Am I Wrong -50- Between Dream, Reality and The Truth

456 23 5
                                        

BAGIAN LIMA PULUH

My Playlist - Line Without Hook by Ricky Mothgary
_________________________

"Vero!" Teriak Natha di barengi dengan pekikan kencang milik Vannesa yang begitu melengking. Bryan segera menarik Vannesa kedalam dekapannya agar Vannesa tidak melihat didepannya.

"Fuck!" umpat Dylan segera menghampiri Vero yang tertusuk pisau di bagian dadanya. Mendengar itu Vanya membuka matanya, ia segera menghampiri Vero dan seketika air matanya kembali mengalir kencang.

"Vero.." Mata Vanya melirik ke arah Jade yang terjatuh karena kakinya tertembak oleh Bodyguard namun ia masih terlihat meringis dan menangis merasakan sakit.

"Brengsek! kali-" Vannesa menutup matanya cepat mendengar suara tembakan lagi. Dari posisinya ia bisa melihat Satria menembakan pistolnya entah kearah mana yang jelas ia tidak bisa lagi mendengar suara Jade.

"Jangan mencabutnya jika kau tidak mau darah mu mengalir seperti air terjun dari badan mu" peringat Satria di saat Vero memegang pisaunya dan berniat mencabutnya. Satria berjalan mendekati Jade yang tergeletak diaspal dengan darah yang mengalir keluar dari tubuhnya, ia menendang pelan Jade untuk memastikannya. Entah mati atau belum, Satria melirik ke arah Bodyguard lainnya yang berjaga dari jauh "Panggil tiga ambulance"

"Apa anda terluka?" Tanya Rangga setelah menghampiri Vanya. Ia menaruh pistolnya di aspal dan segera membuka jasnya untuk memakaikannya pada kedua bahu Vanya. Vanya tidak menjawab ia terlalu sibuk menangisi Vero namun Rangga bisa melihat jika Vanya baik baik saja selain dengkulnya terluka.

"Sakit Ver?" Tanya Dylan sembari meringis.

"Kenapa kau tanyakan hal itu brengsek!" Kesal Vero, dadanya sakit sekali, bahkan jika ia bernafas dan menaikan dadanya ia bisa merasakan nyeri yang begitu hebat dan benda asing di dalam tubuhnya. ia meringis dan melihat ke arah Vanya yang masih menangis. "Jangan menangis"

"Jangan menyuruhku, sial! Kau sedang tertusuk" hanya ucapan singkat dari Vanya yang mampu membuat rasa sakit pada perut Vero menghilang untuk sebentar. "Kenapa kau melakukan itu, Vero?"

Nafas Vero memelan matanya mulai sayup merasakan kantuk yang berat "aku mengantuk"

"Jangan tidur brengsek, tahan kantuk mu! bisa saja Kau berada di dunia yang berbeda jika kau tidur!" Umpat Natha

Vanya beranjak dari Vero menuju Jade yang masih tidak bergerak dari tempatnya, tangan Vanya bergerak untuk menyentuh nadi di lehernya namun ia tidak bisa merasakan denyut nadi Jade "bangun brengsek, kau tidak boleh mati"

"Miss.." Rangga hendak menarik kedua bahu Vanya disaat Vanya membalik badan Jade dan mulai menggoyang goyangkan badan Jade.

"Rangga! Bangunkan dia! Dia harus di penjara, berani beraninya mencekik ku!" Ucap Vanya, Rangga pun melirik kearah Satria lainnya dan mengkodenya untuk mengecek Jade lagi sedangkan ia menarik Vanya menjauh dari Jade.

Rangga segera mengambil Jasnya yang sempat terjatuh karena Vanya bergerak dan memakaikannya lagi dibahu Vanya baru setelah itu tangan Rangga mendongakkan kepala Vanya agar ia bisa mengecek lehernya "apa anda terluka? Bagaimana dengan leher anda?"

Satria melepas Jade, ia bergerak untuk mendekati Vanya yang terduduk menatap Jade untuk mengecek tubuhnya, ia menyingkirkan rambut Vanya untuk mengecek lehernya tanpa berniat untuk menyentuhnya. Satria melirik sekilas Rangga datar. "jangan banyak tanya, dia shock"

"Oh my God"  ucap Madelaine yang baru datang bersama Develyn. "Shit! dead body, what i miss?"

Suara sirine ambulance terdenger begitu kencang ketika mendekat pada parkiran mobil. Tenaga medis segera turun dari ambulance untuk membantu Vero dan Jade masuk kedalam ambulance mereka sedangkan ambulance yang lain mengobati Revi.

Am I Wrong? [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang