-Sneek peak-
"Vanya"
Vanya berdeham untuk menjawab panggilan Reyhan
"jangan pernah bersedih" kali ini Vanya melepas pelukannya dan menatap Reyhan dengan bibir mengerucutnya
"aku akan sedih jika kau pergi" ucap Vanya membuat Reyhan menahan nafasn...
My Playlist - Violent, Carolesdoughter _____________________
langit terlihat berwarna merah kejinggan seperti meledek kearah Vanya yang masih tersipu pada tindakan laki laki disampingnya, selama perjalan ia hanya diam menatap keluar jendela. Vero membawanya menuju mobilnya tanpa mengeluarkan suara dan tampaknya ia terlihat nyaman di antara kecanggungan yang Vanya rasakan.
"kau ingin aku gendong untuk masuk kedalam" ucap Vero membuat Vanya tersadar dari lamunannya, ia terkejut menyadari mobil Vero sudah di depan pintu rumahnya "okay"
"tidak! Vero!!" Vanya berteriak cepat namun Vero sepertinya sengaja untuk tidak mendengarkanya dan tetap berjalan ke arah pintu tempat Vanya berada "aku tidak mau di gendong, kaki ku tidak keseleo, merah seperti itu memang sering terjadi jika aku memakai heels terlalu lama"
Alis Vero terangkat dan menatap Vanya heran "aku tidak akan menggendong mu"
"what?" kesal Vanya namun seketika ia kembali terkejut saat Vero mengangkatnya "Vero!!!"
"Tutupi kaki mu" ucap Vero saat ia tidak sengaja melihat kaki mulus Vanya karena belahan dress itu yang cukup tinggi. Dengan cepat tangan Vanya pun merapatkan dress nya.
"Vero aku bisa jalan"
"kaki mu terkilir, akan su-" Vanya berhenti menggerak gerakan badannya untuk di lepas dari Vero ketika mendengar suara mobil yang datang. dalam gendongan Vero, Vanya menajamkan matanya untuk melihat ke arah pembawa mobil yang atapnya tidak tertutup itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
matanya membulat seketika Reyhan lah yang datang, keluar dari mobilnya "Vero, bisa lepas ak-Vero!!" kesal Vanya saat Vero berjalan masuk kedalam menghiraukan Reyhan
"What do you think? new couple?" Laki laku berkulit putih asia itu memberikan senyuman meledeknya membuat Vero berhenti berjalan dan terdiam untuk beberapa saat. matanya beradu dengan mata Vanya, hanya sebentar sebelum Vanya memutuskan pandangannya karena teringat kejadian kemarin.
Ugh kenapa ia harus di tempatkan diwaktu canggung seperti ini.
"Dia tidak bisa berjalan" ucap Vero tanpa membalikan badannya, ia terlalu malas untuk melihat musuh bubuyatannya itu
Alis Reyhan mengangkat, senyuman meledeknya menghilang di gantikan tatapan khawatir. Pandangannya pun langsung tertuju ke arah kaki Vanya
"Biar aku yang angkat" Reyhan merebut Vanya dari tangan Vero seakan akan sedang mengambil bayi dan Vero pun sama sekali tidak menolak