Aku terbangun karena merasa silau. Aku membuka mataku.
Sudah pagi ternyata. Aku melihat ke sekeliling.
Kenapa aku bisa ada disini?
"Selamat pagi Luna," kata seseorang dalam pikiranku.
"Oh Master, selamat pagi juga," balasku.
Sekarang aku mengingatnya.
"Karena kita sekarang satu tubuh, aku akan memberi tahumu namaku. Namaku adalah Tivona, yang memiliki arti pecinta alam. Itu memang betul karena aku yang menjaga alam. Jadi, karena kau sudah mengetahui namaku, panggilah aku dengan nama itu," jelasnya.
"Baiklah. Apa aku boleh memanggilmu Vona?" tanyaku.
"Tentu saja,dan aku juga akan memanggilmu Dee. Seperti teman-temanmu," katanya lagi.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku.
"Aku bisa melihat kenanganmu bersama mereka,"jawabnya.
"Oh," hanya itu yang kukatakan.
Aku tak tahu harus bicara apa lagi dengannya.
Omong-omong, dimana Mark?
"Mark?" panggilku.
"Mark kau dimana?" panggilku lagi.
"Mark!" panggilku.
Dimana dia?
Grr..
Aku menoleh kebelakangku dan mendapati Mark sedang berdiri disana, dalam wujud wolf-nya.
"Mark! Dari mana saja kau? Aku mencarimu, kenapa kau tidak menjawab saat kupanggil?" kataku sambil berjalan untuk memeluknya.
Grr..
Aku berhenti melangkah. Ada serigala lain yang datang.
"Karena dia bukanlah Mark-mu," kata serigala yang baru datang.
Itu suara Mark.
Aku melihat serigala yang kukira Mark. Serigala itu juga berwarna hitam, besarnya pun sama, tapi aku melupakan warna matanya, warnanya biru.
"Ah~ salah wolf," gumamku kemudian segera berlari ke tempat Mark.
Aku sempat tersandung lagi saat berlari. Itu membuatku oleng sedikit. Untungnya aku dekat dengan Mark, dia langsung mendekatkan diri padaku agar aku bisa memegang tubuhnya untuk menyeimbangkan diri.
"Maaf," bisikku di telinganya.
"Bukan salahmu," kata Mark masih menatap serigala itu.
Grr..
Mark tiba-tiba menggeram setelah keheningan selama beberapa saat.
Aku menoleh padanya, kuelus punggungnya.
"Jangan hiraukan dia, lebih baik kita pulang saja," bisikku.
Untunglah Mark mau mendengarkanku, dia langsung menurunkan tubuhnya.
Setelah aku naik dan memeluknya, dia langsung berlari menuju ke mansion.
Setidaknya kami beruntung karena serigala tadi tidak mengikuti kami.
"Serigala tadi, siapa?" tanyaku.
"Dia, Alpha dari pack sebelah," jawab Mark.
"Apakah dia jahat?" tanyaku.
"Dia.. tidak. Tapi aku tak suka caranya menatapmu,"jawab Mark kesal.
"Jadi karena itu kau menggeram tadi?" tanyaku menahan tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
He's Mine
Hombres Lobo"Kau akan apa? Melindunginya? Kau tidak akan bisa melakukan itu bodoh! Untuk saat ini dia akan menjadi pionnya, setelah penyihir itu berhasil mendapatkan kekuatanmu.. Dia.. akan menjadi milikku. Dan kau.. mati!" "T-Tidak.. dia.. tidak a-akan pernah...
