Selama Tony dan Laura pergi, Alexander menetap di apartemen Kaneysa untuk menjaga wanita itu dan putrinya. Alexander duduk di sofa ruang tamu dengan ponsel di tangannya. Ia melihat satu persatu e-Mail yang masuk dalam kotak masuk, semua tentang pekerjaan. Ia mulai mengirim e-Mail penting kepada Tony.
"Laura." Panggil Kaneysa, "Laura, cepat ke kamarku." Alexander yang menyadari tidak ada Laura disini, ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Kaneysa Gherald. Saat masuk, Alexander tidak menemukan siapapun di dalam kamar, "Laura, saya di kamar mandi." Alex berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Laura tidak ada. Dia pergi bersama Tony," ucap Alexander. "Alex? Apa yang kamu lakukan? Pergi dari apartemenku,"
"Kamu membutuhkan apa, Kaneysa? Aku akan mengambilnya,"
"Aku membutuhkan kamu untuk pergi dari apartemenku, sekarang." Teriak Kaneysa dari dalam kamar mandi, "Kalau aku pergi, siapa yang akan membantu kamu?"
"Aku bisa melakukannya sendiri,"
"Oke," Alexander tidak keluar dari kamar wanita itu, ia duduk di tempat tidur dan menunggunya keluar.
Bugh.
"Auch!" Alexander menghela nafasnya pelan. I told you, Stubborn. Kaneysa pasti jatuh di kamar mandi, ia mendengar suara kencang dari dalam kamar mandi. Ia bergegas untuk membuka pintunya dan melihat Kaneysa yang terduduk memegangi kakinya kesakitan, "Ayo sudah menawarkan bantuan padamu, bodoh." Kaneysa terkejut saat Alexander membuka pintu kamar mandinya.
"Kenapa kamu masih disini?" Alexander menggendong Kaneysa dan membawa wanita ke tempat tidur, "Mana yang sakit?"
"Pulang sana,"
"Di kaki atau di tangan?"
"Alexander, pulang."
"Di Kaki, ya?"
"Alex!"
"Kaneysa, aku sedang membantu kamu. Bisa berhenti sebentar saja menjadi wanita menyebalkan?"
"Aku menyebalkan? Kamu yang menyebalkan, bodoh." Jawab Kaneysa. Ia sangat kesal melihat Alexander saat ini. "Aku baik-baik saja, minggir Alex." Kaneysa berjalan pelan-pelan, ia berbohong kepada Alex saat mengatakan ia baik-baik saja. Kakinya sangat sakit.
Alexander memperhatikan Kaneysa yang berjalan menuju tumpukan baju yang sudah siapkan oleh Laura. Ia terus memperhatikan Kaneysa, ia khawatir ah maksudnya ia yakin Kaneysa akan jatuh lagi, sampai ia melihat Kaneysa membuka bathrobe dan Alex menatap Kaneysa yang telanjang sekarang. "Kamu menggoda aku, huh?" Tanya Alexander.
Kaneysa memakai dalamannya, ia memang ingin menggoda Alexander Dè Marco. Setelah memakai celana dan branya, Kaneysa berbalik. Sayang sekali, kakinya bergitu sakit dan membuatnya jatuh lagi, "Sial, ini memalukan."
Alexander tertawa, "Ya, kamu adalah penggoda yang bodoh dan memalukan."
"Berhenti mengejekku! Keluar dari kamarku sekarang," Alex menghampiri Kaneysa dan membawa wanita itu duduk di tepi tempat tidur. "Kamu ingin memakai baju yang mana?" Tanyanya, ia menatap baju-baju wanita itu yang cukup banyak.
"Aku bisa memilihnya sendiri, pergi sana," Alex membawa satu setelan dan memperlihatkannya pada Kaneysa, "Oh, sepertinya kamu ingin aku menggoda sekretaris kamu," Kaneysa mengambil baju yang di ikutkan Alex, belum memakainya Alex sudah melemparkan baju itu.
"Jangan harap kamu bisa menggoda pria lain, Kaneysa."
"Terdengar sangat posesif, Alex,"
Alexander mendekati Kaneysa dan mencium wanita itu. Ia membaringkan Kaneysa, membuat ia berada di atas wanita itu. Tangan Kaneysa membuka kancing kemeja Alexander satu persatu. Saat Alexander meremas payudaranya, Kaneysa mendorong Alex dan menamparnya, "Aku tidak akan hamil anak kamu lagi, Alex." Pertama kali mereka bercinta, membuat Kaneysa hamil dengan bayi kembar. Itu tidak akan terjadi lagi.
"Setidaknya baju kali ini cukup masuk akal," Alex melemparkan baju yang ia ambil pada Kaneysa.
...
"Bagaimana kaki kamu?" Pria yang berada di ruang tamu bersama Kaneysa itu membawa beberapa papper bag untuk Kaneysa dan Arabelle, "Sudah lebih baik. Terimakasih, Der." Ucap Kaneysa.
"Om!" Arabelle berlari kearah Derion dan memeluk pria itu, "Om, kemana saja? Apa Om membelikan aku hadiah,"
"Arabelle, that's not nice. He just arrived here," Kaneysa menatap Arabelle yang berada dipelukan Derion.
"It's fine, Key." Derion mengelus rambut Arabelle, "I bought something for you," Derion memberikan beberapa papper bag pada Arabelle yang langsung dibawa Laura ke kamar Arabelle. "Mama memberitahu aku, kalau kamu suka menulis dan menggambar. Aku membelikan beberapa alat tulis dan alat menggambar untuk kamu,"
"Really?" Arabelle menatap Derion dengan mata binarnya, "Tentu saja." Arabelle memeluk Derion. "Kamu harus membuat gambar untukku, ya?" Kata Derion dan Arabelle menyetujui permintaan Derion.
Saat Arabelle sedang bermain dengan Derion, tiba-tiba Candy keluar dan mendekati Arabelle. Anak kucing itu langsung mengeluarkan tubuhnya pada Arabelle, "Kucing? Sejak kapan ada kucing di apartemen, Arabelle?"
Arabelle menggendong kitten dan memeluknya, "Aku meminta kucing pada Papa. Mama jangan marahi Papa, jangan buang Candy juga."
"I won't do that. But we've a deal, Arabelle. No pet here," Arabelle terlihat sedih, ia memeluk Candy yang terus mengeluarkan suaranya.
Derion mengusap punggung Arabelle, "Key, she's just a kid. It's oke to have a pet, maybe she's want have more friends,"
"He's right, Mama. I'm bored being stuck with Laura and you're so busy with your job."
Kaneysa menghela nafasnya, "Oke. Tapi Mama tidak mau apartemen kotor karena kucing kamu dan jangan menambahkan pekerjaan Laura, mengerti?" Arabelle mengangguk semangat.
"Sekarang, ayo kita main lagi!"
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Reach Everything Possible | #GHERALDSERIES
Romance𝗡𝗲𝘄 𝗩𝗲𝗿𝘀𝗶𝗼𝗻 Kaneysa harus terjebak dengan Alexander Dè Marco dalam project perusahaan. Ia melarikan diri karena tidak tahan dengan sikap Alexander yang selalu membuatnya kesal. Tapi, Ia juga melarikan diri dengan membawa anak Alexander D...
