||28||
U n f o r t u n a t e
------
You can't control other people's emotion, you can only hope they are sane enough.
------
Pada jam 12 siang keesokan harinya, peluit kapal berbunyi, tanda kapal sudah sampai di pelabuhan Batam. Anna yang sudah menunggu di atas dek bersama barang bawaannya menatap papan nama yang terpancang.
Pelabuhan Telagapunggur.
Kirstan yang berada di sampingnya tampak gugup. Pasalnya, di sini, mereka akan turun, dan akan meneruskan perjalanan ke Singapura dengan kapal lain. "Bisakah kita lolos?"
Wanita itu meletakkan sebelah tangannya di pundak Kirstan. "Tenanglah, ayah pasti sudah mengurus ini. Jika tak bisa, maka kita harus menjalankan rencana cadangan."
"Apakah kita bahkan mempunyai rencana cadangan?" tanya Kirstan heran.
Anna mengendikkan bahu. "Lencanamu."
Setelah kapal selesai melakukan docking, Kirstan dan Anna bersiap-siap dengan barang bawaan mereka. Mengantri bersama penumpang lain yang akan turun. Banyak dari mereka yang merupakan pedagang, membawa barang dagangan mereka yang akan dijual.
Anna membawa Kirstan menuju beberapa baris kursi, seraya menunggu keberangkatan kapal mereka ke Singapura.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Kirstan.
Pertanyaan Kirstan lagi-lagi dijawab dengan endikan bahu oleh Anna. "Entahlah," desahnya.
Kirstan meremas lututnya. "Kau tidak takut?"
"Entahlah. Sepertinya tidak," jawabnya seadanya. Ia yang memakai celana panjang kain lalu menekuk kakinya di atas kursi. "Bagaimana denganmu?"
Lelaki itu mengangguk. "Cukup takut,"
"Mengapa?"
Angin yang bertiup membuat rambut sebahu Anna bergoyang, sekilas memecah fokus Kirstan, namun cepat-cepat lelaki itu mengalihkan pusat perhatiannya. "Aku harus membawamu, yang merupakan kesalahanku. Tidak seharusnya aku melibatkan orang lain dalam pekerjaan, apalagi merugikannya. Dan aku jadi bertanggung jawab untuk menjagamu."
Penjelasan singkat itu sepertinya membuat Anna marah, sebab tangannya mengepal. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan ini merupakan pilihanku untuk membunuh mereka. Jika aku tidak membunuh mereka, maka aku yang akan dibunuh, dan kau akan dibawa pergi. Entah apa yang akan mereka lakukan padamu. Bagaimana aku bisa membiarkan mereka membawa pergi seorang agen intelijen dari negara lain yang bisa membuat kerusuhan antar negara?"
Ekspresi emosi Anna yang baru pertama kali dilihat oleh Kirstan membuatnya tertegun. Biasanya wanita itu dapat dengan mudah mengontrol emosinya. Entah kenapa ia lepas kendali.
"Maaf."
Anna hanya menatap Kirstan sebentar, lalu beranjak pergi. Meninggalkan barang bawaannya. Lelaki itu bergeming, tak bisa melakukan apa-apa selain tetap duduk dan mengawasi barang mereka agar tidak dicuri orang.
Lelaki itu meraih sakunya, mengeluarkan sebuah lencana yang terbuat dari besi. Ia membiarkan jarinya mengelus permukaannya yang dibentuk dengan rapi. Banyak hal berkelana dalam pikirannya, tetapi ia tak bisa menggenggam bahkan satu saja dari semuanya.
"Sembunyikan itu,"
Kirstan menengadah, menatap Anna yang berdiri menutupinya dari pandangan orang lain. "Jangan keluarkan jika tidak dibutuhkan. Kita tak perlu menarik perhatian," lanjutnya, yang akhirnya ditanggapi oleh lelaki itu dengan memasukkan lencana ke dalam saku dalam jaketnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Atelophobia
Teen FictionMasa lalu Bella terdiri dari luka dan kebohongan. Masa kini Bella terdiri dari penarikan diri dan kebohongan. Ada dua hal yang selalu muncul dalam kehidupannya-kebohongan. Setelah semua itu, siapa yang bisa menjamin kalau masa depan Bella tidak lagi...
