Debby POV.
Setelah cahaya putih mengelilingi kami, aku tak mengingat apapun yang terjadi setelah itu. Yang aku tahu saat ini aku tidak berada di mansion milik Mark.
“Putri tidur sudah bangun rupanya..”
Aku mendengar sebuah suara yang berat dan dari suaranya saja aku tahu dia jahat.
Aku melihat seorang pria dengan pakaian yang menurutku sudah ketinggalan zaman. Dia berdiri di dekat jendela besar.
Aku berada dalam sebuah kandang. Winston berada di kandang yang lain, tapi dia sepertinya terluka.
Aku berdiri dan mendekati jeruji besi di kandang ini. Aku ingin melihat lebih jelas bagaimana keadaan Winston.
“Kau menghiraukanku?” kata suara itu lagi.
Aku tetap menghiraukannya.
Aku melihat tubuh Winston yang berdarah-darah. Sudah ada banyak luka yang dideritanya, mengapa ia harus mengalami siksaan yang ini juga?
“Aku tak apa, Dee,” rintih Winston.
“Yah, dia memang tidak baik-baik saja,”kata Vona.
“Kau akhirnya muncul Vona, aku merindukanmu.”
Tak ada balasan.
“Kau kesulitan untuk bicara dengan wolfmu si Master itu kan? Yah, disini koneksi untuk werewolf memang sulit. Hahaha,” pria itu tertawa jahat dengan sangat menyeramkan.
“Apa maumu?” tanyaku dengan keras.
“Bukankah sudah jelas? Aku menginginkan kekuatan darimu,” katanya sambil mendekati kandangku.
“Dee, jangan bicara dengannya! Dia bisa memanipulasimu!” Teriak Winston sambil sesekali merintih kesakitan.
Aku mengerti, dia penyihirnya.
“Bukan, aku bukan penyihir. Aku goblin yang membawamu ke sini,” jelasnya.
“Tapi..”
“Tidak hijau, jelek? Aku bisa berubah semauku,” katanya sambil menyentuh besi di kandangku.
Tangannya mulai masuk ke dalam kandangku.
Huh, kesalahan besar bung.
Aku menarik tangannya dengan keras yang mengakibatkan kepalanya terantuk besi dengan sangat keras.
Rasakan itu!
“Sialan kau! Lihat saja,” katanya dan mulai mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti.
“Dee! Buat perlindungan!” teriak Winston.
Hah? Buat apa?
Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang amat sangat di seluruh bagian tubuhku. Seperti di remukkan.
“Goblin sialan. Jangan menyakiti dia, bodoh!” teriak suara yang lain.
Langsung saja rasa sakit itu mulai menghilang secara perlahan, tubuhku penuh keringat karena rasa sakit yang kurasakan.
“Jangan menangis cantik, aku tidak suka melihatmu menangis, si goblin bodoh ini tak tahu apa yang bisa kau lakukan terhadapnya.”
Aku merasakan sentuhan di wajah, secara spontan aku menepisnya.
“Whoaa, aku hanya ingin menghapus air matamu, cantik,” kata orang yang menyentuh wajahku.
Dia mengenakan tudung jubahnya, jadi aku tak bisa melihat wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
He's Mine
Manusia Serigala"Kau akan apa? Melindunginya? Kau tidak akan bisa melakukan itu bodoh! Untuk saat ini dia akan menjadi pionnya, setelah penyihir itu berhasil mendapatkan kekuatanmu.. Dia.. akan menjadi milikku. Dan kau.. mati!" "T-Tidak.. dia.. tidak a-akan pernah...
