Savanah’s pov
Aku tidak percaya kalau sekarang aku sedang berada di Paris. Kota yang terkenal sebagai kota yang romantis. Hebatnya lagi aku mendapat kamar yang jendelanya berhadapan dengan Eiffel Tower, kau bisa bayangkan seberapa indahnya pemandangan itu saat malam hari. Aku satu kamar dengan El dan Perrie. Sedangkan Danielle sedang ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditunda.
“lebih baik kita segera turun kebawah untuk makan malam, aku yakin mereka pasti sudah menunggu” ucap Perrie kepada aku dan El, tapi El masih sibuk memoleskan make up ke wajahnya itu. Aku pun mendekatinya dan mengambil make up tersebut dari tangannya.
“ayo El itu sudah cukup, wajahnyamu sudah sangat cantik dan terlalu cantik untuk ditambah make up sebanyak itu”
“baiklah, tapi tunggu sebentar ya. Aku harus mengambil i-Phone ku yang tertinggal di kamar mandi” El pun berjalan menuju kamar mandi, aku melihat perrie yang sedang menggelengkan kepalanya.
“guys, apa kalian melihat i-Phone ku?” aku dan Perrie pun segera memasuki kamar mandi untuk membantu El yang sepertinya tidak bisa menemukan i-Phonenya.
Setelah hampir 30 menit akhirnya kami menemukan i-Phone El yang berada didalam kopernya. Dia memang sangat pelupa, pasti sekarang The Boys dan yang lainnya sudah menunggu lama. Kami pun segera turun keruang makan. Terlihat mereka yang sedang menunggu kami sambil berbincang-bincang, tapi tidak dengan Harry. Dia terlihat kesal dan bosan.
“nah, itu mereka” ucap Liam saat menyadari kedatangan kami.
“kalian darimana saja? kenapa lama sekali?” tanya zayn kepada kami.
“aku lapar, do you know that?” ucap Niall sambil cemberut.
“maaf, tadi kami…”
“ini pasti karena kau, kau berbuat apalagi Savanah?” kata-kataku dipotong oleh Harry secara tiba-tiba.
“a..aku..aku tidak melakukan apa-apa”
“jangan mengelak, siapa lagi disini yang kerjanya hanya menyusahkan orang” aku pun tertunduk karena enggan menatap Harry dan yang lainnya. Mungkin perkataan Harry benar, aku hanya bisa menyusahkan orang disini dan terlalu manja.
“cukup Harry, itu bukan salah Savanah, tapi aku. Aku meminta mereka untuk mencari i-Phone ku yang hilang”
“ya, El benar. Jadi jangan selalu menyalahkan Savanah” ucap Perrie turut membelaku.
“kalian itu memang selalu membelanya, kapan dia akan menyadari sifatnya yang ceroboh itu”
“sudah..stop. lebih baik kita makan sekarang daripada berdebat, kasihan Niall yang dari tadi terus mengoceh” ucap Louis menengahi Harry, El dan Perrie. Kami pun menghampiri meja bundar yang diatasnya telah tertata berbagai macam hidangan. Aku duduk disebelah Niall dan berhadapan dengan Harry. Aku masih bingung dengan sifat Harry yang benar-benar berubah menjadi mseperti ini. Dia sangat membenciku, bahkan apa saja yang aku lakukan selalu salah dimatanya.
“kau tidak makan, princess” tanya Niall kepadaku.
“oh…ya.. tentu saja aku makan” ucapku sambil tersenyum kepadanya dan mengambil sedikit makan yang berada dimeja.
“hanya sedikit? Apa kau tidak lapar?” tanya Niall lagi, aku hanya menggelangkan kepalaku. Aku melirik kearah Harry yang sedang menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Lalu terdengar suara seseorang yang bernyanyi dari arah panggung kecil diujung ruangan. Ruangan ini memiliki live music nya. Seorang wanita yang menyanyikan lagu ‘only hope’. Semuanya tetap melanjutkan makannya, tapi aku hanya memandangi penyanyi tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Feelings
FanfictionMenjadi kekasih dari seseorang yg diidolakan adalah mimpi Savanah, tetapi bagaimana jika hal itu hanya sebuah sandiwara belaka? Ya, Savanah terlibat kedalam hubungan yg membuatnya merasa senang sekaligus tersakiti. Akankah Savanah terus menjadi pih...