dua puluh satu

85.7K 10.4K 891
                                        

Keadaan di dalam mobil itu begitu hening.

Aga sibuk menatap keluar jendela, sementara Gio sibuk memikirkan apa yang harus mereka perbincangkan (sekaligus menahan matanya agar tidak melirik ke 'area terlarang' tubuh Aga).

"Er.. udah sarapan?" tanya Gio.

Aga mengalihkan tatapannya ke arah si pemuda tinggi, lalu menggeleng. Dia lupa sarapan saking kegirangan karena mau kencan sama cowok di sebelahnya ini.

"Oke, kita sarapan dulu kalo gitu. Lo mau sarapan di mana?" tanya Gio lagi.

Aga mengerjap pelan, "Ke Luscious mau?"

Dahi Gio mengerut dan memutar setirnya, "Emang jam segini udah buka?"

"Lo pernah ke sana?" tanya Aga.

Gio mengangguk, "Pernah sekali, sekalian nontonin lo manggung waktu itu."

Wajah Aga memerah. Kapan?! Kenapa dia tidak tau kalau Gio pernah nontonin dia manggung?! Duh, penampilannya sempurna atau tidak saat Gio menontonnya?

Aga berdehem pelan, "Restorannya buka emang dari pagi."

Gio hanya ber-oh-ria. Lalu, keadaan hening kembali.

Telunjuk Gio mengetuk-ngetuk setir yang ia genggam. Mulai memutar otak untuk mencari bahan obrolan baru.

"Habis sarapan lo mau ke mana?" tanyanya.

Aga menaikkan sebelah alisnya, "Lo sendiri mau ke mana? Masa lo yang ngajakin gue kencan, tapi nggak tau mau kencan ke mana?"

Gio meringis, "Bukan gitu. Yah, lo tau sendirilah. Paling gue bakal ngajakin lo jalan ke mall atau ke taman bermain. Tapi itu kayaknya mainstream banget. Hari ini weekend lagi, pasti rame. Dan gue rasa lo nggak bakalan suka."

Aga mengerjap dan membenarkan perkataan Gio dalam hati. Tangannya mulai bersedekap. Berpikir, tempat apa yang sekiranya dia suka, tapi tidak banyak orang yang mau ke sana.

"Keberatan kalo gue maunya ke toko buku?" tanya Aga pelan. Sekalian, dia mau beli beberapa novel baru, dan siapa tau aja kan si Gio mau bayarin. Lumayan, gratis.

Gio mengangguk, "Oke. Ke sana kalo gitu."
__________________________________

Begitu mereka selesai sarapan, mereka kembali melaju menuju toko buku langganan Aga.

Hati Aga berbunga. Bukan, bukan karena mereka akan segera sampai ke toko buku —oke, mungkin itu juga. Tapi, lebih ke karena dia belum mengeluarkan uang sepeserpun. Jadi, dia senang.

Jangan bilang dia matre. Ayolah! Dia anak sebatang kara yang memang butuh uang. Jadi, sebisa mungkin dia akan menghemat pengeluaran, dan hari ini adalah kesempatan emas untuk membeli ini-itu tanpa mengeluarkan uangnya.

Terima kasih, Neptunus.

Dan, Maafkan Aga, Gio.

"Oke.. kita sampai." ujar Gio pelan sambil memarkirkan mobilnya.

Aga turun dengan gembira. Ia mengambil napas dalam. Oh, bahkan dari luar sini dia sudah bisa mencium bau lembaran kertas yang bertumpuk di dalam sana.

Gio tersenyum tipis menatap Aga yang tampak sangat bersemangat.

Lalu, mereka segera masuk ke dalam toko tersebut.

"Uh, surga," bisik Aga pelan begitu melihat rak-rak yang menyapanya dengan menggoda.

Gio tertawa pelan, "Lo beneran suka banget ya sama buku?"

Mereka berjalan masuk lebih dalam.

"Bukan suka, tapi cinta. Gue tergila-gila sama buku," ujar Aga.

SECRET [SELESAI] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang