Orang tua dan hati. Kadang sejalan, lebih sering bertentangan
*****
Kriet...
"Okaerinasai, Hinata-sama."
"Bagaimana hari ini, nona?"
"Anda ingin makan malam di ruang makan atau di kamar?"
"Ingin di siapkan air panas untuk mandi?"
"Nee, arigatou. Cukup baik tapi cukup buruk. Di kamar. Tidak." Aku hanya menjawab pertanyaan dari empat pelayan keluargaku dengan singkat dan langsung ke kamar.
Aku melewati ruang tamu tanpa rasa canggung, bahkan aku melirikpun tidak, tapi Tou-san memanggilku.
"Hinata! Kemarilah, ada Toneri-san!" suruhnya.
"Bukan urusanku. Aku lelah latihan hari ini, jadi Oyasuminasai, Tou-san." Aku menghampiri tou-san dan mencium pipi kanannya. Setelah itu, aku segera ke kamar sebelum banyak perintah dari mulut Tou-san.
Tapi hal itu sia-sia. Aku tidak bisa ke kamar.
"Saya mohon, duduklah di kursi sebelah Hiashi-sama, Hinata-sama." Seru lelaki bermata lavender berambut coklat dikuncir bagian ujungnya.
"Nii, kau tahu rasanya, kan? Let me go!" rengekku.
"I'm sorry I can't." Seru dingin Neji nii. aku tahu itu tidak akan dapat membujuk nii. Neji nii menarik tanganku dan mendudukkanku perlahan di kursi sebelah tou-san.
"Hah! Mendokusai!" aku menghembuskan nafas kasar. Terkadang aku menyukai kata-kata andalan dari klan Nara itu.
"Jaga sopan santunmu! Membungkuklah menyambut Tenori-san dan kedua orang tuanya." Interupsi tou-san yang memukul pahaku.
Aku mendecak. "Argh! Haik, tou-sama!"
Aku berdiri dan membungkuk. "Okaerinasai, Kirishima-sama, Kensaki-sama. Maaf atas kelancanganku tadi." Aku berdiri tegak dan mereka hanya tersenyum maklum. Kemudian aku duduk.
"Lakukan juga pada Tenori-san!" suruh tou-san lagi.
"Tapi kami seumuran!"
"Lakukan!!" perintah dari Tou-san tidak bisa diganggu gugat. Aku tidak bisa menolak. Aku kembali membungkuk.
"Maafkan ketidak sopananku, Tenori-san." Tanpa memperdulikan tanggapan yang ada aku duduk dan memalingkan wajah.
"Kau akan berubah begitu menikah denganku, Hinata-san. Aku mengerti itu." Ucap Tenori dari tempat duduknya.
"APA!? KAU GILA!? AKU TIDAK AKAN MENIKAH DENGANMU!" amukku seketika. Bagaimana bisa dia memutuskan aku sebagai isterinya, hah!
Aku merasa semua orang termasuk para pelayan kami menatapku bingung. Kalian tahu aku bukan gadis yang lemah lembut seperti jaman SMP dan SMU. Aku yang menghendaki perubahan sifat ini.
"Tapi, tanggal pernikahan sudah ditentukan, Hinata-san. Tanggal 15 dua bulan lagi. Tepat saat bulan purnama." Ujar Kirishima-sama, Ibu Tenori yang memiliki mata biru muda yang indah. Kami menyebutnya Tenseigan.
"A---!!!" aku tidak bisa melanjutkannya karena kata-kataku terhenti di tenggorokanku. Aku merasa dadaku sesak dan banyak sekali kata-kata kasar yang ingin ucapkan.
HOLLY SHIT!! "Bagaimana kalian memutuskannya!? Aku bahkan tidak tahu masalah itu! Aku hanya tahu aku sudah dijodohkan dan aku selalu menolak! Kenapa kalian terus mendesakku!!"
Akhirnya, kata-kata yang selama ini aku pendam bisa ku keluarkan. Rasanya cukup lega.
"Hentikan, Hinata!!" bentak tou-san.
KAMU SEDANG MEMBACA
May I? [COMPLETED]
Fiksi Penggemar[ C O M P L E T E D ] Hyuuga Hinata yang kehilangan cinta pertamanya membuat ia seperti orang lain dalam waktu tertentu. Entah kesialan macam apa yang mempertemukannya dengan manusia yang akan dijodohkan dengannya secara paksa, Toneri Otsutsuki. Pe...
![May I? [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/114045080-64-k784627.jpg)