BAB 16

608 74 16
                                        


Happy reading :)

~ ~ ~

Cinta duduk di dekat jendela kamarnya, melihat hamparan danau dan perkebunan dari balik kaca. Belakangan ini dia menjadi wanita pemurung, yang hanya berdiam diri sepanjang hari di kamarnya. Barang kali dia sedang berpikir, dia sedang mencari jawaban yang barang kali terselip di antara hembusan angin.

Kini kenyataan pahit yang harus dia hadapi adalah, bahwa Dewa memiliki seorang anak bersama wanita lain. Wanita masa lalunya. Akan seperti apa hidupnya kedepan ? Apa dia akan berbagi cinta dan hidup? Atau dia hanya akan menjadi penghalang dalam keluarga kecil yang harusnya bahagia?

Tidak! Cinta tidak akan pernah sanggup untuk menjalani hidup seperti itu. Lebih baik dia kembali kedua yang seharusnya dia tinggali. Bukan disini! Di dunia asing yang tidak dikenalnya. Hancur sudah hatinya untuk yang kedua kalinya, terjatuh dan rapuh dalam kondisi yang sama.

Rasa sakit yang sudah terkubur sekian lama, kini terbuka lagi. Bekas luka itu seakan terinfeksi dan semakin parah. Air matanya sesekali menetes saat melihat ratusan burung turun dari pegunungan. Rasa sakit saat ini mengingatkannya pada rasa sakit terdahulu. Dimana itu adalah masa-masa tersulit dan terburuk dalam hidupnya. Namun, yang saat inienghantam hatinya 100X lebih sakit dengan apa yang di rasakannya dahulu.

Apa yang harus di lakukannya saat ini?
Dia bahkan tidak punya tempat untuk mengadu, Ayah dan Ibu mertuanya bahkan bli Made tidak ada disini, mereka jauh di seberang dunia.

Tap....tap... suara derap langkah memasuki kamar Cinta dan perlahan melangkah mendekatinya. Cinta menoleh kearah sumber suara, melihat seorang laki-laki asing berkulit putih dan berambut pirang tersenyum kaku kearahnya. Dia sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki itu dan ini pertama kalinya mereka bertemu.

Laki-laki dengan jas hitam mahal dan sepatu kulit mengkilap itu, tampak seperti seperti kaum intelektual kebanyakan yang sering di temui Cinta selama tinggal di hallstatt. Laki-laki itu duduk di sebelah Cinta tanpa meminta izin sebelumnya, membuat Cinta menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Kevin." Ucapnya mengulurkan tangannya saat menyadari raut kebingungan di wajah ayu Cinta.

"Cinta.." balas Cinta dan mejabat tangan besar Kevin. Dimata perempuan itu masih menyisakan tanya, siapa dia?

"Aku minta maaf Mis Cinta karena datang terlambat. Seharusnya aku mencegah perempuan itu datang menemui Dave." Jelas Kevin dengan wajah penyesalannya. "Mis, jangan terlalu cepat menarik kesimpulan, apa yang di katakan perempuan itu belum tentu benar." Lanjutnya dengan penuh keyakinan.

Laki-laki itu berusaha menjelaskan kepada Cinta tentang kondisi yang sebenarnya. Dia tidak ingin Cinta mengambil keputusan dengan cepat tanpa tau bukti atas apa yang sudah di katakan Emile soal anak Dewa. Kevin tidak akan pernah membiarkan jika Dewa kembali lagi bersama gadis ular itu. Begitulah caranya menyebut Emile.

"Jika semuanya benar?" Cinta melayangkan pertanyaan dengan nada suara sedingin es di kutub. Ini pertama kalinya, gadis bali itu bersikap tiďak ramah kepada orang lain.

"Entahlah. Tapi, aku percaya Dave tidak mungkin melakukan hal itu. Tentunya, Mis tau bagaimana Dave.." jawab Kevin dengan tenang. Dia bisa melihat kesedihan, kekecewaan, kekesalan dan amarah dari wajah perempuan di hadapnnya itu.

Cinta kembali memandang kearah luar jendela,"sayangnya ucapan tidak  sesuai dengan kenyataan." Jawabnya dengan suara berat.

"Kau tau, tuan Kevin? Sampai saat ini aku sedikitpun tidak mengetahui tentang sahabatmu itu. Suamiku." Cinta tertawa getir. "Jika bukan dari ibunya, mungkin aku tidak tau apa yang dia sukai." Lanjutnya. Air mata mulai membumbung di kelopak matanya, dengan cepat dia menghapusnya agar tidak jatuh di hadapan Kevin.

Ketika Dewa Cinta Bertemu  [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang