Chaeyeon melirik ke arah jam dinding yang ada di salah satu sudut ruang tengah apartemen tempat tinggalnya dan Jaehyun. Hampir pukul sepuluh malam dan Jaehyun belum juga pulang. Jaehyun tadi sudah mengirimkan pesan singkat padanya kalau dia tidak bisa pulang tepat waktu untuk makan malam di rumah. Akhir-akhir ini memang Jaehyun sering pulang telat hingga larut malam, dan Chaeyeon selalu menunggunya sampai ketiduran di sofa ruang tengah.
Ini bukan pertama kalinya Jaehyun bilang kalau dia lembur di kantor. Sejak hampir dua minggu yang lalu dia menerima jabatan pengganti ayahnya, setiap hari Jaehyun akan terus bilang kalau dia lembur dan pulang telat. Bahkan saat weekend Jaehyun harus pergi dinas ke luar kota bertemu dengan kolega bisnisnya.
Chaeyeon merasa kesepian sejujurnya. Intensitas bertemu mereka berkurang drastis, meskipun kadang Jaehyun masih memeluknya saat tidur. Perlahan ada yang berubah di dalam kehidupan rumah tangganya.
Chaeyeon masih membaca buku tebal yang ada di tangannya. Menghabiskan waktu berjam-jam menunggu Jaehyun dengan membaca lumayan menyenangkan daripada ia bosan karena memang di rumah ini tidak ada lagi yang bisa ia ajak bicara. Sesekali ia memang menelpon Yuju, tapi itu tidak bisa sering ia lakukan mengingat Yuju adalah sekretaris Jaehyun yang sama sibuknya membantu mengurus pekerjaan Jaehyun di Shinhan.
Chaeyeon mengalihkan pandangannya saat melihat satu notifikasi yang membuat ponselnya bergetar. Ia lalu meraih benda berwarna gold itu dan membuka lockscreennya. Ia kira itu pesan dari Jaehyun, ternyata ada satu pesan dari nomor yang tidak dikenal. Chaeyeon membuka pesan itu, di layar ponselnya sekarang sedang terpampang foto seseorang mirip Jaehyun dari samping bersama seorang wanita di sebuah parking area.
Ini sudah ketiga kalinya Chaeyeon mendapatkan pesan yang seperti ini. Tapi setiap kali ia memblokir nomor pengirim tersebut, akan ada nomor baru yang berbeda masuk ke ponselnya. Chaeyeon sebenarnya tidak mau memikirkan ini, ia percaya Jaehyun tidak akan macam-macam di luar sana tanpa sepengetahuan Chaeyeon. Tapi entah kenapa sms spam ini terus mengganggunya. Kalaupun foto itu adalah bukti, belum tentu hal itu benar.
Sekali lagi ia memblokir nomor pengirim pesan itu. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia merasa khawatir dan sedikit curiga. Chaeyeon buru-buru menepisnya. Ia dan Jaehyun berada dimana hubungan mereka bukan untuk main-main lagi, mereka berada pada tingkat tertinggi hubungan untuk pasangan. Mereka sudah terikat oleh janji mereka pada diri sendiri, kedua orang tua, dan Tuhan. And yeah they need more trust each other until they die for future sake.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, dan menampakkan wajah lelah Jaehyun. Setelah melepas sepatunya, laki-laki itu berjalan ke arah Chaeyeon sambil melepas dasinya asal.
"Kamu belum tidur?" katanya sambil melempar jas dan tas kerjanya pada single sofa di depan televisi ruang tengah.
Chaeyeon menggeleng. Kemudian Jaehyun duduk di sebelah Chaeyeon, membawa wanita itu ke dalam pelukannya dan mendaratkan sebuah kecupan pada kening Chaeyeon.
"Tadi kamu jadi ke Rumah Sakit?" tanya Jaehyun yang dijawab dengan suara lirih istrinya. "Maaf ya, aku batal menemanimu. Besok aku akan menjenguk Papa."
"Kamu pasti banyak pekerjaan ya? Papa sudah lumayan membaik kok meskipun masih harus diobservasi secara ketat dan dicover dengan obat-obatan," jawab Chaeyeon melepas pelukan Jaehyun.
"Ya, ada banyak yang perlu aku benahi di Shinhan jadi ya lumayan sibuk," kali ini Jaehyun menampakkan cengiran lebarnya.
"Jae.."
"Ya?" Jaehyun yang mendapati Chaeyeon hanya memandangnya lama tanpa mengatakan apapun.
Dan Chaeyeon menghentikan kalimatnya, seperti ada yang tertahan di tenggorokannya. Ia ingin menanyakan sesuatu pada Jaehyun, tentang foto spam yang akhir-akhir ini sering ia dapatkan. Tapi Chaeyeon kemudian mengurungkannya setelah ia tidak menemukan sesuatu yang disembunyikan dari mata Jaehyun.
"Tidak apa-apa, kamu mandi dulu, lalu istirahat," Chaeyeon menggeleng pelan, kemudian menarik Jaehyun untuk bangun dari tempat duduknya, dan mendorongnya agar segera pergi ke kamar mandi.
Chaeyeon masih saja belum tidur hingga Jaehyun selesai mandi dan berganti pakaian. Wanita itu masih melanjutkan membaca buku tebalnya di atas tempat tidur. Jaehyun yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pajama dan handuk yang masih menggantung di lehernya menaikkan alisnya melihat Chaeyeon yang masih terjaga. Kemudian dia naik ke atas ranjang, dan duduk di sebelah Chaeyeon.
"Kamu tidak mengantuk? Besok kamu juga harus kerja. Jangan terlalu sering tidur larut, tidak baik," kata Jaehyun menaikkan selimut hingga sebatas perutnya.
Chaeyeon mendecak, "sendirinya juga sering tidur larut, dan memforsir diri sendiri di depan komputer."
Kali ini dibalas dengan tawa kecil Jaehyun, serta tangan besar itu yang sedang mengacak-acak puncak kepala Chaeyeon gemas. Meskipun ia lelah karena pekerjaan kantor yang menumpuk seperti gunung, rasanya pulang ke rumah dan ngobrol dengan Chaeyeon jadi seperti healing time baginya.
"Jae.. "
"Hn?"
"Happy Valentine Day," bisik Chaeyeon. "And Happy Birthday to my Jae."
Jaehyun yang cukup terkejut dengan ucapan Chaeyeon, langsung membawa wanitanya ke dalam pelukannya. Sejujurnya Jaehyun lupa kalau hari ini tanggal empat belas February. Hari Valentine dan hari ulang tahunnya. Dia tahu beberapa hari ini banyak ornamen love berwarna pink dan merah menghiasi beberapa etalase toko dan juga iklan di televisi yang gencar mempromosikan barang untuk Valentine. Tapi entahlah dia terlalu fokus pada pekerjaannya yang jauh lebih penting daripada mengurusi pernak-pernik Valentine seperti anak remaja hingga ia pun lupa kalau ulang tahunnya adalah hari Valentine.
"Maaf ya, aku tidak memberikan kado apapun. Tadi aku sudah akan masak semua makanan kesukaanmu, tapi kamu bilang kalau pulang telat. Akhirnya aku batal masak," jelas Chaeyeon.
Jaehyun mengusap puncak kepala Chaeyeon, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di sana. "It doesn't matter. Aku sudah punya kamu untuk kado ulang tahunku, sayang."
"Besok aku janji akan masak yang enak buat kamu, kamu boleh request apapun."
"Hm, aku boleh request apa aja ya?" Chaeyeon mengangguk. "Sayang, kamu tidak sedang datang bulan kan?"
"Belum tanggalnya, tanggal 20 aku mulai periodku. Kenapa?" Kemudian Chaeyeon menemukan seringai lebar milik Jaehyun sudah terbentuk sempurna di bibirnya. Chaeyeon baru sadar kalau Jaehyun menginginkan sesuatu darinya saat posisinya sudah terkunci oleh tubuh Jaehyun sekarang. Jaehyun yang sudah berada di atasnya, menindih tubuh mungil Chaeyeon di bawahnya. Ia sudah tidak bisa melarikan diri.
"Chae, begadang yuk."
*
*
*
*
duh duh jep padahal tadi ngomel ga boleh begadang wkwkwk
Masih kukasih sedikit yang manis-manis tapi siap-siap kali aja chapter depan Jepri mulai bikin hipertensi karena makin nyinetron wkwkwk
YOU ARE READING
Meant To Be
Fiksi PenggemarNo matter how impossible, unattainable, or unimaginable something may seem, if it's mean to be, it will be. meant to be. destined to exist. fated to be something. © chielicious, 2016
