Seorang Pria di Ujung Senja

220 9 0
                                        

Senja.
Jingganya seringkali digunakan sebagai bingkai penanda akhir dari sebuah cerita.
namun jingganya juga terkadang membuat manusia kembali menuliskan sebuah cerita yang dirajut rasa, cinta.

Seperti cinta kepada seorang pria di ujung sana.
Seorang pria yang selalu berdiri membelakangi senja.

Aku tidak pernah bisa mendeskripsikan seperti apa bentuk rupanya.
Aku tidak pernah bisa menerka sebentuk hati yang selalu di sembunyikan dengan rapat di balik dadanya.
Dan aku tidak pernah mengerti seperti apa gejolak rasa yang berkecamuk di dalam jiwanya ketika mata kami saling bertatap tanpa kata.

Ia tidak pernah mau berjalan bersisian.
Ia selalu maju duluan.
Bukankah manusia di cipta untuk saling berjalan berdampingan?
Tapi ia selalu melaju lebih dulu seperti seseorang yang tidak berperasaan.
Berjalan seolah tanpa mempedulikan.
Berlalu dan lalunya membuat hati ini penasaran.

Apa yang sesungguhnya ia rasakan?
Ayo, berbaliklah dan berikan aku sebuah pernyataan.

Pernyataan tentang sebuah kejujuran perasaan.
Pernyataan yang akan menjawab segala pertanyaan.

Untuk pria di ujung sana,
yang selalu berdiri membelakangi senja.

Berbaliklah dan mari kita bicara.

KataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang