WARNING!!
First Story, jangan teruskan baca kalau sudah kejang2.
***
"Tujuan kita menikah demi orang tua, tapi gw gak akan mengekang lo, begitu juga dengan gw, kita tetap seperti ini, berteman seperti dulu, kita tetap jalani hidup kita masing-masing...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Proud to announce the babies of Sastranegara's
Dipagi buta jam 03.00 sebuah rumah besar khas spanyol dengan banyak jendela, tiba tiba begitu sibuk, teriakan suara panik membuat siapapun yang mendengar akan cemas.
"Mami, mama, madre.......... " teriak Leon setelah keluar dari kamarnya.
"Mam, Help..... Sasha kesakitan....." teriak Leon panik lalu mengetuk kamar orang tuanya dan orang tua Sasha.
Seketika orang orang yang mendengar teriakan Leon keluar dari kamar masing-masing dan memandang wajah panik Leon. Para wanita masuk ke kamar dan menemukan Sasha sedang meringis sakit.
"Leon, apa yang kamu lakukan pada Sasha!! Sudah mami bilang pelan pelan melakukannya," marah mami kepada Leon, membuat yg mendengar berdehem canggung menahan senyum.
"Mami, aku gak ngapa ngapain, tadi Sasha membangunkanku karena merasa perutnya sakit" ucap Leon sambil mengacak acak rambutnya, wajahnya merah antara malu oleh ucapan ibunda tercintanya. Astaga situasi begini, maminya masih saja menjadikannya bahan ledekan.
"Leon bawa Sasha kerumah sakit, dia sudah mau melahirkan," ucap mama Sasha yang sudah berada disamping Sasha yang meringis menahan sakit.
Dengan sigap Revian dan Willy mengambil kunci mobil, Leon menggendong Sasha yang meringis kesakitan ke kursi penumpang, dan anggota yang lain masuk ke mobil Willy.
"Tenang sayang, sebentar lagi sampai ke rumah sakit," ucap Leon menguatkan Sasha yang menahan sakit di perutnya, semoga jagoan-jagoannya mau menunggu sampai di Rumah Sakit.
Leon berusaha menyembunyikan wajah cemasnya dengan memberikan senyum penyemangat kepada Sasha yang mencengkram kaos Leon kuat-kuat, keringat membanjiri wajah dan tubuh sasha membuat leon bertambah panik
"Revan, tolong dipercepat...," perintah Leon tidak sabar.
"Kamu yang tenang Leon, ajak istrimu mengatur nafasnya," ucap ibu Sasha lembut, memandang Leon sayang. Pemuda yang sudah dari dulu didambanya sebagai pendamping sasha, pemuda yang diam-diam dengan angkuhnya menjaga Sasha dari laki-laki yang ingin mendekati anaknya.
"Iya mah....," ucap Leon menyesal, tangannya mengusap wajah Sasha yang berpeluh, mencium keningnya untuk menguatkan, Sasha tersenyum tipis diantara rasa sakitnya, mengeratkan genggaman tangan mereka, berjuang demi buah hati mereka.
"Atur nafas Sha, bernafaslah secara perlahan agar tidak tegang dan bayinya juga tenang," ucap mama Sasha yang duduk di kursi penumpang samping Revian. Sasha mengangguk dan mengikuti saran ibunya.
"Iya, sebentar lagi sampai kok," tambah Revian, "Kalau kamu lahiran dimobil, biar suamimu nanti yang ganti rugi, jangan khawatir." Sasha tertawa dengan ucapan teriakhir Revian, menatap suaminya yang bahkan tidak bisa senyum, hanya terpaku dengan wajah panik padanya. Sasha meringis lagi saat rasa mulas itu terasa lagi.