Part 9

6.5K 367 10
                                        

"Bun, besok kita ijin nggak masuk sekolah ya?" melas Zarina.

"Nggak bisa! Orang cuma lecet begitu juga!"

"Tapi.. tapi motorku rusak." Zero ikut memelas.

"Trus minta dibeliin yang baru?" ayah ikut menyela. Zero segera mengangguk dengan sumringah.

Malam ini kedua anak kembar Adi Pratama sedang memohon mohon agar diberi ijin untuk tidak masuk sekolah dengan alasan kecelakaan sore tadi. Ah.. itu sih cuma akal-akalan mereka saja, padahal mereka cuma mau bolos, bener-bener bocah!

"Besok kalian naik angkot!"

"Haa?!" saudara kembar itu melongo tak percaya kemudian segera saling tatap.

Naik angkot?

Ogah gue!

"Kenapa?" tanya sang bunda yang heran melihat tingkah laku anak kembarnya.

"Duh.. Bun, masa angkot sih?" ucap Zero.

"Aah, bereng Ayah aja deh."

"Tempat kerja Ayah kan berlawanan arah sama sekolah kalian," jawab ayah yang masih santai dengan korannya.

"Ya Ayah anterin kita dulu." Zarina mengedip-ngedipkan matanya sok manis.

"Ish, nanti Ayah bisa telat! Udah kalian besok naik angkot!" sang bunda mengambil keputusan.

Saudara kembar itu menghela napas pasrah. Bukan apa-apa, mereka tidak mau naik angkot bukan karena gengsi atau sebagainya hanya saja mereka punya pengalaman buruk saat pertama naik angkot.

Dimana mereka baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama dengan segala atribut keperluan MOS. Mereka menggunakan segala pernak-pernik yang sumpah alay banget.

"Za, gue malu nih," ucap Zarina kala itu yang sibuk mengikat rambutnya menurut tanggal lahir, 20. Gila nggak tuh?!

"Udah cuek aja," jawab Zero santai.

"Ya elo enak karena lo nggak ngerasain apa yang gue rasain! Apes!"

Dan sialnya mereka harus naik angkutan umum karena mereka belum diberi ijin membawa kendaraan sendiri, belum lagi sang ayah yang bekerja di luar kota.

Sesampainya di dalam angkot, keduanya bungkam, apalagi Zarina, gadis itu terus menundukkan kepalanya.

Sesampainya mereka di depan sekolah baru, Zarina langsung bergegas turun dari angkot dengan menarik tangan kembarannya namun Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada keduanya. Zarina terjungkal ke depan saat turun dari angkot dan sialnya Zero ikut tertarik ke depan karena Zarina menariknya. Lalu apa jadinya? Ini sungguh memalukan!

Mereka terjatuh dengan posisi Zero menindihi tubuh kembarannya. Semua mata tertuju pada mereka dan mulai mengeluarkan tawanya.

Malu gue!

"Hei, kalian kenapa?" saudara kembar itu tersadar ketika sang bunda melambaikan tangannya di depan wajah mereka.

"Em? Gimana Bun?" tanya keduanya berbarengan.

"Kalian ngelamunin apaan sih? Kok barengan gitu?"

Keduanya segera menoleh, menatap kembarannya dari sorot mata.

Lo inget Za?, batin Zarina.

Lo inget Ze?, batin Zero.

Detik berikutnya mereka tertawa terbahak-bahak. Sedangkan ayah dan bundanya menatap keduannya heran. Kenapa mereka malah tertawa padahal tadi memohon-mohon buat bolos dan menolak naik angkot.

MY TWIN [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang