tiga

112K 13.2K 1.9K
                                        

Tangan Aga dingin. Keringat mulai
keluar dari pelipisnya. Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya dengan sepelan mungkin. Jantungnya tetap tidak mau diam, bahkan berdetak semakin kencang.

Dia tidak percaya ini!

Kalian tau?!

Gio ada di depannya sekarang! Mereka satu meja! Mereka saling berhadapan! Bahkan, jika Aga mengulurkan tangannya ke depan, ia langsung bisa menyentuh pujaan hatinya itu!

Oh! Aga harus mencatat hari ini di diary nya sebagai hari bersejarah!! Harus!! Eh, tapi dia tidak punya diary. Oh, terserahlah. Catat dimanapun yang dia mau!

Awalnya Aga hanya ingin menghabiskan waktu istirahat kedua dengan tenang di perpustakaan seperti biasa. Duduk di meja paling tepi dekat jendela sehingga dia bisa merasakan angin berhembus pelan. Sendirian. Seperti biasa. Hanya orang kurang kerjaan yang mau menghabiskan waktunya di perpustakaan yang terletak di lantai paling atas sekolah. Naik-turun tangga saja sudah malas, apa lagi masuk ke perpus. Sejauh ini, hanya Aga yang tahan.

Semuanya berjalan lancar. Dia membaca bukunya dengan tenang dan penuh penghayatan. Mengabaikan suara sayup-sayup dari jendela yang menghadap langsung ke lapangan olahraga sekolah mereka. Paling para anak cowok sedang merusuh di sana. Entah main bola, atau hanya sekedar main kejar-kejaran. Tunggu saja, nanti juga ada guru yang menegur.

Aga membalik lembar bukunya. Membaca dengan teliti kata perkata yang dirangkai dengan begitu indah oleh sang penulis. Ah, menyenangkan sekali.

Situasi tenang yang menyenangkan untuk Aga itu terusik seketika saat seseorang menarik kursi yang ada di hadapannya dan duduk di sana. Aga mendongak. Jantungnya berdebar tiba-tiba, membuatnya berpikir apa dia akan terkena serangan jantung tak lama lagi?

Pemuda yang selama ini ia puja, duduk dengan tenang di depannya. Membuka buku paket sosiologi dan mulai mengerjakan sesuatu di buku tugasnya. Bahkan dengan jarak sedekat ini pun, Gio tetap tak meliriknya. Tak memandangnya.

Namun, biarpun begitu, tetap saja dampaknya sangat maha dahsyat untuk Aga. Ini kali kedua mereka bisa sedekat ini sejak pertama kali mereka bertemu. Karena biasanya Aga hanya menatap dari jauh. Tak berani mendekat.

Mencoba untuk tetap tenang, Aga kembali memfokuskan tatapannya ke buku yang tadi ia nikmati itu. Tapi, sekarang, kumpulan kata yang ada di sana malah tampak seperti kerumunan semut di matanya.

Dia tidak mengerti. Banyak kursi kosong di sekeliling mereka, tapi kenapa Gio memilih untuk duduk bersamanya?! Kenapa, Neptunus?! Jelaskan padanya! Jangan buat Aga baper!

Lembaran buku kembali Aga balik.

Apa yang harus dia lakukan?! Apa?! Apa?! Demi Tuhan, dia panik!

Oke, Aga. Tenang. Tarik nafas. Hembuskan. Huft...

Karena Gio sudah sedekat ini, apa yang benar-benar ingin kau lakukan? Mengajaknya berbicara? Berkenalan? Jika iya, ini adalah kesempatannya. Kau harus lakukan itu sekarang. Waktu terbatas.

Tapi, tidak, tidak, tidak.

Aga nggak mau ngelakuinnya. Dia nggak bisa. Dia bakal berharap. Aga nggak mau ngebuat keadaannya makin menyedihkan.

Kalau dia berhasil menyapa Gio, lalu mengajaknya bicara, dia pasti bakal berharap agar bisa menyentuh Gio, lalu berharap agar bisa berteman dengan Gio, agar Gio mengetahui perasaannya, agar Gio memiliki perasaan yang sama, agar mereka menjalin sebuah hubungan!

Damn it!

Aga menyisir rambutnya ke belakang. Niatnya sih ingin mengacak rambut dengan frustasi, tapi itu tidak mungkin. Yang ada image-nya hancur di hadapan Gio. Membuat pemuda itu illfeel padanya.

Brengsek! Kenapa jatuh cinta itu rumit sekali!

'Drrtt!' 'Drrtt!'

Aga melirik. Gio membuka ponselnya sebentar, lalu memasukkannya lagi ke dalam saku celana. Setelah itu, buku paket beserta buku tugasnya ia tutup. Menyusunnya rapi, lalu berdiri dan beranjak dari sana. Meninggalkan Aga. Sendirian. Frustasi.

'Sial! Kenapa gue tadi ngga ngajak dia ngobrol! Aga tolol! Bego! Argh!'

Kesempatan tidak akan datang dua kali dalam sehari, Nak. Nikmatilah rasa frustasimu dan coba lagi besok.

Aga menutup bukunya dengan kesal. Umpatan dalam hatinya belum selesai. Bahkan semakin bervariasi dan berwarna. Seperti bunyi lumba-lumba terlarang yang ada di kartun spongebob. Begitu mengesankan.

Konsentrasinya untuk membaca sudah hilang. Aga memutuskan untuk ikut beranjak keluar dari perpustakaan. Koridor di depan perpustakaan memang sepi. Dia bisa melihat Gio yang baru saja berbelok. Dengan cepat, Aga melangkah membuntutinya. Menempelkan dirinya di dinding di ujung koridor.

"Hei, sayang!"

Lalu mengintip untuk memastikan apa Gio sudah turun tangga atau belum. Sayangnya, itu adalah perbuatan yang salah. Benar-benar salah.

Aga terdiam. Jantungnya berdenyut nyeri. Lebih nyeri dari biasanya. Kenapa? Karena dia melihat bibir cipokable milik Gio yang selalu ia idam-idamkan itu, kini tengah melumat bibir gadis yang memang sedang dikencaninya.

Aga segera mengalihkan tatapannya. Dia tidak akan menangis tentu saja. Dia lelaki. Air mata nggak akan cocok untuknya. Seberapa sakitpun hatinya, dia akan tetap tegar. Bukan, tapi harus tegar.

Begitu ia mendengar suara langkah kaki kedua orang itu mulai menjauh dan menuruni tangga, tubuh Aga luruh begitu saja di lantai. Biarpun dia nggak nangis, tapi seenggaknya dia butuh waktu untuk meredamkan sakit hatinya.
______________________________________

Di sinilah dia sekarang. Dengan segala kegundahan dan sakit hatinya yang masih bersarang. Di dalam kamar Andrew, sahabatnya. Tidak, tidak, dia tidak sedang curhat saat ini. Ada kegiatan yang lebih penting yang sedang ia lakukan. Apa? Tentu saja, melampiaskan emosinya.

Oh, dia tau malam ini adalah jadwal band mereka untuk manggung di restoran langganan mereka seperti biasa, tapi sayangnya dia tidak bisa menunggu hingga malam nanti untuk melampiaskan emosinya. Tidak kali ini.

"Dasar jalang!! Argh! Bitch! Sialan! Babi!"

Seprai kasur Andrew sudah lepas sejak beberapa menit lalu. Aga menariknya dengan buas. Ia melompat-lompat di atas kasur empuk Andrew dengan kesal, lalu menendang-nendang guling yang tak berdosa.

"Bakalan gue santet itu cewek jalang! Anjing! Liat aja nanti!"

Aga masih meraung-raung. Ia mengambil bantal dan memukulnya geram. Menggigitnya, lalu meng-smackdown bantal tersebut seolah-olah dia sedang meng-smackdown pacarnya Gio.

Di ambang pintu, Andrew menyender sambil bersedekap dada. Menatap Aga dalam diam, lalu menghela nafas karena sudah terbiasa melihat sifat bar-bar Aga saat emosinya meluap. Sahabatnya itu langsung memalak kunci apartemennya saat pulang sekolah tadi, lalu pergi ke sini dengan kecepatan penuh menggunakan motor kesayangannya. Membuat Andrew kewalahan saat ingin mengejarnya. Andrew tau, pasti ada sesuatu yang terjadi saat dia lagi nggak ada di sisi Aga tadi siang.

'Asal lo tau aja, Ga. Gue rela tiap minggu ke gereja cuma buat berdo'a semoga si Gio cepat putus dari pacar-pacarnya demi lo.' pikir Andrew.

Yah, seenggaknya dia pengen liat Aga bahagia dengan orang yang dicintainya.

Andrew terkekeh. Dia nggak masalah sama sekali kalo Aga ngeberantakin kamarnya. Soalnya, kalau Aga udah selesai dengan 'kegiatan'nya itu, dia pasti bakalan ngeberesin kamarnya bahkan lebih rapi dari sebelumnya. Lagian, ngeliat Aga yang lagi ngamuk-ngamuk nggak jelas kayak T-rex yang ditinggal kawin itu keliatan lucu di mata Andrew.

"Jangan lupa diberesin lagi ya, Agantosaurus!"

Aga meraung.

SECRET [SELESAI] ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang