Author’s pov
“jadi sekarang kalian sudah mulai berani bermesraan di depan dunia, huh?” tanya Louis menggoda sepasang kekasih yang berada dihadapannya.
“bukan kalian, Lou, lebih tepatnya lagi adalah Savanah yang sudah mulai berani” ucap Zayn sambil terkekeh. Mereka telah melihat foto Harvanah yang sedang berciuman disebuah restoran kemarin. Akibat foto itu dunia menjadi sangat heboh, banyak fans yang mengeluarkan isi hati mereka di berbagai social media. Ada yang menulis betapa bahagianya mereka melihat Harry yang juga terlihat bahagia bersama Savanah, ada juga yang mengeluhkan tentang betapa sakitnya hati mereka melihat foto itu menyebar, dan ada pula juga yang marah-marah karena tidak suka melihat Harry bermesraan dengan Savanah, entah mungkin mereka membenci Savanah karena menjadi pacar Harry atau memang mereka sekedar cemburu.
“jadi, beritahu kami, Savanah. Hal apa yang telah membuatmu menjadi seperti ini?” tanya Niall kepada Savanah yang masih menyembunyikan wajahnya dibalik rambut panjangnya yang tergerai dengan indah.
“ya, katakana kepada kami, Savanah” tuntut Louis kepada Savanah. Savanah mengangkat kepalanya dan menatap semua orang yang sedang menunggu jawabannya.
“aku tidak tahu. Lagipula, kenapa kalian jadi mengintrogasi aku begini? Seolah-olah aku telah melakukan sesuatu diluar batas kemampuanku sebagai manusia” Savanah menjawab pertanyaan mereka dengan panjang karena sejujurnya dia sedikit jengkel dengan teman-teman satu band Harry yang terus-menerus mengganggunya, bahkan El, Perrie dan Danielle pun inkut menggodanya.
“wow…wow…sepertinya Savanah sudah mulai kesal. Our little cutie baby doll is getting mad, huh?” Louis masih terus menggoda Savanah yang sekarang sudah menyembunyikan dirinya dibalik bahu Harry yang tegap. Harry hanya ikut tertawa mendengarnya. Savanah melirik kearah Harry sedari tadi hanya ikut tersenyum dan terkekeh menanggapi godaan sahabatnya itu. Bukannya apa, tapi Harry memang suka saat Savanah tersipu malu bahkan merasa sedikit kesal seperti sekarang ini, karena menurutnya disaat seperti itulah ekspresi Savanah sangat lucu dan menggemaskan.
“bisakah kau berhenti tersenyum dan terkekeh sementara aku sedang diejek oleh para sahabat jailmu ini? Tidakkah kamu memiliki sedikit hati nurani untuk membantuku dari godaan makhluk-makhluk jail ini?” bukannya berhenti tersenyum tapi Harry malah semakin menjadi-jadi dan membuat Savanah menjadi semakin jengkel. Ini benar-benar membuatnya jengkel.
“ughh…stop it!!!” ucap Savanah setengah teriak. Mereka pun tersentak mendengar teriakan Savanah tadi. Harry langsung memandang wanita yag berada dihadapnnya itu dengan tatapan merasa bersalah. Di atahu seharusnya dia mengehentikan godaan temantemannya terhadap Savanah, bukannya malah ikut tertawa dan menggoda Savanah bersama mereka.
“maaf guys, aku tidak bermaksud untuk berteriak, tapi godaan kalian tadi memang menjengkelkan. Aku melakukan hal yang kalian bicarakan tadi karena memang aku mencintai Harry dan saat itu aku sedang depresi karena memikirkan sesuatu lalu Harry mengucapkan sesuatu yang sangat-sangat menenangkanku jadi tanpa aku sadari aku menciumnya begitu saja tanpa peduli dimana kami sedang berada saat itu” mereka semua menatap Savanah yang tadi menjelaskan semuanya kepada mereka dengan sangat cepat hingga akhirnya Savanah terengah-engah saat selesai berbicara.
“wow, maaf telah membuatmu jengkel, Savanah. sungguh, kami tidak bermaksud melakukannya. Tapi bisakah kamu memberitahu kami (lagi) tentang depersimu itu?” tanya Liam dengan sangat berhati-hati karena di atidak mau menyinggung perasaan Savanah lagi.
“ya, baby. Kamu tidak mengatakan apa-apa kepadaku kalau kemarin kamu dengan depresia atau sebagainya” ucap Harry yang sekarng sudah mulai khawatir, dia takut sesuatu itu dapat mengganggu hidup normal Savanah.
Savanah baru menyadari kalau tadi dia salah berbicara, tanpa sengaja dia mengatakan kepada semuanya kalau dia sedang depresi dan sekarang mereka semua kembali menuntut jawaban Savanah mengenai hal ini. Tidak, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya!!! Bagaimana pun dia tidak mau menjadi beban pikiran sahabat-sahabat dan pacar nya itu.
“Savanah…jawab kami” ucap Niall yang sekarang sudah benar-benar khawatir terhadap Savanah. begitu pula dengan yang lainnya, terutama El yang sudah kenal lama dengan Savanah. Dia tahu persis Savanah itu orang yang seperti apa, dia memiliki perasaan yang sangat halus, suci dan sangat rentan terhadap suatu hal, sehingga dia menjadi mudah sekali terluka. Baru kali ini Savanah menyebutkan kalau dirinya sedang depresi. BARU KALI INI!!!
“bukan apa-apa, guys. Ini hanya tentang tugas-tugas kuliahku yang semakin lama semakin banyak dan sulit untuk dikerjakan dan waktunya pun semakin sedikit untuk mengerjakannya. Jadi itu membuatku depresi karena jika aku ketinggalan satu tugas pun beasiswaku akan terancam ditarik” Savanah sepenuhnya berbohong mengenai tugas-tugas itu, keran memang benar kalau sebagian dari depresinya diakibatkan karen tugas-tugas yang membuatnya sulit berpergian kemana-mana.
“kau yakin?” tanya El masih sangat khwatir terhadap sahabatnya.
“ya, kau sendiri juga tahu mengenai hal ini kan El? Aku sudah menceritakannya kepadamu betapa fristasinya aku dengan tugas-tugas itu” El menghela nafasnya dengan sangat lega, dia baru ingat beberapa hari lalu Savanah memang mengeluhkan tentang tugasnya yang memang 3x lipat dari tugas mahasiswa biasa.
“ya aku ingat” jawab El sambil menganggukan kepalanya lalu dia berjalan kearah Savanah dan memeluknya dengan erat.
“kamu hampir membuatku mati ketakutan karen tadi itu adalah pertama kalinya kamu mengatakan kalau kamu sedang depresi” bisik El ditelinga Savanah. Savanah tersenyum mendengarnya, betapa beruntungnya dia memiliki sahabat sebaik El yang selalu peduli terhadapnya melebihi dia perduli terhadapa dirina sendiri. Perrie dan Danielle pun memutuskan untuk ikut merangkul Savanah dan El jadi mereka menghampiri keduanya dan saling memeluk, tindakan Perrie dan Danielle membuat semuanya ikut memeluk satu sama lain sehingga sekarang mereka sedang terlibat dalam pelukan besar yang sangat hangat, nyaman dan aman.
***
Sementara itu, ditempat lain ada seorang wanita yang semakin geram melihat foto baru yang menampilakn sepasang kekasih yang sedang berciuman disebuah restoran. Dendamnya semakin terasa seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan orang-orang yang berada disekitarnya.
“arrgghhhhh!!!!!!!!!!” teriakannya bergema diseluruh ruangan dan diringi dengan suara-suara ecahan barang yang dia lemparkan dengan kesal kesegala arah.
“I HATE YOU!!!!! I HATE YOU!!!! iii….hate…you…” teriakan yang tadinya sangat kencang dan sangat penuh dengan amarah itu digantikan dengan suara isakan tangis yang semakin lama semakin terdengar. Segala emosi dan amarah yang tadinya timbul telah sirnah seiring dengan datangnya perasaan sakit hati yang teramat sangat dalam dari hatinya yang telah berbekas akibat luka itu.
Dia jatuh terduduk dipojok ruangan yang diterangi dengan cahaya remang, dia memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah cantiknya lalu menangis dengan sangat tersedu-sedu. Air matanya bagaikan jutaan rintik air hujan yang jatuh kebumi tanpa ada jeda meski sedetik pun.
Rasa sakit yang dialaminya terlalu dalam untuk diaraih oleh apapun yang berniat untuk menyembuhkannya. Rasa sakit itu pun terlalu perih hingga membuat segalanya yang dilakukan sepasang keksih itu selalu salah dimata atau pun dihatinya yang terluka.
Hanya ada satu hal yang mungkin bisa membuatnya rasa sakit hati itu menjadi sedikit lebih tidak terasa. Ya, hal itu tetap tidak bisa mengobati rasa sakit hatinya, karena memang tidak ada satupun hal yang dapat mengobati rasa sakit hatinya yang teramat sangat dalam. Meski nyawa wanita itu sekalipun…..

KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Feelings
FanfictionMenjadi kekasih dari seseorang yg diidolakan adalah mimpi Savanah, tetapi bagaimana jika hal itu hanya sebuah sandiwara belaka? Ya, Savanah terlibat kedalam hubungan yg membuatnya merasa senang sekaligus tersakiti. Akankah Savanah terus menjadi pih...