First Date

200 13 3
                                    

“aktingmu tadi sangatlah buruk” mengapa tidak ada hentinya dia berkomentar tentang aktingku tadi.

“aku baru dalam hal ini, jadi tolong dimaklumi saja. Aku akan mencoba lebih baik lagi nanti” aku berusaha menghentikan percakapan ini sejak beberapa menit lalu, namun Harry tidak ada hentinya berbicara.

“sudahlah Harry. Jika kau ingin aktingnya lebih baik, kau harus lebih mengenal satu sama lain dan menghabiskan waktu lebih banyak lagi bersama-sama”

“tentu saja aku tidak ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya. Dia terlihat mengganggu” Harry tidak menyetujui saran dari Liam tadi.

“dia tidak mengganggu. Dia menyenangkan harry, percayalah. Menurutmu mengapa El bisa bersahabat dengannya dalam waktu yang sangat lama jika bukan karena sifat Savanah yang menyenangkan. Ya kan El?” Tanya Zayn kepada El yang sedang menyisir rambutnya didepan kaca.

“ya, kau sangat benar Mr. Malik”

“aku harus permisi”

“kamu mau kemana Harry?” Tanya Louis kepada Harry yang sedang berjalan menuju pintu.

“aku harus mengangkat teleponku, I’ll be back”

Harry’s pov

Kendall meneleponku. Pasti dia sudah melihat interview tadi.

“Harry mengapa kau tega melakukan itu?” suara Kendall terdengar sangat jengkel. Dia memang sangat cemburuan dan kekanak-kanakan, terkadang aku membenci sifatnya itu, tetapi aku tetap mencintainya.

“sorry, baby. Aku harus melakukannya, karena kalau tidak Simon akan murka padaku. Ini juga demi kebaikan hubungan kita”

“apa maksudmu demi kebaikan hubungan kita? Kau telah menyakitiku dengan cara memamerkan kemesraanmu dengannya”

“aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Kau kan tahu aku hanya memiliki 2 pilihan. Berpura-pura berpacaran dengannya, atau kita harus putus”

“aku benci pilihan itu Harry. Aku juga benci padamu” hening, tidak ada suara apapun lagi. Dia sudah memutuskan panggilan ini. Bagaimana bisa dia bilang kalau dia membenciku, sementara aku sedang berkorban demi hubungan ini. Sangat rumit.

Savanah’s pov

Mom sedang menghujaniku dengan pertanyaan2 mengenai hubungaku dan Harry. Bukannya tidak suka atas berita ini, hanya saja dia takut aku merasakan hal yang sama sepertinya saat dad meninggalkannya.

“I’ll be fine, mom. He’s a good guy, don’t worry ok?”

“are you sure?”

“yes, I am. Aku lelah mom, aku ingin istirahat dulu, g’night”

Aku pun beranjak dan meninggalkannya yang masih terduduk disofa ruang tamu.

Aku sedang terbaring di kasurku, doing nothing, saat tiba2 ponselku berbunyi. Nomor tak dikenal. Siapa ini?

“hallo? Who is this?”

“it’s me Harry” Harry? Darimana dia tahu nomer ponselku??

“what do you need?”

“besok kita akan pergi”

“kemana?”

“kau akan tahu besok”

“aku harus sekolah besok”

“jam berapa kau pulang? Dan dimana sekolahmu?”

“jam 3 sore dia, Oxford University”

“baiklah aku kan menjemputmu disana” diapun mematikannya. Tidak sopan, gumamku.

Savanah’s pov

Hidden FeelingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang