Bel istirahat berbunyi nyaring, pertanda untuk menyudahi waktu pelajaran untuk sementara. Lexi langsung pergi berjalan meninggalkan kelasnya.
Vanka masih gamang bahwa Lexi sudah putus atau belum.
Vanka bersyukur Lexi segera keluar, sehingga ia dapat meminta penjelasan dari Gio.
"Gimana yo?" tanya Vanka to the point. Gio memperhatikan kelasnya, masih ramai.
"Kita ngobrol di tempat lain aja" Gio memberikan kode pada Vanka dan Dirga.
🎬🎥
Di rooftop sekolah.
"Sebenernya apaan sih yo? Kok harus kesini segala? Emangnya masalahnya pribadi banget apa?" tanya Vanka bingung.
"Van, Lexi udah buta Van!" Gio mengacak kasar rambutnya. Vanka dan Dirga bingung dengan ucapan ambigunya. Buta?
"Buta apaan sih maksud lo? Tadi dia sehat-sehat aja kok" ucap Dirga mengingat kondisi Lexi tadi masih sehat walafiat.
"Bukan itu, dia dibutakan sama cintanya Chyra!" lanjut Gio menatap Vanka.
"Please, lo ngomong jangan setengah-setengah. Kita jadi berasumsi yang aneh-aneh jadinya" Vanka mulai gemas dengan tingkah Gio.
"Jelasin sekarang yo!" ucap Dirga ikutan gemas juga.
"Chyra itu sebenarnya matre! Diam-diam dan tanpa disadari Lexi, dia udah memeras Lexi dengan cara licik. Dan Lexi dengan bodohnya mau aja diporotin sama cewek ular itu!" jelas Gio berapi-api, wajahnya memerah karena kesal.
"Masa sih? Tapi dia keliatannya baik kok, gak matre nampaknya. Salah paham kali lo" ucap Gio sedikit tak percaya. Chyra si cewek primadona sekolah diam-diam mempunyai penyakit matre, sulit dipercaya.
"Gue sih udah tau itu" Vanka mengingat sekilas perdebatannya dengan Chyra sewaktu di cafe kemarin.
"Lo udah tau, tapi lo gak ngasih tau apa-apa sama kita, yam!" Gio tak setuju karena Vanka merahasiakan ini dari mereka.
"Loh? Kok jadi gue yang salah? Inget gak, gue juga pernah bilang sama lo berdua kalo Chyra itu jahat tapi kalian gak percaya? Lo pada pikun ya?"
Gio dan Dirga mengingat-ingat kapan Vanka memberitahukannya. Dirga tersadar lebih dulu. "Iya, Vanka bener. Tapi gue gak nyangka aja, Chyra bakal berbuat kaya gitu".
"Tapi, lo berdua tenang aja. Gue bakalan jauhin Chyra dari Lexi" ucap Vanka mantap.
"Siapa yang jauhin siapa maksud lo?" Vanka menoleh, terkejut mendapati Lexi menatapnya tajam. Begitu juga dengan Dirga dan Gio.
"Ah.. Itu, gue bakalan jauhin Chyra dari lo. Karena Chyra itu jahat" ucap Vanka tak segan-segan.
"Chyra bukan cewek matre. Dia cuman menuhin kebutuhannya sebagai seorang perempuan, dan itu wajar" ucap Lexi membela Chyra.
"Gue gak suka seorang pun menjelek-jelekkan Chyra. Gue balik dulu" Lexi berbalik dan turun meninggalkan mereka.
Vanka tersenyum sakit. Dirga dan Gio menatap Vanka kasihan. "Lo udah liat kan Van. Masih terlalu berharap? Yang ada lo malah dikasihani, bukan dicintai" ucapan Dirga seperti tamparan di siang bolong bagi Vanka. Menusuk, dan sangat tepat sasaran.
"Dirga bener, yam. Lo gak boleh terus ngejar dia, itu akan semakin membuat lo sakit. Lo tinggalkan kebahagiaan lo demi untuk ngejar dia. Tapi apa? Dia gak peduli sama apapun yang lo lakuin. Lo harus bahagia yam" ucap Dirga memegang kedua pundak Vanka, tapi Vanka melepaskannya.
"Kalian gak tau! Dia adalah bahagia gue! Lexi hidup gue! Lexi penyemangat hidup gue! Kalo gue berhenti berjuang untuk cinta gue, itu sama aja melepas kebahagiaan terbesar gue! Kalian gak tau apa-apa!" bentak Vanka emosi, tak setuju jika mereka memaksanya untuk berhenti sekarang.
"Ada kita disini Van! Gue dan Gio sayang sama lo, kita bakal selalu nemenin lo disaat apapun. Lo gak bakal mati kalo lo berhenti berjuang demi cinta yang bertepuk sebelah tangan lo itu!"
"Iya gue emang gak bakal mati kalo gue berhenti, tapi jiwa dan perasaan gue yang bakal mati..." ucap Vanka menunjuk hatinya. Vanka berpikir bahwa tidak ada gunanya berbicara dengan kedua temannya itu, karena mereka akan selalu memojokkan Vanka.
Gio menghela napas dengan kasar, "Sorry, gue gak bermaksud buat matahin semangat lo. Kita sayang sama lo Van, kita cuman mau yang terbaik buat lo. Maaf kata-kata gue nyakitin lo".
Dirga juga angkat bicara karena merasa bersalah, "Gue juga minta maaf yam, gue gak jahat kok. Gue kebawa emosi tadi. Maafin ya? Gue gak maksud bu--".
"Iya, iya, gue tau kok. Gue maafin, tapi gue gak akan maafin kalo kalian nyuruh gue buat berhenti lagi" ucap Vanka tersenyum.
🎬🎥
Vanka duduk di pojok tempat untuk membaca di perpustakaan. Perhatiannya tidak kepada buku di depannya, tapi ia sedang berpikir.
Gio dan Dirga pergi entah kemana, dan Vanka mencuri kesempatan itu untuk berpikir di perpustakaan sekolah.
Gimana pun juga gue harus singkirin Chyra dari Lexi. Chyra gak cocok buat Lexi, tapi gue hehehe...
Atau gue terror aja kali ya, biasanya kan kalo gitu siapapun pasti takut. Ah enggak, gue gak boleh jahat lagi. Vanka memejamkan matanya, frustasi karena tak menemukan jalan ke luarnya.
Gue labrak aja kali ya. Vanka mengembalikan buku yang dipegangnya ke rak terdekat, dan berjalan keluar.
Karena melamun, Vanka tak menyadari seseorang disampingnya. "Woi!"
"Haloo... Ada orang disamping lo Van!"
"Jiahh... Gue dikacangin"
"Ngelamunin apa sih Van?". "Eh" Vanka menoleh, terkejut mendapati Gio sudah ada disampingnya.
"Sejak kapan lo disini?"
"Sejak zaman dinousaurus masih berkeliaran kayak ayam di Bumi, nenek moyang lu masih pakai goa buat tempat tinggalnya, dan sebelum lo lahir ke dunia gue, eh maksud gue ke Bumi. Ya sejak tadilah ayam bego!" ucap Gio kesal, Vanka tak tertawa, ia malah memperbaiki letak kacamatanya yg melorot. Mereka kembali berjalan.
"Lo liat Chyra gak?" tanya Vanka.
"Tadi lagi makan bareng sama Lexi di kantin" ucap Gio santai, Vanka menoleh lagi dan berhenti berjalan.
"Hah?! Tapi kan, mereka u-udah putus. Kok bisa?!!" tanya Vanka histeris mengetahui berita tersebut.
"Gak usah lebay. Mereka balikan lagi. Gue gak tau antara Lexi yang kelewat bego, atau Lexi dipelet sama tuh nenek lampir. Gue juga gak nyangka bisa secepat itu balikannya" jelas Gio jujur.
Vanka menjadi lemas seketika mengetahui fakta sialan tersebut. "Chyra kok beruntung banget sih yo? Gue juga mau dicintai Lexi. Dia udah cantik, pinter, populer, kalem, bisa dapat cinta Lexi, ya kecuali sifat matrenya itu. Tapi liat gue jelek, cupu, bego, ceroboh, dan impossible banget buat gue dapetin cinta Lexi. Hidup gue bener-bener gak adil banget!". Mata Vanka sudak berkaca-kaca, tapi ia masih bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"Dari curhatan lebay lo, gue simpulin lo bakal lakuin yang aneh-aneh" ucap Gio mulai curiga.
"Lo gak mau bunuh diri kan Van? Please jangan lakuin hal bodoh itu!" Gio jadi panik sendiri.
"Hah? Lo pikir gue idiot? Gue bego tapi sorry dory menyorri lah ya, gue gak idiot. Gue gak boleh mati sebelum gue bisa dapetin Lexi" ucap Vanka penuh tekad.
"Lo udah kaya psycopath tau gak?" ucap Gio ngeri mendengar ucapan Vanka barusan.
🎬🎥
KAMU SEDANG MEMBACA
Vanka
Novela JuvenilSulit dipercaya! Seorang Vanka rela berpenampilan culun atau fake nerd hanya untuk mengejar Lexi-cowok yang telah merebut seluruh perhatian Vanka. Apakah Vanka tahan untuk terus berpura-pura (?) mengingat sifatnya yang biasanya bar-bar. Yang du...
