BAB 2

781 88 5
                                        


CINTA POV

Kegiatan ku dalam setiap harinya dari senin hingga Jumat, adalah mengurus resort. Mengawasi resort, perkembangannya dan juga mengatasi masalah-masalah yang sengaja atau tidak sengaja di timbulkan oleh beberapa karyawanku. Aku mengurus resort ini, tidak lama baru berjalan 3 tahun di hitung sejak aku lulus perguruan tinggi jurusan management bisnis.

Usaha resort ini merupakan usaha keluarga yang sudah didirikan oleh almarhum kakekku beberapa tahun silam, yang kemudian di wariskan secára turun-temurun, dari Ayah hingga aku saat ini. Sejak awal aku memang bertekad untuk meneruskan usaha kelurgaku, selain karena aku menyukai pekerjaan itu, juga karena aku adalah anak tunggal Ayahku. Kalau orang bilang, aku anak semata wayangnya.

Sejak kecil, Ajik mendidikku untuk hidup mandiri. Hal itu dia lakukan karena aku tidak memiliki seorang ibu. Biang-ibu meninggal pasca melahirkanku karena ada masalah internal yang tidak aku mengerti. Sejak itulah aku di besarkan oleh seorang Ayah dan nenekku di bali ini, kota kelahiranku.

Nenekku mendidiku dengan kelas dan disiplin yang tinggi. Beliau memintaku untuk mempelajari budaya bali, mulai dari tari-tarian hingga lagu-lagu keagamaan, beliau juga sering menasehatiku..

"Yen dadi nak bajang, irage mangde menjaga dan melestarikan budaya sendiri. Ampunan, merike-meriki nu'utin budaya anak len. " ucapnya dengan logat bali yang kental

(Kalau jadi anak muda,kita harus menjaga dan melestarikan budaya sendiri. Jangan kesana kemari mengikuti budaya orang lain.)

Pesan beliau sampai saat inu selalu aku ingat. Bahwasannya kita sebagai generasi muda harus mencintai dan melestarikan kekayaan budaya yang kita miliki. Orang bali melestarikan budayanya, orang jawa melestarikan budaya jawanya dan seterusnya....
Belakangan ini aku merasa miris, melihat anak-anak muda yang lebih mencintai budaya negara lain. Seperti korea, Amerika dan negara-negara maju lainnya. Malahan beberapa dari mereka tidak tau apa isi dasar negara kita..

Aku merasa beruntung di besarkan di tengah-tengah keluarga yang mencintai budayanya sendiri. Seperti nenekku yang selalu mengajarkanku mencintai budaya ku sendiri.

Hari ini aku cukup sibuk dengan beberapa berkas-berkas yang harus ku tanda tangani dan beberapa laporan yang harus ku periksa satu persatu. Ini bukan pertama kalinya, tapi sudah kesekian kalinya dokumen-dokumen menumpuk memenuhi mataku.

aku merebahkan kepalaku di kepala kursi sejenak, kemudian menarik nafas panjang sebelum aku kembali bergelut pada rentetan-rentetan kata yang berjejer di atas lembar kertas legal. Penàt dan pusing karena seharian ini aku hanya berdiam diri di dalam ruanganku. Bukan karena aku tidak mau keluar tapi, karena aku tidak punya waktu untuk sekedar bersantai-santai.

Kepalaku bertambah pusing ketika salah satu bawahanku melapor kepadaku, kalau di resort terjadi keributan. Uhhhhh.... masalah baru lagi !

Dengan cepat tanpa ana-anu, aku langsung terjun ke lokasi untuk melihat kejadiannya langsung dan mengetahui akar permasalahannya.

"Shit! You stupid ! Oh my god !" Maki seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan gayanya yang super modis, kepada salah satu karyawanku.

Ku lihat di baju mahal tamu itu ada noda merah, mungkin terkena jus stroberry yang di bawa oleh weters itu. Terlihat nampannya yang kosong dan pecahan gelas yang ada di lantai. Weters itu hanya bisa menunduk dan meminta maaf karena kelaliannya. Tapi, tamu itu tidak memperdulikan permintaan maaf nya dan malah terus memaki dan marah-marah.

Karena geram melihat perlakuan orang itu, aku langsung menghampiri mereka. Sekilas aku melihatnya, seperti tidak asing di mataku. Laki-laki sombong itu sangat familiar, tapi aku tidak memperdulikan hal itu, yang menjadi pusat perhatianku sekarang adalah permasalahan yang terjadi saat ini.

"Maaf tuan, ada masalah apa?" Tanyaku dengan nada sesopan mungkin

"Masalah apa? Oh my god! Its so sutupid! Anda tidak bisa lihat? Karyawan ceroboh anda ini sudah mengotori baju saya! " jawabnya dengan nada kesal

Laki-laki ini memang tidak punya sopan santun sedikitpun. Kata-katanya sangat kasar

"Saya mohon maaf atas ketidak nyamanan anda dan kecerobohan karyawan saya." Aku masih mencoba sabar menghadapinya meskipun sebenarnya laki-laki itu menyebalkan. Tapi, dia adalah tamu di resort inu dan aku harus menghormatinya.

"Di negara ini memang tidak ada yang becus. Semuanya stupid !" Ocehnya yang tidaj sengaja terdengar oleh telinga mungilku.

Saat itulah seketika kesabaranku habis, kekesalanku memuncak karena tidak terima dengan ucapannya. Memangnya dia siapa? Enak sekali berbicara seperti itu. Di liat dari penampilannya dia seperti orang indonesia, tapi bagaimana mungkin ada orang yang tidak menghormati negaranya sendiri.

" Maaf tuan , anda tidak berhak berkata seperti itu. Saya minta anda menarik kembali kata-kata anda sekarang juga. "

Laki-laki itu memandangku dengan tatapan tidak percaya sekaligus kesal bahkan mungkin marah. Persetan aku tidak perduli! Dia sudah keterlaluan!!

"Are you crazy? Apa seperti ini anda melayani tamu anda? Kalau seperti ini saya tidak mau menginap disini.!"

"Ya sudah. Kalau begitu pergi dari sini sekarang juga!!! "Jawabku santai dengan wajah berani. Dia pikir dia siapa? Dasar!!

Àku melirik beberapa karyawanku yang menatapku heran karena baru saja kata-kataku secara tidak langsung sudah mengusir tamu simbong itu.

"Dengar ya Tuan yang terhormat, saya tidak menerima tamu yang tidak tau sopan dan santun seperto anda. Kalau anda ingin menginap disini, saya minta anda tarik kata-kata barusan. Atau pergi dari resort ini!!!" Ancamku dengan tegas.

Adu pandangpun terjadi di antara kami. Matanya memerah karena emosi dan aku balas menatapnya dengan tatapan yang tak kalah tajam. Dia pikir aku takut!! Ño aku tidak pernah takut dengan orang seperti dia.!!

Laki-laki betubuh tinggi, dengan rambut sedikit panjang hingga melapoi dahinya, tidak bisa berkata apa-apa dan pergi begitu saja. Tentunya dengan amarah tertahan di hatinya. Aku tidak memperdulikan laki-laki sombong dan menyebalkan itu, dan lebih memilih beralih pada karyawanku untuk memberikannya peringatan.


"Sayà minta lain kali jangan sampai terjadi hal serupa lagi. Untuk kali ini kamu saya maafkan tapi, lain kali saya tidak akan toleran." Ucapku tegas pada karyawanku yang menyebabkan masalah ini terjadi.

"Iya Buk. Hal ini tidak akan terjadi lagi."jawabnya sembari menunduk.

Aku mengangguk dan kembali ke ruanganku. Entah kenapa, laki-laki menyebalkan itu terus terbayang di pikiranku. Dia terlihat sangat familiar, seperti aku pernah melihatnya sebelumnya. Tapi, entah kapak dan dimana aku tidak tau.

Beberapa menit kemudian, Ajik menelponku. Rupanya masalah ini sudah sampai hingga telinganya. Dan tampaknya Ajik tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Dan beliau memintaku untuk bertemu dengannya dan meminta maaf langsung pada laki-laki itu.

Aku tidak sudi bertemu dengannya apalagi meminta maaf.

Dobble shit!!!





#tibecountinue


Segini dulu ya guys :)

Jangan lupa vote dan pendapat kalian episode kali ini. ?

Gimana ya kalau Cinta ketemu denga orang itu? Dan siapa orang itu?

Maukah cinta minta maaf?

Lets see to the next episode






Ketika Dewa Cinta Bertemu  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang