Jaehyun memandang dirinya yang sudah lengkap dengan pakaian rapi tuxedo hitam, dasi dengan warna senada, juga bunga mawar putih sebagai Groom's Boutonniere yang disematkan di dadanya pada cermin besar ruangannya. Yang terlihat sekilas adalah wajah tegang yang menggelikan, ia bahkan sempat menertawakan dirinya sendiri di depan cermin karena tampak sangat jelas kalau dia sedang nervous. Tangannya bergerak ke dada kirinya, merasakan debaran yang jauh lebih gila dari biasanya. Ia lalu menghela napas dalam-dalam berusaha mengontrol dirinya agar lebih tenang, kemudian tersenyum di depan cermin.
It's their D-day.
His day.
Jaehyun berjalan ke sofa yang ada di samping cermin, berusaha duduk dengan tenang padahal hatinya sedang tidak tenang. Bermacam-macam rasa yang tidak bisa ia deskripsikan berkumpul jadi satu di dadanya dari mulai semalam hingga sekarang. Ia mengingat kembali malam sebelum ini dia disidang dulu oleh kedua orang tuanya di rumah. Ayahnya yang biasanya tidak banyak bicara, hari itu banyak mengeluarlan suaranya, menasehati Jaehyun dari bagian A sampai Z tentang bagaimana pertanggung jawaban seorang suami setelah menikah. Juga ibunya yang terus mengomel tentang bagaimana cara memperlakukan istri dengan baik hingga berujung menggodanya, membuat Jaehyun kesusahan untuk tidak tersenyum.
Dan beberapa saat kemudian ibunya masuk ruangannya dan memanggilnya agar segera keluar menemui tamu-tamu di luar. Beberapa tamu dari kolega bisnis ayahnya dan ayah Chaeyeon sudah mulai datang, juga para kerabat keluarganya. Dan tentu saja segerombolan pemuda rusuh teman-teman Jaehyun, juga Dokyeom yang datang sambil menggandeng tangan Yuju. Semuanya turut berbahagia dan memberikan selamat di hari bahagianya.
"Wah, Jae, tidak disangka kau malah mendahukuiku begini," kata Johnny dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
Jaehyun cuma tertawa menanggapi Johnny, sedangkan pemuda lain malah menyahut, "Jae, sedih rasanya aku jadi tidak punya rival buat rebutan gebetan lagi deh."
"Sialan," gumam Jaehyun yang langsung melayangkan sebuah pukulan pelan ke bahu Taeyong. Taeyong dengan mulut tanpa filternya dengan seenaknya bicara begitu di depan orang tuanya. Dan menjadi sebuah hiburan tersendiri diantara teman-temannya yang mengenal Taeyong dengan laki-laki sedingin kulkas.
"Jae, jangan dulu kasih kita keponakan ya. Kau main-main setiap hari tidak apa-apa, tapi jangan gol dulu. Aku belum siap jadi om-om," yang satu ini semakin kurang ajar mulutnya Ten.
Rasanya Jaehyun ingin tertawa juga cursing disaat bersamaan menanggapi mulut-mulut brengsek teman-temannya. Bisa-bisanya mereka begitu di tempat umum seperti ini. Jaehyun kemudian mendorong satu per satu temannya untuk masuk ke ballroom, kalau tidak dihentikan maka mereka akan terus bicara melantur menggodanya.
Tapi entahlah punya teman seperti mereka malah menjadi kebanggaan bagi Jaehyun. Meskipun para laki-laki ini semuanya brengsek dari mulutnya hingga kelakuannya, mereka tidak pernah saling menjatuhkan teman, tidak ada yang saling sakit hati karena bercandaan yang keterlaluan. Yah, itulah mereka semua, Johnny, Taeyong, Winwin, Yuta, dan Ten.
*
*
*
*
Ketika ia mengedarkan pandangannya keseluruh bagian ballroom di dekorasi dengan tema pastel, juga semua orang yang ada di sana untuk memberkatinya, Jaehyun masih tidak percaya. Sekarang ia sudah berdiri di depan altar sendirian, mengunggu pengantin wanitanya datang.
Tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin, juga degup jantungnya yang mulai balapan lagi. Ini tidak semudah yang ia bayangkan, mengontrol perasaannya tidaklah mudah. Beberapa kali ia menoleh ke arah kursi tamu undangan dimana teman-temannya berada, mereka hanya memberikan isyarat 'fighting' kepada Jaehyun. Kemudian ia menoleh ke arah orang tuanya, dan hanya dibalas oleh senyuman berarti oleh ibunya.
Hingga semua mata beralih pada seseorang dengan gaun putih panjang saat pintu terbuka. Jaehyun juga ikut terpesona, ia merasakan dadanya semakin berdegup gila. Chaeyeon yang bersama ayahnya berjalan di tengah ruangan besar itu sukses menjadi pusat perhatian. Gadisnya seperti bidadari hari ini, semuanya sempurna di matanya.
"Jae, jaga baik-baik putriku. Aku percayakan dia padamu sekarang," bisik ayah Chaeyeon padanya sebelum menyerahkan putrinya pada Jaehyun. Ia bisa melihat setitik air mata yang berusaha pria itu tahan agar tidak jatuh di depan Chaeyeon dan Jaehyun.
Tangan ayah Chaeyeon meraih tangan Jaehyun dan memberikan putrinya pada calon suaminya. Jaehyun menerima tangan Chaeyeon saat ayah Chaeyeon mengisyaratkan sebuah anggukan padanya. Semua yang terjadi saat ini akan dia ingat seumur hidupnya, menjadi memori yang punya tempat tersendiri di hatinya. Jaehyun menatap Chaeyeon yang agak sedikit menunduk menyembunyikan wajah cantiknya, dan itu membuat Jaehyun tersenyum. Gadis ini sangat menggemaskan.
Chaeyeon harus mengangkat kepalanya saat mereka harus mengucapkan janji pernikahan mereka. Jaehyun belum melepas genggaman tangannya, malah mengeratkan jemarinya dan Chayeon hanya bisa merasakan aliran hangat dari sana.
"I take you, Chaeyeon Jung, to be my wife. I promise to create and support a family with you, in a household filled with laughter, patience, understanding, and love. I vow not just to grow old together, but to grow together. I will love you faithfully through the difficult and the easy. What may come, I will always be there, each one believing that love never dies. As I have given you my hand to hold, so I give you my life to keep."
Chaeyeon merasakan dadanya semakin bergemuruh keras saat Jaehyun mengucapkan wedding vow. Sorot mata itu, tatapannya yang dalam dan selalu saja sukses menghipnostisnya. Jaehyun yang selalu saja membuatnya terpesona sejak lama, hingga saat ini pun rasanya masih sama. Dia hampir saja kehilangan konsentrasi saat dia harus mengucapkan wedding vow juga kalau saja Jaehyun tidak menyadarkan Chaeyeon dari lamunannya.
"Chae, your wedding vow. Kamu tidak lupa kan?" bisik Jaehyun sambil menahan senyum.
Chaeyeon harus mengucapkan wedding vownya yang entah ia tidak ingin mengingat apa yang dia katakan barusan. Jaehyun lagi-lagi hanya menahan senyum. Laki-laki itu kini sudah meletakkan cincin pengikat mereka di jari manis tangan kiri Chaeyeon setelah Yuju membawakan benda itu pada mereka. Dan Chaeyeon juga harus melakukan hal yang sama.
Tangan Jaehyun meraih tubuh Chaeyeon supaya mendekat. Chaeyeon tahu prosesi apa yang akan dilakukan setelah mereka menyematkan wedding ring pada masing-masing jari. Jaehyun mendekatkan wajahnya pada Chaeyeon, sangat dekat hingga ia bisa melihat dengan sangat jelas betapa sempurnanya Jaehyun dari dekat.
Semuanya terjadi begitu cepat, saat Jaehyun mencium keningnya, lalu turun ke kedua matanya, dan yang terakhir kecupan singkat di bibir Chaeyeon. Chaeyeon yang sedari tadi hanya diam padahal dalam dirinya sudah tidak karuan lagi rasanya seperti apa. Sedangkan yang tersengar di dalam ballroom sekarang adalah riuhnya tepuk tangan dan kehebohan para tamu undangan.
"Tadi itu janjiku padamu, kau bisa pegang itu selamanya," bisiknya lagi pada Chaeyeon.
*
*
*
*
Maafkan yak kalo kurang manis haha saya lagi sedih dan baper sepanjang hari soalnya denial IOI mau disband 😂😂😂
YOU ARE READING
Meant To Be
Fiksi PenggemarNo matter how impossible, unattainable, or unimaginable something may seem, if it's mean to be, it will be. meant to be. destined to exist. fated to be something. © chielicious, 2016
