7

3.3K 144 0
                                        

Comment jika ada typo, supaya langsung di revisi

Tujuh.

"Rasanya sulit sekali untuk menggenggam mu seutuhnya, seakan rasa sayang ku tak berarti apa-apa"-Naysa Lavinia Putri.

***

Ketika memasuki kelas andra langsung menatap daniel tajam.

"Bosen idup lo.",sungutnya.

"Kenapa nih, pagi-pagi udah gini amat"

"Udah berapa kali gue ngomong ke lo, jangan sekali-kali lo kasih nomor gue ke neysa, apa susahnya sih berbuat baik ke gue"

"Ck. Lo ngomong gitu berasa gue jahat banget ndra, tadi lo bilang apa susahnya? Ya jelas susah lah kalo si neysa nyumpahin gue jomblo seumur hidup, sampe tua nggak punya istri, kan ngeri gue nggak bisa ngerasain"

Andra langsung menjitak kepala daniel"Fikiran lo kemana-mana"

"Lo kali, gue kan nggak bilang ke arah begituan",sahutnya tidak terima.

"Secara nggak langsung, omongan lo tadi itu menjerumus ke arah begituan niel"

"Tau ah, sorry bro kalo gue ngasih ke neysa"

Andra menghela nafas panjang.

"Udah ayo ke lapangan, bentar lagi pak bambang pasti udah ngebarisin anak-anak",ajak daniel.

Mata pelajaran hari ini yaitu olahraga, dimana berbarengan dengan kelas neysa.

***

Beberapa bulan yang akan datang siswa kelas XII sudah disibukkan dengan ujian-ujian yang akan mengantarkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Semakin dekat dengan UNBK, maka semakin dekat pula andra akan sekolah bisnis manajemen di luar negri, sesuai dengan keinginan papahnya.

Andra menepis jauh-jauh cita-citanya menjadi pilot yang pastinya tidak akan pernah tercapai karena ayahnya.

Andra berjalan menuju ke lapangan berdampingan dengan daniel.

Setelah sampai di lapangan, mata andra melirik ke arah kelas ipa 2, lebih tepatnya melirik ke arah neysa yang sedang memant-mantulkan bola basket dengan sangat bahagia.

Andra mengalihkan perhatiannya dari neysa karena peluit pak bambang yang terdengar nyaring, mereka semua disuruh lari keliling lapangan untuk pemanasan.

Lagi-lagi pandangan andra jatuh pada neysa yang sedang mendrible bola basket. Namun tiba-tiba andra melihat dengan mata kepalanya sendiri, rindi dengan sengaja meluruskan kakinya ketika neysa mendrible bola lewat di depannya.

Brukkkk

Banyak teman kelas neysa yang meneriaki namanya.

Neysa terjatuh, andra langsung menghampiri neysa dan melihat dengkul,sikut neysa yang mengekuarkan darah. Andra tak memperdulikan pak bambang.

"Kalo nggak bisa main basket, nggak usah main",sinis andra, padahal jelas-jelas tadi dia melihat dengan mata kepalanya rindi yang sengaja melakukannya.

"Neysa bisa main basket, cuma tadi neysa nggak hati-hati, andra",ujarnya, andra tertegun mendengar jawaban neysa, padahal yang melakukan ialah rindi.

Certainty[On Going] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang