Status : Republish
Jadwal up date : Setiap Rabu
Genre : Romance
Plot : Plot maju mundur
---o0o---
"Yuhuu Sha!!! Back to earth please...." sentak Marline padaku, ternyata aku melamun terlalu lama, lagi...
Aku mengedarkan mataku dan ternyata cafe sudah sepi, hanya beberapa orang yang tidak aku kenal masih ngobrol.
"eh maaf Line, lagi gak napsu makan nih, dari pagi perut gak enak, udah yuk kita balik kerja lagi" akhirnya aku kembali ke ruanganku tanpa makan apapun hanya minum orange jus tadi, aku memang cari mati, alamat maagku kambuh.
***
Ketukan tangan membuatku menatap pintu yang sudah terbuka, nampak seorang pria dengan perawakan hampir sempurna. Badan yang tinggi, wajahnya tampan, putih, tegap, rambut coklatnya disisir rapi. Laki-laki itu sedang menyenderkan badannya di dinding kubikelku yang lumayan luas dibanding milik yang lain.
"Nona, skip your lunch again huh!" Willy menghampiriku sambil menenteng kue kesukaanku, Willy duduk disamping mejaku duduk di kursi tamu yang kosong, entah kemana dia setelah tadi hingga istirahat.
"You know me so well boss...," Jawabku sambil terkikik, mengambil satu potong kue dan aku makan dengan lahap.
"Seperti orang yang tidak dikasih makan sebulan aja, pelan pelan kunyahnya," kata Willy menatapku geli, sambil menyerahkan tisu padaku.
"Tidak dimakan makananmu tadi?" Katanya lagi.
"Gak nafsu, masih ingat dengan dead line mu ini tuan...." kataku cuek.
Dia Willy, memang atasan di tempatku bekerja. Ternyata perusahaan tempatku magang saat di Inggris adalah perusahaan rekanan dengan milik papa Willy di Jakarta, pantas saja dia menawarkanku lowongan tersebut padahal kami sama sama masih kuliah.
Dan saat kuliahku selesai, dia langsung merekomendasikanku untuk dipindahkan ke Jakarta dan tentunya dengan referensi dari atasanku disana dengan predikat pekerjaan yang memuaskan.
"Kebiasaanmu nih gak hilang-hilang, Sassy." katanya sambil menyuapkanku potongan terakhir dari kue yg dia makan.
"Stop call me sashy, Sir....." ketusku dengan wajah cemberut, dia hanya tertawa lalu berdiri dan kembali ke tempatnya.
Begitulah Willy, datang hanya memastikan aku makan. Huh perhatian sekali dia, tidak seperti room mateku a.k.a suamiku atau sahabatku? aku mendesah, mengumpulkan semangat lagi lalu kembali berkutat dengan pekerjaanku.
Tidak terasa waktu sudah jam 6 sore, pekerjaanku sudah selesai dan sudah ku email ke Willy. Repot ini akan dibahas olehnya besok dengan klien besarnya, makanya aku benar benar fokus, yah walaupun di pekerjaan yang lain aku juga tetap fokus, tapi di proyek dia kali ini aku harus totalitas.
***
Jam menunjuk arah pukul 10 malam, aku menyenderkan badan yang lelah di kursi malas setelah ritual bersih badan sambil menonton National Geographic diruang nonton.
Mengingat ucapan Marline, membuatku termenung. Entahlah sampai kapan pernikahan aneh ini berjalan, karena aku melihat Leon sangat menikmati hidupnya saat ini, membangun bisnis keluarganya, menjalani perannya sebagai Managing Director mewakili ayahnya yang tidak pernah lama disatu tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Serendipity
RomanceWARNING!! First Story, jangan teruskan baca kalau sudah kejang2. *** "Tujuan kita menikah demi orang tua, tapi gw gak akan mengekang lo, begitu juga dengan gw, kita tetap seperti ini, berteman seperti dulu, kita tetap jalani hidup kita masing-masing...
