Mikirin kemungkinan-kemungkinan itu bikin kepala gue jadi tambah pusing. Ah.. kenapa juga sih semua itu harus terjadi di antara gue sama Leo dan kenapa juga Nadin yang jadi korban? Kenapa?!
“Zer, besok lusa tim basket kita bakalan tanding di SMA 790,” ucap Al sembari menepuk bahu Zero sehingga membuat cowok itu tersadar dari lamunannya.
“Hh? Apa?”
“Ck, lo denger gue nggak sih tadi? Lusa kita tanding basket di SMA 790. Kita harus menang pokoknya,” ulang Al lebih bersemangat.
SMA 790? Itu bukannya?
●●●
“SMA 731?!” Zarina tersentak, ia hampir saja memuntahkan bakso yang ada di dalam mulutnya.
Sahabatnya, Gina yang baru saja memberitahukan info itu mengangguk.
“Iya Zar, lo kenapa si?! Nih minum dulu.” Gina memberikan segelas es jeruk pada Zarina dan diteguknya minuman itu dengan cepat.
“Seriusan lawannya SMA 731?!” tanya Zarina meyakinkan.
“Iya elah lo,” jawab Gina lagi.
“Wah.. nggak beres nih,” lirih Zarina.
Kalian pasti bisa menebaknya bukan? Ya.. sekolah Zero akan tanding di sekolahan Zarina itu artinya Zarina sebagai tuan rumah akan menyambut tim lawan basket milik Zero. Wow!!!
“Lo kenapa nggak cerita sama gue kalo sekolahan lo bakal lawan sekolahan gue?!” sergap Zarina ketika mereka sampai rumah.
“Dan lo nggak pernah cerita sama gue kalo sekolahan lo jadi tuan rumah dalam pertandingan basket ini?!” Zero tak kalah geramnya. Mereka sama-sama bersihadap, menatap satu sama lain dengan sorotan mata tajam.
“Ya mana gue tau!” teriak Zarina.
“Mana gue tau juga kalo gitu!” setelah berteriak demikian Zero berlalu dari hadapan kembarannya.
“Heh! Zero! Gue belom selesai ngomong!” Zarina mengejar Zero yang sudah menaiki tangga.
“Apaan sih?!” tanya Zero tanpa menoleh atau pun menghentikan langkahnya.
“Zero!” dapat, Zarina dapat menahan tangan kembarannya itu sehingga Zero berhenti berjalan. “Kita harus buat strategi,” lanjutnya.
“Strategi? Maksud lo?” dengan segera Zero membalikkan badannya, menatap kembarannya yang berada satu tangga di bawahnya.
“Gue nggak mau siapa pun tau lo abang gue! Gue nggak mau ada yang tau kita kembar!”
“Kenapa?” tanya Zero.
“Egh, ya.. gue nggak mau aja! Jadi selama pertandingan ini masih berlangsung anggep aja kita nggak kenal—”
“Gue nggak setuju! Maksud lo apaan si Ze buat kayak begituan?! Lo nggak mau anggep sodara lo sendiri? Kalo gitu ngapain kemaren lo nangis-nangis takut gue mati?!” tukas Zero geram. Ia amat geram dengan jalan pikiran cewek apalagi kembarannya ini.
“Za, bukan gitu.. maksud gue—”
“Oh.. gue tau! Lo nggak mau anggep gue kembaran lo karena lo mau anggep gue pacar bahkan tunangan lo di depan temen-temen lo? Iya? Ck, gampang itu.” Zero tersenyum puas.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY TWIN [SUDAH TERBIT]
Teen FictionSaudara kembar? Bagi seseorang yang mendengar itu pasti yang ada dibenak mereka, Keren! Wow! Seru! Tapi menurut gue? Nggak sama sekali! Karena gue saat ini merasakannya. Nama gue Zarina Putri Permata Adi dan gue punya kembaran, Zero Putra Pratama Ad...
![MY TWIN [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/91945605-64-k557166.jpg)