Rara tengah merapikan rumahnya dan manaruh toples-toples kue di atas meja yang ada di ruang tengah. Di dapur, Ryo tengah sibuk memasak untuk santapan teman-teman Rara nantinya. Tadi pagi, setelah olahraga rutin dengan resimen, Reza bersepeda dari Korem ke rumah Rara dan mengusilinya pagi-pagi. Beruntung, Ryo ada di sana juga, menjauhkan Rara dari keusilan Reza yang seperti tidak ada habisnya.
Baru setelah Vero menelpon minta dijemput, Reza berangkat menjemput Vero ke bandara. Awalnya Reza hendak menjemputnya dengan sepeda, namun setelah digebuk oleh Rara dengan bantal, pria tersebut sudah kembali mendapatkan akal sehatnya kembali.
Entahlah, Rara pun heran dengan tingkah sahabatnya satu itu. Dibilang bodoh pun faktanya Reza adalah tentara sekaligus insinyur penerbangan.
Pukul 9 pagi, Rara menyambut kedatangan Ajeng beserta Adli. Kedua orang itu dengan kompaknya pagi itu mengenakan kaus berwarna merah maroon. Sekilas mereka berdua memang terlihat seperti adik-kakak daripada sepasang sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama.
Ajeng dan Adli dengan ceria menyambut Ryo lagi pagi itu. Setelah pertemuan mereka sebelumnya di kedai Ryo, Ajeng menyambut Ryo dengan beribu pertanyaan. Pertanyaan yang juga mungkin akan dilimpahkan kepada Ryo nantinya oleh sahabat-sahabatnya yang lain.
"Mas Adli ikut nginep di sini seminggu?" tanya Rara saat mereka sedang berada di ruang tengah.
"Engga, Ra. Gue besok pagi balik ke Solo, soalnya ada operasi siangnya. Jumat depan gue baru balik lagi ke sini. Deket doang lagian ke Solo," jawab Adli. Rara ber-oh-ria mendengar jawabannya.
Ajeng masih kepo dengan Ryo yang dengan sabarnya menjawab ribuan pertanyaan Ajeng.
"Jadi lo sama Rara statusnya apa?" tanya Ajeng. Ryo tampak berpikir. Rara dengan buru-buru menyelamatkan Ryo dari serangan Ajeng.
"Jeng, mendingan lo bantuin gue gih sini gue mau ngisiin fla di éclair buat mereka nanti kalo sampai," ujar Rara. Tau bahwa éclair mampu dengan ampuh mengalihkan perhatian Ajeng.
"Lo bikin éclair? Wah!" Ajeng langsung dengan sumringah mengikuti Rara ke dapurnya. Bersiap untuk bertemu dengan kue favoritnya sedunia itu.
Tak lama berselang Ajeng dan Rara menyiapkan éclair yang baru didinginkan dari kulkas, Rara mendengar pintu rumahnya terbuka. Lalu, yang berikutnya gadis itu dengar adalah suara Reza yang menyambut Adli dan teriakan Reza yang mengatakan bahwa Vero telah tiba.
Reza bergabung bersama Adli setelah mengantar Vero ke dapur untuk bergabung dengan Ajeng dan Rara yang langsung menyambutnya dengan pelukan.
"It's such a long journey, I mean, these 3 months," ucap Vero begitu ia duduk di salah satu kursi meja makan di samping Ajeng yang masih sibuk dengan éclairnya.
Rara mengiyakan sambil tertawa kecil.
"Bener banget," sahut Ajeng kemudian tertawa. Menyadari bahwa dalam tiga bulan terakhir pun banyak berubah dalam hidupnya.
"Yang di duduk di depan bareng Mas Adli itu cowok lo ya, Ra?" tanya Vero lagi.
Rara hanya menoleh kemudian mengangguk sekilas.
"Gila, ya! Gue kemarin chatting sama Astrid terus dia cerita kalau baru balik dari Abu Dhabi. Gila nggak nyangka gue. Gue doang yang tetep gini-gini aja, keknya cuman gue yang single nih," kata Vero seraya tertawa.
"Selow kali, gue juga single," sahut Ajeng dengan santai.
"Oh iya! Ya ampun jadi Farhan sekarang gimana?" tanya Rara akhirnya.
"Di kantor biasa aja, sih. Nggak pernah ngebahas lagi, yang lain juga nggak ada yang ngungkit-ngungkit itu lagi. Professional aja, cuman tau nggak kemarin ada cerita lucu," jawab Ajeng kemudian tertawa geli.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bridesmaid
ChickLitSudah dua tahun terakhir Hanum, Kesha, Ajeng, Astrid, Rara, Vero, dan Alya yang bersahabat sejak SMA tidak pernah bertemu lagi. Hal ini disebabkan oleh kesibukan di puncak karir mereka. Cita-cita yang mereka idamkan telah berhasil mereka raih. Namun...
