part 24- Back To Pack

6.5K 406 6
                                        

“Berapa lama aku bermeditasi?”
Ketika aku menunjukkan wujud wolf kami, mereka- Ibu, Scarla, dan Mark- langsung mendekat.

Aku mendengar banyak sekali pujian, entah karena warna buluku, sayapku, dan lain sebagainya. Mereka terus-terusan memujiku sampai aku bosan dengan kalimat yang mereka lontarkan, karena intinya sama, hanya kalimat yang berbeda.

“Sekitar tiga jam lebih.”

Kini, aku dan Mark tengah duduk di ruang santai. Ya, hanya kami berdua, tanpa yang lainnya. Mark duduk di sebelahku, salah satu tangannya memainkan rambut coklat kemerahanku, dan tangan yang satunya lagi, memelukku dengan posesif. Dan aku, bersandar di bahunya yang tegap, menikmati setiap sentuhan yang diberikannya padaku.

Aku tak tahu hubungan kami sekarang itu apa. Mark tidak pernah memberiku status sebagai kekasihnya, tapi aku bisa merasakan kalau aku tidak bersamanya dia akan mati karena kehilanganku.

“Apa kau sudah membuat rencana untuk menyerang penyihir itu?” tanyaku memejamkan mata, lelah.

“Belum. Kita harus mengetahui siapa wanita yang datang ke rumah orang tuamu itu,” jawab Mark sambil menarik-narik rambutku dengan lembut.

“Mereka belum mengetahuinya?” tanyaku heran, dari cerita Mark, mereka sangat hebat dalam hal seperti ini.

“Belum, tapi aku tahu mereka akan melakukannya secepat mungkin.”

“Apa bayaran yang mereka minta?” tanyaku penasaran.

“Hm? Mereka menginginkan perlindungan. Pack-ku sudah menaungi organisasi mereka sejak lama, jadi bisa dibilang mereka salah satu sekutu kita karena banyak yang mengincar kekuatan ‘melihat’ mereka.”

Aku membuka mataku, terkejut.

“Benarkah? Lalu, kalau mereka diserang saat mencari tahu wanita itu bagaimana?”

“Itu tidak akan terjadi. Aku memberi mereka jimat jika mereka sedang bekerja di luar wilayahku. Selama mereka memakai jimat itu, mereka akan aman.”

“Oh.”

“Sepertinya mereka sudah menemukannya,” kata Mark tiba-tiba.

“Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanyaku sambil memandangnya heran.

“Tentu saja, insting seorang Alpha sangat tajam,” balasnya sambil tertawa.

Mark segera berdiri dan berlalu ke ruang tamu, aku yang dilanda rasa penasaran akhirnya mengikutinya.

Sesampainya di ruang tamu, aku tidak melihat siapapun. Aku meneliti ruang tamu, mencari keberadaan Mark, sampai aku melihatnya sedang berdiri di pintu utama yang terbuka lebar.

Aku melangkah mendekatinya.
Aku melihat Mark sedang berbicara serius dengan beberapa orang dari organisasi itu. Aku menepuk bahunya dengan pelan, membuatnya menoleh kepadaku dan menatapku bingung.

“Jika masalah serius lebih baik bicarakan di dalam,” kataku padanya yang dibalas anggukan.

Mark mengajak mereka masuk ke ruang tamu dan mempersilakan mereka agar duduk. Tentunya aku duduk tepat di samping Mark.

“Jadi kalian sudah menemukannya?” tanyaku.

“Lebih tepatnya mengenalinya, Luna,” ralat salah satu dari mereka.

“Oh, lalu siapa dia?” tanyaku lagi.

Sejenak aku bisa melihat raut wajah ragu diantara mereka.
“Dia adalah.. Shinta.. Luna,” jawabnya pada akhirnya.

Aku terdiam. Yah, memang tidak mengejutkan, dia pasti sangat terobsesi dengan Mark sampai mau bergabung dengan penyihir itu. Dan, aku heran, Shinta itu.. dia bodoh atau apa? Jika dia bergabung dengan penyihir itu, bukankah Mark akan semakin membencinya? Jalan pikirannya memang sempit.

He's MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang