"Hai sayang" ucapku menepuk pundaknya perlahan dari belakang. Dia Pun hanya menoleh sebentar dan memberikan senyuman. Aku pun segera mengambil posisi duduk disampingnya.
"Udah kelar kelasnya" tanyanya
"Udah, kamu masih ada kelas ?" Tanyaku sambil menyedot es teh yang ada dihadapannya.
"Enggak sih, cuman ada pertemuan anak BEM kan sebentar lagi ?"
"Oh iya aku lupa. Hehe"
"Tuh, kualat ngejek aku tua. Dia nya sendiri pelupa" ucapnya mengejek.
"Enak aja, manusia emang tempatnya lupa jadi wajarlah. Muda atau tua pasti pernah lupa. Kalo kamu kan emang wajahnya boros" ucapku tak terima.
"Enak aja, aku masih imut tau" Belanya sambil cemberut.
"Imut dari mananya yang mbak ?" Ucapku terus menggoda.
"Dari bayangan diatas comberan. Puas ?" Ucapnya kesal.
"Haha, adududu... jangan ngambek dong sayang. bercanda, toh aku suka kamu apa adanya" ucapku mencoba membujuknya.
"Ck, gak mempan" ucapnya datar.
"Kok gitu sih.. jangan ngambek dong. Kamu mau apa ? Aku kasih deh, Tapi jangan ambekin aku dong" ucapku masih coba merayu.
"Kita ke salon ? Gimana ?" Ucapnya tiba tiba.
"Hah ? Ngapain ? Gak ah. Kita masih ada pertemuan kan ?"
"Gak sekarang juga. Nanti kalo udah selesai. Gimana ? Ya Bob ya ?" Ucapnya terus Melayu. Aku yang dirayu dan disenyumi rasanya tak bisa menolak. Mau tak mau aku akan lakukan kemauan nya. Meskipun aku harus memaksakan diriku sendiri.
****
Rapat BEM akhirnya selesai. Aku dan Shania bergegas keluar ruangan, namun belum sampai keluar kami lebih dulu dicegah ketua BEM kita, si ibu negara.
"Shan, gue minta kamu siapin semua urusan dokumentasi dan liputan liputannya ya ? Dan kamu Bob, aku mohon kali ini jangan nyanyi lagu galau lagi. Tahun kemarin masak iya anak cewek pada baper cuman gara gara kamu nyanyi" ucapnya mengingatkan Shania sekaligus menceramahiku.
"Hehe, iya iya kak. Sekarang udah gak galau lagi kok. Lagian kemarin salah mereka sendiri ngapain ngikut baper" ucapku cengengesan sambil mengusap kepala Shania.
"Ih bobby" rajuk Shania dan mengibaskan tanganku yang masih setia diatas kepalanya.
"Oh iya iya, paham paham. Yaudah aku cuman ngingetin aja. Silahkan bersenang-senang. Hati hati ya Bob" teriak ibu negara pada kami dan tepatnya padaku.
"Siap ibu negara. Kami duluan ya. Yuk Shan" ucapku melambai pada ibu negara.
"Duluan kak" pamit Shania juga. Kita pun berjalan keluar dan menjauh dari ruangan.
******
"Bos Bobby wajahnya bete. Kenapa ya ?" Ucapnya pada kamera nya sambil terus menekan nekan pipiku. Lebih tepatnya cekungan yang ada dipipiku. Tapi tak ada niatan ku untuk menjawab. Aku terus menyibukkan diri dengan game di hpku. Namun Shania tak henti hentinya menggangguku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lensa, Senja, Dan Kita
FanfictionSelama nafasku masih berdesah Dan jantungku terus memanggil indah namamu kan ku jaga segenap cinta yang ada percayalah satu cintaku untukmu