Mataku terpejam. Terlentang di kursi depan kelas yang masih berlangsung. Aku tak tidur, namun pikiranku terus melayang layang tak karuan. Bagaimana aku bisa mengembalikan Shania ku yang dulu. Jika bertatapan denganku saja dia enggan.
Gerombolan mahasiswa tengah keluar dari kelas mereka. Tapi rasaku aku masih ingin menutup mata ini. Menutupi wajahku dengan lenganku karena sebenarnya aku sedikit mengeluarkan air mata ku sedari tadi. Kurasa ada seseorang yang berdiri tepat di depanku.
"Kenapa masih disini ?" Ucapnya datar. Berhasil membuatku terlonjak dan langsung duduk. Kepalaku sangat pening, saat mendadak duduk dari tidurku.
"Argh" erangku.
"Kenapa ?" Tanyanya lagi.
"Aku nungguin kamu" jawabku.
"Bukan itu. Kamu kenapa ?"
"Oh, kepalaku pusing mendadak duduk kaya tadi" ucapku cengengesan.
"Dasar." Ucapnya berlalu meninggalkanku. Kususul langkahnya dan mensejajarkan jalannya. Kupegang erat tangannya, dan kali ini dia tak menolak.
"Aku laper. Kita cari makan dulu ya?" Tanyaku padanya .
"Terserah kamu aja" jawabnya datar.
*****
"Ayo dimakan" ucapku padanya. Kulihat dia hanya memegang sendoknya dan tak bergerak sedikitpun. Aku yang ingin menyuapkan nasi kedalam mulutku mendadak berhenti dan menatapnya. Mungkin merasa kutatap dia hanya melirik ku dan mencoba mengangkat sendoknya. Namun aku sangat terpukul. Lagi, harus kulihat dia menjatuhkan sendoknya disaat dia ingin menyuapkan nasi kemulutnya lagi.
"Aaaa.. buka mulutnya" ucapku menyuapkan nasi kearah mulutnya. Dia hanya menatap ku dengan dahi yang berkerut.
"Ayo. Aku suapain." Ucapku lagi. Dia hanya diam dan memalingkan wajahnya menghindar.
"Kenapa ? Ayolah Shan.. kamu mau ngebunuh aku ? Aku bisa mati kelaparan" ucapku merengek.
"Yaudah. Makan aja" ucapnya
"Kamu tahu aku kan ? Mana mungkin aku bisa makan jika kamu gak makan juga. " ucapku.
Dengan segala Bujuk rayu yang kulakukan. Meskipun emosiku hampir diujung batas. Namun ku sadar aku hidup untuknya. Aku bertahan selama ini karena dia. Aku akan selalu disampingnya. Membuat sebuah keajaiban untuk dia. Menjadi alasannya untuk bahagia. Mungkin sekarang belum waktunya. Namun aku yakin kebahagiaan itu akan tiba. Aku telah memilih, jalan hidupku adalah dia. Tujuan ku adalah dia. Nafasku akan selalu memanggil indah namanya. Karenanya aku akan lakukan apapun untuknya. Bahkan jika aku bisa menggantikan posisinya, maka akan kulalui.
.
****
Seharian mengantarnya dan menunggu nya kuliah. Ternyata tak meluluhkan hatinya sepenuhnya. Dia masih seolah menghindar dariku. Tapi aku takkan menyerah. Kemarin saat aku mengantarnya pulang Om natha berpesan padaku untuk bersabar. Beliau yakin aku bisa melakukan nya .
Dengan style seperti biasa, kaos polos, celana jeans dan hodie aku berjalan ke arah mobilku. Tak lupa dengan snapback yang bertengger di kepalaku . Kulajukan mobilku ke rumah sebelah. Lebih tepatnya rumah Shania. Hari ini aku kembali akan mengantarkan nya kuliah. Aku memutuskan untuk ambil cuti karena kepalaku masih pusing mengurusi urusan yang rumit kemarin. Apalagi sekarang prioritas utama ku membutuhkan ku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lensa, Senja, Dan Kita
FanficSelama nafasku masih berdesah Dan jantungku terus memanggil indah namamu kan ku jaga segenap cinta yang ada percayalah satu cintaku untukmu