Bel istirahat berbunyi nyaring tiga menit yang lalu. Namun seolah tak mendengarkannya, Pak Guntur tetap saja masih menjelaskan materinya di depan kelas, membuat beberapa siswa hanya bisa mengeluh karena waktu istirahat mereka yang terpotong.
"Ekhm....Ekhm" Vanka berdehem agak keras, bahkan sesekali pura-pura batuk. Semua tau bahwa Vanka sengaja melakukan itu untuk memberi sindiran pada Pak Guntur bahwa pelajarannya telah usai. Hanya Vanka yang berani seperti itu pada guru galak yang satu itu, tak tau darimana asal keberaniannya.
Pak Guntur akhirnya sadar dan sekilas menatap tidak suka pada Vanka. "Baiklah, materi selanjutnya akan kita lanjutkan minggu depan!" ucap Pak Guntur, sembari membereskan bukunya dan segera keluar. Anak-anak yang lain bersorak lega.
Akhirnya, pikir mereka.
"Kuy kantin-" ucapan Vanka terhenti saat melihat Gio menatapnya, seolah mengatakan -jelaskan sekarang!-.
Vanka menghela napas pelan, "Ntar gue jelasin di kantin, oke? Gue lapar banget, jadi kuy kantin!" Sebelum mereka menghilang dibalik pintu, tanpa sadar ada sepasang mata menatap Vanka dengan tatapan sulit diartikan.
🎬🎥
Usai menjelaskan panjang lebar yang dibantu oleh Dirga, akhirnya Gio pun paham. Ia pun merasa lega mendengarnya, dan kembali ceria. Di lubuk hati Gio, secuil perasaan tidak suka saat mendengar tadi bahwa Vanka dan Dirga berpacaran. Ia menyimpannya sendirian, tak ingin orang lain tahu, apalagi Vanka.
Vanka celingukan melihat seisi kantin, mencari seseorang. Dan sikapnya tak luput dari perhatian Gio dan Dirga.
Dia gak ke kantin?
Apa mungkin Lexi ke kelas Chyra ya? gumam Vanka.
"Lo nyariin siapa sih yam?" akhirnya Dirga bertanya.
"Oh itu-"
"Ya biasalah, siapa lagi kalo bukan Lexi, iya gak yam?" celetuk Gio seraya menatap Vanka dengan menaikkan kedua alisnya. Vanka hanya tersenyum menanggapinya.
Teringat dengan Lexi, Vanka harus segera memastikan sesuatu. Ini sangat penting! Tiba-tiba saja Vanka berdiri, membuat kedua cowok tersebut kaget.
"Uhm..Gue harus pergi duluan ayam-ayamku. Gue ada urusan, buat mastiin sesuatu! Bye!" ucap Vanka langsung meninggalkan mereka berdua dan berlari kecil menjauh.
Gio yang sudah membuka mulut ingin bertanya, menutupnya lagi karena melihat Vanka sudah menjauh.
"Vanka mau kemana sih? Kok buru-buru banget?" akhirnya Dirga bertanya pada Gio. "Ya, mana gue tau!" jawab Gio sambil mengedikkan bahunya, dia benar-benar tidak tahu kemana Vanka akan pergi.
🎬🎥
Fiuh....
Vanka sedikit berjongkok menetralisir rasa sesaknya akibat berlari tadi. Setelah di rasa cukup tenang, ia pun kembali berjalan menuju ruang TU (Tata Usaha).
Sebelum masuk, Vanka mengetuk pintu terlebih dahulu. "Masuk" ucap seseorang dari dalam, membuat Vanka langsung memasuki ruangan tersebut.
Di dalam terdapat 4 meja kerja dengan 2 kursi masing-masing sebagaimana ruangan Tata Usaha semestinya, juga vas bunga kecil di setiap meja dan di belakangnya lemari tinggi dari dinding kiri sampai kanan, yang sudah dipastikan pastilah tempat data-data siswa dan sekolah. Terdapat juga sofa yang tidak terlalu panjang di samping pintu masuk.
Dan disana Vanka mendapati seorang wanita paruh baya sedang sibuk dengan aktivitasnya. Ia melihat tiga meja lainnya kosong, mungkin karena ia datang pada saat jam istirahat pikirnya.
"Permisi bu..mmm.. Bu Suly" ucap Vanka sambil membaca papan nama kecil yang berada di seragam kerja pegawai tersebut, yang bertuliskan Suly Dewi. Wajar saja dia tidak hapal nama-nama para pegawai TU, karena dia bukanlah sekretaris yang setiap harinya ke TU untuk mengambil absen kelas.
"Saya mau nanyak sesuatu nih bu" ucapnya.
Wanita paruh baya itu menghela napas, setiap hari ada saja siswa yang mengganggu pekerjaannya "Sebenarnya saya sedang sibuk, tapi karena pegawai yang lain sedang di luar, baiklah. Ada perlu apa nona cupu?" tanya Bu Suly menghentikan kegiatannya yang memeriksa kertas-kertas dihadapannya, namun beralih memperhatikan nail art-nya.
Dih! Apa-apaan itu?! Nona cupu?! gumam Vanka, memandang tidak percaya wanita paruh baya yang sedang memperhatikan kuku-kuku indahnya itu. Ini penghinaan!
Vanka menahan emosinya. Kalau tidak penting, ia tidak akan mau lagi ke ruangan ini. "Hello nona cupu! apakah anda masih di Bumi?! Cepetan! Mau nanyak apa kamu? Kok malah bengong?" Bu Suly mengibaskan tangannya di depan wajah Vanka, membuatnya menahan amarah kembali.
"Waktu pendaftaran murid baru, biasanya disuruh ngisi data-data pribadi kan, bu?" tanya Vanka memastikan. "Iya betul, kenapa?" tanya wanita itu kini beralih dengan rambut bobnya yang ia cat sedikit pirang di setiap ujungnya.
"Uhm..boleh gak bu, saya liat data-data pribadi punya Chyra?" tanya Vanka pelan sambil menatap Bu Suly.
"Buat apa?! Itu data-data pribadi milik sekolah! Kamu jangan macem-macem deh!" bentak Bu Suly sambil menggebrak mejanya, membuat Vanka terjengit kaget.
"Ah..anu..itu..anu..i-itu bu-"
"Anu, itu, anu, itu ngomong tuh yang jelas!" ucap Bu Suly geram sambil berkacak pinggang.
"Saya-"
"Udah deh! Saya tau kamu cuman mau ngerjain saya aja kan?! Karna saya lebih cantik dari kamu, iya kan? Kamu gak suka kan saya lebih cantik? Tiap hari ada aja yang iri sama kecantikan saya. Heran saya!"
Vanka memandang tak percaya wanita narsis di depannya ini, apa-apaan ini?! Sepertinya Vanka harus memutar otak lebih keras kali ini, untuk menghadapi wanita jadi-jadian ini, karena sudah membuatnya naik darah.
🎥🎬
18 Agustus 2019
Maaf semuanya, aku telat banget! 😥🙏🙏🙏
Makasih semuanya yang udah komen buat nyemangatin sama yang rela dm aku hehehe 😅😅
Makasih udah jadi pembaca setia, liebie 💙💐
Jangan lupa klik BINTANG 🌟👇↙↙di sudut kiri ya!
Jangan lupa share dan komen kalau-kalau kalian suka cerita ini atau mau nyaranin sesuatu, bahkan koreksi kalau ada kesalahan 🤗😋
See u in the next chapter!✌🖐
Ps. Sebenarnya chapter sebelumnya belum tembus 50 Vote sih 😞😭😌 Tapi aku dah gak sabar buat nerbitin hehehe, kasian kan kalian digantungin mulu muehehe 😂😝😳
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanka
Teen FictionSulit dipercaya! Seorang Vanka rela berpenampilan culun atau fake nerd hanya untuk mengejar Lexi-cowok yang telah merebut seluruh perhatian Vanka. Apakah Vanka tahan untuk terus berpura-pura (?) mengingat sifatnya yang biasanya bar-bar. Yang du...
