part 23- I Got You Back

7.3K 411 5
                                        

Bahuku meluruh ketika mendengar berita itu dari Mark. Jantungku seakan diremas sampai menjadi debu. Oh astaga, kenapa harus orang tuaku yang menerimanya??

“Kau.. itu bohong kan??” tanyaku. Air mataku mulai menggenang.

“Maaf Bee,” lirihnya.

“Ini mimpi buruk! Kenapa mereka bisa mengetahui keberadaan orang tuaku yang bahkan jaraknya saja sangat jauh!”

“Hei tenanglah, kita akan menyusun rencana untuk membebaskan mereka,” tutur Mark padaku yang terus-terusan menangis dan berceloteh.

“Tenang?! Mereka meninggal Mark! Dan semua itu karena aku!” teriakku padanya. Air mata masih saja mengalir deras keluar dari mataku.

“Hei, aku tahu, tapi itu bukan salahmu. Penyihir itu sangat licik, dia akan menggunakan semua cara agar dia mendapatkan kekuatanmu,” kata Mark berusaha menenangkanku.

“Tapi mereka meninggal karena penyihir itu menginginkanku!” teriakku frustasi. Aku meletakkan kedua telapak tanganku di wajah.

“Shh.. aku akan membantumu untuk membalaskan dendammu pada penyihir itu, tapi pertama, kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada wolf mu,” kata Mark sambil menarik tanganku agar dia bisa melihat wajahku yang pasti sangat jelek.

“Tapi Mark, dari mana kau tau.. kalau.. orang tuaku..”

“Aku mengirim beberapa orang yang memiliki kemampuan ‘melihat’ masa lalu ke rumah itu,” kata Mark menggenggam tanganku.

“Oh, mereka.. benar-benar sudah pergi ya?” lirihku.

“Hei.. kau masih memilikiku, jangan bersedih..” kata Mark yang mendekati dan memelukku.

Pelukannya.. sangat nyaman dan menenangkan.. Aku merasakan kehangatan menyelimutiku.

“Terima kasih.. sudah mau bersamaku..” lirihku.

“Aku akan selalu bersamamu..” balasnya.

“Eh?!”

Kami berdua menoleh ke asal suara.

“Ck. Kau mengganggu waktu kami,” kata Mark setelah melepas pelukannya.

Jordan terlihat salah tingkah di dekat pintu.

“Kenapa?” tanya Mark heran melihat tingkahnya.

“Itu.. ada yang ingin bertemu denganmu di ruang tamu,” katanya menyuarakan apa yang ingin dikatakannya sebelumnya.

“Oh, mereka sudah tiba.”

“Siapa?” tanyaku bingung.

“Kau akan tahu. Ayo,” kata Mark menarikku agar berdiri.

“Siapa sih??” tanyaku penasaran.
Kami sampai di ruang tamu. Sudah ada beberapa orang yang duduk di sofa.

“Hei.”

Langsung saja mereka menoleh ke arah kami.

“Luna, aku turut berduka.” Kata-kata itulah yang kudengar pertama kali.

Mark mengeratkan genggaman tangannya. Dia menarikku duduk di sofa yang kosong dan kami duduk bersebelahan.

“Jadi, apa yang kalian dapat?” tanya Mark dengan serius.

“Begini Alpha, seminggu yang lalu, ada seorang wanita yang mendatangi rumah korban..” cerita seorang wanita paruh baya yang duduk tak jauh dariku.

Aku mendengarkan dengan serius. Rupanya, mereka adalah beberapa orang yang dikirim Mark untuk menyelidiki kasus orang tuaku.

“Hm.. lalu sekarang dimana keberadaan wanita itu?” tanya Mark setelah wanita paruh baya itu menyelesaikan ceritanya.

He's MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang