo juga. Lo gaboleh nyerah sama keadaan lo sekarang. Apapun yang terjadi gue dukung elo."katanya tersenyum.
Aku sempat tersihir dengan senyumnya. "Thanks, Will."ucapku melepas kedua tangannya dari wajahku. "Oh sorry, lo uda punya pacar ya?"tanya William. Aku mengangguk.
Tiba-tiba Reza datang dan menarikku ke belakangnya. "Lo pasti pacarnya ya?"tanya William. "Reza? Lo kok dateng? Bukann--" "Siapa?!"tanya Reza tegas. "William. Asisten dokter Farhan. Dia yang operasi gue dulu."jawabku. Reza tiba-tiba berjalan pergi. "Reza!"panggilku mencoba mengejarnya dengan lemas, namun aku jatuh dan William membantuku. "Duh lo tuh belum sembuh banget pake lari segala! Jatuh kan?!"kata William melihat lukaku.
Aku tak memperdulikan lukaku dan menatap Reza yang berhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arahku. Ia menepis tangan William yang menyentuh lututku dan menggendongku menuju kamarku. "Lo jangan salah sangka, seriusan gue gaada apa-apa sama--" "Diem, kalo lo ngomong lo makin berat."katanya tak menatapku sama sekali.
Sesampai di kamarku suster Nyla segera menangani luka di kakiku. "Mbak Aimee tadi lagi berduaan ya sama dokter Will. Aduuhh pasti seneng. Dokter itu ganteng mbak pinter lagi. Idama--aaahh aduuh sakit mbak." Aku langsung mencubit lengan suster Nyla karena nanti Reza akan marah. "Ah iya ini lukanya uda seleseh kok. Permisi."kata suster Nyla pergi.
"Reza...."kataku memegang tangannya namun ia melepasnya. "Wah wah wah! Kalian pasti pada mau putus kan? Kak Aimee, Adam siap gantiin bang Reza. Ayooo buruan putus!"kata Adam senang. "Adam!!!"teriakku dan Reza bersamaan membuat Adam kaget lalu keluar dari kamarku.
"Rezaaa......"kataku mencoba menarik tangannya agar tubuhnya dekat denganku. Aku membuka kedua tanganku lebar. "Peluuukkk..."ucapku. Namun Reza malah pergi meninggalkanku. "Ah Rezaaaa maahhh!!"teriakku kesal.
Aku pun melalui hariku dengan membosankan karena Reza tak kembali ke kamarku, Adam pula. Mia pun tak bisa diganggu karena sedang bersama Morgan. Sedangkan papa sedang rapat penting.
Namun tak lama saat aku sedang asyik bermain hp, laki-laki memakai hoodie hitam masuk. "Siapa lo?!"tanyaku ketakutan. Laki-laki itu makin mendekat ke arahku. Aku mencoba menekan tombol memanggil dokter atau suster tapi tak ada yang datang.
"Percuma lo teken tuh tombol gabakal ada yang dateng."katanya tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil di tangan kanannya. "Ngga.... nggaaa... pergi loo!!!"teriakku turun dari tempat tidurku dan mundur.
Hingga aku mencapai jendela, aku tak mungkin turun dari jendela karena akan mati. Aku terduduk lemas dan ia makin mendekat ke arahku. Aku diam menangis memeluk lututku erat. Hingga pintu kamarku terbuka dan ada Reza di sana. "Woy!"teriak Reza langsung berlari menarik orang itu dan mereka pun terlibat pertengkaran.
Aku diam menatap mereka. "Keluar Aimee!!! Keluar!!"teriak Reza. Aku ingin keluar tapi kakiku sangat lemas karena shock. Mereka terus memukul satu sama lain hingga pisau penjahat itu terhempas ke arahku. Aku menggenggam pisau itu gemetar lalu berdiri dan berjalan ke arah Reza dan penjahat itu. "Aaarrgghhh!!!" Aku menutup mataku dan menusuk pria itu dengan pisau yang ku genggam.
Laki-laki itu melemas dan jatuh ke lantai. Tapi, tunggu. Aku tak menusuk pria itu! Aku menusuk Reza! "Gu.... gue.... ngebunuh.... guee.... Reza.... REZAAA!!! REZAAAA!!!" Aku berteriak tak jelas hingga menangis. Tak lama beberapa suster, William, dan security masuk ke kamarku. "Laki-laki umur 19 tahun luka tusuk di dada cepat operasi! Security tangkap orang itu! Suster Nyla bantu saya!"perintah Will dan semua segera melaksanakan perintahnya.
"Hey..."kata Will menarik perhatianku karena aku terus melihat ke arah lantai yang di penuhi darah Reza. "Aimee..."kata William mencoba menggenggam tanganku tapi aku mundur dan menarik tanganku. "Pergi..... gue... gue ngebunuh Reza... gue... gue..." Tanganku terus bergetar hebat tanpa henti. "Suster tolong telfon Mia saudara kembar Aimee untuk segera ke sini."kata Will.
"Hey, its ok. Lo ngga ngebunuh Reza itu. Lo cuma ketakutan. Lo gapapa sekarang."kata William terus maju ke arahku. "Pergi!! Gue bilang pergiii!!!"teriakku mendorong William. Seusai menelfon Mia, suster Nyla segera mengambil suntikan dan mendekat ke arahku. "Jangan deket-deket gue! Pergi!!!"teriakku.
William segera memegang tubuhku dan suster Nyla menyuntikkan obat penenang ke lenganku. Aku mulai merasa lemas dan menangis. "Reza...... selametin dia... gue mohon........."kataku sebelum pingsan.