Akankah kekhwatiran berlanjut, sedangkan hati tak bisa melakukan apapun
*****
"Wah kau curang Naruto!!"
"Ini tidak curang, nyonya! Memang permainannya seperti itu!"
"Tidak! Kau menukarnya, kan!?"
"Tapi memang seharusnya begitu!"
"Itu curang, baka!!"
"Kau tidak percaya? Akan ku datangkan petugasnya!" lelaki itu pergi dan datang bersama seorang pria yang kuketahui adalah petugas game center ini.
"Eh, ada apa, nyonya, tuan?" dia kebingungan.
"Cara memainkan benda ini memang begitu, kan? Kau mengambilnya kemudian menukarnya? Setelahnya begini dan begini kan?" Naruto menampilkan apa yang kami mainkan tadi.
Si petugas mengangguk mantap. "Benar begitu, tuan."
"Nah apa kubilang! Benar kan! Terima kasih, ya!" Naruto mengatakannya dan petugas itu pergi.
"Itu!! Kau pasti membodohiku, kan!?" protesku.
"Kau sudah bodoh, aku tidak perlu membodohimu lagi untuk permainan mudah seperti ini."
"Ck. Dasar."
"Kalau begitu satu ciuman lagi nanti." Wajahnya menjadi mesum.
"Perjanjiannya adalah siapa menang akan ditraktir ramen di warung Ichiraku! Bukan ciuman, sampah!" aku mengingatkan, sekaligus mengumpat.
"Baiklah, calon isteriku. Ayo kita main lagi!" Naruto menarik tanganku pasrah.
Aku memang mencintainya dan senang ia memperlakukanku seperti ini. Tapi aku muak juga! Argh! Dia membuatku senang dan jengkel dari sikapnya!
DEG! Aku merasakan hal itu lagi. Merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan dari salah satu pasang mata.
Apa aku salah? Ya. Bukan hanya sepasang, tapi hatiku merasakan sekitar tiga sampai empat pasang mata menatapku dan Naruto dengan cara yang tidak menyenangkan.
Aku segera menghadang jalan Naruto.
"Eh, Na-Naruto-san, aku tiba-tiba kebelet buang air. Antarkan aku ke toilet ya! Setelah itu kita pulang! Aku merasa tidak enak badan. Gomen, nee?" aku mencari alasan untuk segera pergi dari tempat itu.
Naruto menjadi panik seketika. Dia menempelkan punggung tangannya ke dahiku.
"Kau tidak apa? Maksudnya apa sangat sakit rasanya? Baiklah, kita ke toilet lalu pulang. Ayo!" dia menggandengku dan menuju toilet.
Meski kami sudah bergerak, aku tetap merasaan tatapan itu mengikuti kami. Ada apa sebenarnya?
"Kau selesiakan urusanmu dengan tempat itu! Aku akan menunggu di sini. Kau bisa sendiri, kan?" Naruto sangat panik menghadapiku.
Aku menggenggam tangannya untuk menenangkan. "Aku tidak separah itu, kok. Aku merasa kedinginan saja. Aku takut flu ku kambuh."
Setelah itu aku bergegas ke toilet. Meninggalkan Naruto. Aku benar-benar buang air kecil dan setelahnya segera kembali ke tempat aku dan Naruto berpisah.
Kosong. Tidak ada sosok yang aku cari. Astaga kemana anak itu?
Bagaimana jika pandangan tidak menyenangkan tadi mengincar Naruto!? Bodoh, tidak seharusnya aku meninggalkannya!
TRING! Ada pesan?
From : Naruto Love
Hinata-san, maaf, ya aku pergi duluan. Aku ada urusan mendadak dengan Karin. Kalau kau sakit pulanglah segera, maaf tidak bisa mengantarmu. Itterashai!! Aishiteru.
KAMU SEDANG MEMBACA
May I? [COMPLETED]
Fanfiction[ C O M P L E T E D ] Hyuuga Hinata yang kehilangan cinta pertamanya membuat ia seperti orang lain dalam waktu tertentu. Entah kesialan macam apa yang mempertemukannya dengan manusia yang akan dijodohkan dengannya secara paksa, Toneri Otsutsuki. Pe...
![May I? [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/114045080-64-k784627.jpg)