"Kau akan apa? Melindunginya? Kau tidak akan bisa melakukan itu bodoh! Untuk saat ini dia akan menjadi pionnya, setelah penyihir itu berhasil mendapatkan kekuatanmu.. Dia.. akan menjadi milikku. Dan kau.. mati!"
"T-Tidak.. dia.. tidak a-akan pernah...
Setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu, selama sebulan Mark dirudung rindu yang mendalam terhadap matenya. Dia seringkali pergi ke hutan, berkeliling tanpa tujuan yang jelas, berharap bisa bertemu dengannya. Dia selalu melakukan hal yang sama, sampai orang-orang terdekatnya mengingatkan pesan mate nya sebelum pergi.
Mark benar-benar menyesali karena sudah menyanggupi apa pesan matenya itu. Tapi, berhubung matenya ingin dia melakukan itu, maka Mark akan melakukannya.
Kini Pack Goldwings sudah memiliki calon penerus yang baru saja berusia tujuh tahun.
Mark, sudah menikah dengan seorang wanita yang ditentukan oleh ibunya karena Mark tidak mau memilih, baginya semua akan berbeda jika bukan matenya.
Dia itu tentu sudah mengetahui semuanya dan dia menerimanya. Dengan sabar dia meladeni Mark yang terkadang bersikap tak peduli padanya.
"Mommy! Lihatlah!" teriak seorang bocah laki-laki. Dia menunjukkan jarinya yang tengah dihinggapi seekor kupu-kupu berwarna biru dengan semburat keunguan dan bintik jingga dan biru muda.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia mendekati wanita yang dipanggilnya sebutan 'mommy'.
Tapi belum sampai di tempat mommy-nya berdiri, kupu-kupu itu sudah terbang, meninggalkannya. Raut wajahnya yang ceria berubah menjadi sedih.
Wanita yang tadi dipanggil 'mommy' olehnya mendekatinya dan tersenyum.
"Indah sekali. Kau tahu, katanya jika ada seekor kupu-kupu di dekat rumah, maka kita akan kedatangan tamu."
Wajah itu kembali menjadi ceria. "Benarkah? Siapa yang akan datang?" tanyanya semangat.
"Hm.. mommy tidak tahu, tapi, jika kupu-kupu yang cantik seperti ini berarti tamu yang datang cantik atau tampan!" kata wanita itu dengan nada semangat.
"Wah, mommy ayo kita cari tamunya! Dia pasti ada di dekat sini karena mau kemari!" teriaknya sambil menggandeng tangan mommy-nya.
Wanita itu hanya tersenyum, mengikuti keinginan putra kesayangannya.
Bocah itu berjalan tak tentu arah, kadang ke kanan, kadang ke kiri, bahkan mondar-mandir.
"Kenneth, mommy lelah," kata wanita yang sedari tadi digandeng oleh bocah bernama Kenneth.
"Ayolah mommy! Kita harus menemukan tamu kita!" rengeknya.
"Penyusup!!"
Mata wanita itu terbuka lebar. Dia segera menggendong Kenneth yang mulai ketakutan dan akan menangis.
Wanita itu berlari sekuat tenaga kembali ke rumahnya. Berulang kali dia menggumamkan kata-kata untuk menenangkan Kenneth, tapi itu semua tidak berhasil karena Kenneth pada akhirnya menangis dengan keras.