Sudah dua tahun terakhir Hanum, Kesha, Ajeng, Astrid, Rara, Vero, dan Alya yang bersahabat sejak SMA tidak pernah bertemu lagi. Hal ini disebabkan oleh kesibukan di puncak karir mereka. Cita-cita yang mereka idamkan telah berhasil mereka raih. Namun...
Ryo dan Rara tengah duduk di teras depan rumah orang tua Rara. Baru selesai makan malam bersama. Sejam yang lalu Ryo menceritakan kepada orang tuanya Rara siapa dirinya, latar belakang keluarganya, semua tentang dirinya.
Satu lagi yang membuat malam itu spesial bagi Rara adalah, Ryo meminta izin orang tuanya Rara untuk menikahi putrinya. Jawaban yang diberikan orang tua Rara pun menyenangkan hati semua orang yang ada di ruangan itu.
Kini, mereka berdua duduk bersisian di atas ayunan bambu yang ada di teras rumah orang tua Rara. Masih saling diam namun terus tersenyum bahagia.
"Reza bilang ke saya-" ucap Ryo namun terhenti karena dipotong oleh Rara.
"Aku," potong Rara kemudian tersenyum. "Reza bilang apa?" tanya Rara.
"Reza bilang ke aku kalau kamu butuh kepastian. Paling tidak memastikan ke kamu perasaan yang aku rasakan, karena dia nggak mau kamu menunggu tanpa kepastian," jawab Ryo.
Rara tertawa, membayangkan bagaimana Reza melakukannya. Dengan tatapan garang kah atau dengan hati-hati. Pilihan pertama sepertinya lebih mungkin terjadi.
"Dia sepertinya sudah menganggap kamu seperti saudaranya," ucap Ryo.
"Karena dulu waktu dia terpaksa putus dengan pacarnya saat SMA, cuma aku yang memberikan dia kepastian secara diam-diam bahwa mantannya baik-baik saja. Bahwa dia juga baik-baik saja," jawab Rara.
"Itu alasan kenapa tadi sore aku dengan gamblang bilang I love you sama kamu. Pertama, aku pengen kamu tau bahwa aku ada apa-apa sama kamu. Nggak cuma sekedar barista yang bikinin kamu kopi tiap pagi, temen main tiap weekend, seriously not like that," ujar Ryo kemudian menoleh ke samping dan memperhatikan lekat-lekat wajah Rara dari samping.
Rara tersenyum tipis, "I never thought about it either," jawab Rara.
"Lalu, malam ini aku mau memastikan ke kamu kita ini apa. Sebelum saya dilempar dari pesawat sama Reza kalau lama-lama gantungin kamu," kata Ryo lagi kemudian tertawa kecil.
Rara tertawa sekaligus terharu dengan tingkah sahabatnya yang sekilas menyebalkan itu namun sebenarnya sangat perhatian dengan dirinya.
"Hello world, she's my fiancé," ucap Ryo sedikit nyaring.
"Didengerin tetangga!" Rara memukul lengan Ryo. Pria itu hanya tertawa riang.
"Kamu cuman nanya sama orang tua ku, kok nggak nanya ke aku mau apa engga nikah sama kamu?" kata Rara. Memancing seringai percaya diri dari Ryo.
Pria itu memasukkan tangannya ke saku celana jinsnya kemudian mengeluarkan sebuah kotak buludru hitam kecil.
Ryo memutar tubuhnya agar benar-benar menyamping menghadap Rara yang masih menatap lurus ke depan sambil tersenyum.
"Hei," ucap Ryo seraya menepuk bahu Rara agar wanita tersebut ikut memutar tubuhnya sehingga mereka dapat duduk berhadapan.
Hal berikutnya yang Ryo dapati dari ekspresi wajah Rara adalah terkejut campur senang. Wanita tersebut menatap Ryo tak percaya dan kilat bahagia terlihat dari tatapan matanya.