6. Serangga Airlangga

444 29 2
                                        

Di sebuah klab malam di Dago itu, Laksita berjalan menyelusupi orang-orang yang riuh berbicara, bergumpal-gumpal asap rokok, dan cahaya lampu berwarna merah yang menyobek kegelapan. Jantungnya berdebar kencang, perutnya mendadak mulas, dan keringat mulai membasahi wajahnya, sesuatu yang selalu terjadi jika ia berada di tengah keramaian. Sama seperti Airlangga, ia tidak terlalu suka keramaian. Jika ia adalah sebuah spons cuci, maka keramaian adalah air yang menyerapinya, membuatnya merasa berat, dan saat ini terjadi, ia akan melipir pergi, berusaha memeras dirinya sendiri supaya air itu keluar dari tubuhnya. Meski begitu, Laksita selalu tahu kapan saatnya ia harus berada di tengah-tengah suasana bingar, saat-saat ketika ia merasa kesunyian sudah terlalu membuatnya merasa terasing. Kalau bukan karena grup band indie favoritnya tampil di klab malam itu dan tugasnya meliput konser tersebut, ia tidak akan mau datang ke sana.

Laksita menaiki tangga menuju sebuah balkon. Di atas sana, ia bisa menonton pertunjukan band tersebut dengan lebih leluasa. Segores senyum sinis mirip Airlangga tersungging di wajahnya ketika melihat remaja-remaja yang datang ke sana, tapi bukannya menonton, malah asyik berselfie ria. Wajah Airlangga tiba-tiba melintas di pikirannya. Ia membayangkan jika lelaki menyebalkan itu berada di sana, ia pasti sudah menghinanya dengan mengatakan bahwa kedatangannya ke sini ialah hanya karena menonton band indie sedang menjadi tren. Dibayangkannya Airlangga berkata-kata dengan nada sinisnya yang menusuk hati bahwa ia tidak ubahnya seperti remaja-remaja dengan smartphone di tangannya itu: mereka, para alay yang menonton konser ini cuma karena ingin mem-posting foto, mencoba memberitahukan kepada khalayak bahwa mereka anak kekinian dengan menonton konser tersebut tanpa menikmati dan meresapi lagu-lagunya. Laksita tersenyum. Jika tebakkannya benar, berarti Airlangga sama dengan dirinya, sesuatu yang mendadak menimbulkan sedikit rasa mual di perutnya.

Ya, sejak kali pertama bertemu dengan Airlangga ia merasakan sesuatu dari lelaki tersebut, selain tatapan tajamnya yang seperti menelanjangi pikirannya. Ketika Airlangga mengejekinya soal kaos Pink Floyd yang dipakainya, jauh di dalam hatinya sebetulnya ia sependapat dengan Airlangga. Belakangan ini memang kaos Pink Floyd album "The Darkside of the Moon" memang sedang menjadi tren, dan alangkah ia membenci remaja-remaja alay tersebut. Remaja-remaja yang di mata Airlangga adalah mahluk-mahluk menjijikkan yang tidak mempunyai jati diri. Ia juga sependapat dengan Airlangga ketika lelaki itu berkata dengan mulut senyinyir ibu-ibu komplek kurang kerjaan bahwa remaja-remaja yang menyukai fotografi belakangan ini ialah cuma karena ikut-ikutan tren saja, tanpa mau mempelajari teknik-teknik, bahkan yang paling dasar sekalipun. Laksita berhenti sebentar dan memandangi remaja-remaja yang masih asyik berselfie di hadapannya, sementara pikirannya masih membayangkan Airlangga, memikirkan bahwa seandainya Airlangga bukanlah sosok yang menyebalkan, pastilah lelaki itu sudah ia jadikan teman dekatnya. Gianti, Renita, dan Utari hanyalah tiga dari sedikit orang-orang yang mau menerima "keunikannya". Sangat sulit bagi Laksita menemukan teman yang sepemikiran dengannya. Ia membayangkan jika sekarang, di tempat itu, ada Airlangga di sampingnya, pasti mereka sudah tertawa cekikikkan sambil mengejeki remaja-remaja itu.

Laksita menggelengkan kepalanya, seolah-olah ia baru saja tersadar dari sesuatu yang salah. Mengapa pula aku harus memikirkannya, terlebih mengira bisa berteman dengan lelaki menyebalkan itu? Gumamnya di dalam hati ketika kejadian tadi sore bersama Airlangga melintas di pikirannya. Dihelanya napas panjang, lalu ia meneruskan langkahnya menuju tangga, menapaki lantai balkon. Ketika itulah, tiba-tiba seorang lelaki berteriak, sejurus kemudian didengarnya sebuah benda yang jatuh ke lantai. Sebotol bir.

"Lu kalo jalan liat-liat, dong!" Laki-laki itu berteriak mendamprat Laksita. Laksita mengalihkan pandangannya dari botol bir yang pecah di bagian lehernya itu. Matanya segera beradu dengan seorang lelaki berwajah keras dan berkepala botak yang sedang berdiri di depan meja bartender. Rupanya tanpa disengaja Laksita menyenggol dan menginjak kaki lelaki itu.

Serangga AsparagusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang