Cocok banget dengerin lagu Hailee sambil baca part ini T_T
***
Kini Vanka sudah babak belur, persis seperti habis tawuran. Wajahnya pucat, rambutnya yang dikepang satu sudah acak-acakan, pipinya lebam kiri-kanan akibat tamparan penuh nafsu, kakinya membiru, keningnya berdarah, dan seragamnya sudah kotor dan kusut tak terbentuk.
"Cukup! Sentuhan terakhir kita mana?" tanya Chyra memandang gengnya. "Ada diluar" ucap Devi meringis, Chyra memutar bola matanya malas. Tanpa diperintah, yang lainnya beranjak keluar untuk mengambil sentuhan terakhir itu.
Mereka datang dengan membawa tiga ember ; ember pertama berisi cairan yang biasanya disisihkan petugas kantin dari sisa-sisa makanan di kantin yang digunakan untuk pakan ternak, ember kedua berisi tepung, dan ember ketiga berisi air bekas pel kantin sekolah. Vanka memandang ketiga ember tersebut dengan pandangan cuma segitu aja? Ntah apa yang ada dipikirannya saat ini.
Satu persatu mereka melempari Vanka dengan telur mentah yang berakhir pecah terkena tubuh Vanka, kemudian menuangkan air bekas pel dan seember tepung padanya, dan terakhir mereka menuangkan cairan sisa makanan kantin ke wajah dan seragam Vanka.
"Ini belum seberapa" ucap Chyra menatap Vanka tajam.
"Sekali lagi gue peringatin, jangan deketin pacar gue! Lexi itu milik gue. Oh ya, soal perihal ini kalo lo bocor kesiapa pun, lo tau akibatnya. Dan lo gak punya bukti untuk itu. So, lo gak berdaya nerd! Bye, bersenang-senanglah dengan bau dan kesepian lo disini, sampai ada orang yang nemuin lo disini" ucap Chyra, kemudian ia dan gengnya pergi meninggalkan Vanka sendiri.
Vanka memandang sekelilingnya, berharap ada benda yang dapat membantunya untuk memutuskan ikatan tali di tangannya. Vanka tersenyum senang melihat meja besi dengan ujung yang runcing tak jauh dari tempatnya berada, tanpa pikir panjang ia bergerak menuju sudut meja besi tersebut.
Dengan susah payah Vanka harus melompat-lompat kecil di kursi yang sudah terikat dengannya, jika dia terlalu cepat dan tinggi melompat bisa-bisa ia jatuh dan tak mungkin bisa berdiri lagi. Akhirnya Vanka sampai pada ujung meja besi itu, kemudian ia mulai menggosok-gosokkan ikatan tali di tangannya. Karna tak bisa melihat kebelakang, tak jarang tangan Vanka ikut terkena sayatan besi tersebut, namun ia tak mau menyerah hanya karna itu saja.
Namun sepertinya butuh waktu cukup lama, karna tali yang mengikatnya begitu tebal, dan tenaganya pun kian melemah. Ia berhenti sejenak beristirahat, ia bisa merasakan darahnya mengalir di pergelangan tangannya karna gesekan dari meja besi tersebut. Vanka meringis perih, ia berdoa dalam hati agar seseorang menyelamatkannya.
Vanka berharap Lexi lah yang menemukannya, ia masih sempat-sempatnya membayangkan wajah Lexi. Ia memejamkan matanya sejenak.
'Apa mencintai lo harus semenderita ini? Atau ini karma?
Gue harap ini cuman ujian kesetiaan gue sama lo, dan gue harap ini gak bakalan berlangsung lama. Kuatkan aku ya Tuhan' ucap Vanka dalam hati.
Brakk!
Vanka membuka matanya terkejut, ia menatap lurus kedepan melihat siapa yang berhasil menemukannya. Tapi kening Vanka berkerut melihat dua gadis tersebut. Sepertinya dia mengenal mereka. Apa ia salah lihat karena benturan tadi?
Cutki dan Kenya berjalan mendekati Vanka. Jangan tanya bagaimana mereka menemukan Vanka, itu karena keberanian Cutki yang melawan ketakutannya untuk memasuki gedung tua ini.
"Ya ampun! Bener kan gue bilang juga apa, ada orang disini. Lo dibully?! " bukannya menjawab pertanyaan Kenya, Vanka hanya diam menatap mereka bergantian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanka
Novela JuvenilSulit dipercaya! Seorang Vanka rela berpenampilan culun atau fake nerd hanya untuk mengejar Lexi-cowok yang telah merebut seluruh perhatian Vanka. Apakah Vanka tahan untuk terus berpura-pura (?) mengingat sifatnya yang biasanya bar-bar. Yang du...
