2. Sang Pujangga

980 38 2
                                        

Siapa saja yang baru pertama kali melihat Kirani pasti akan langsung menebak bahwa perempuan itu adalah blasteran. Tubuhnya menjulang tinggi seperti atlit bola voli, kulitnya putih pucat seperti kertas, dan rambut panjangnya terpulas warna brunette alami. Matanya yang bulat dan berwarna cokelat juga hidung lancipnya semakin menegaskan darah campuran yang mengalir di uratnya. Kirani memang seorang blasteran. Ibunya asli Bandung dan ayahnya berkebangsaan Rusia. Kirani berasal dari Bandung, tapi lima tahun yang lalu setelah lulus SMA ia memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Ayahnya yang merupakan seorang diplomat kaya di Jakarta menyewakannya sebuah rumah mungil, tapi bercitarasa mewah dengan gaya minimalis daripada sebuah kamar kos-kosan kecil yang harga sewanya hanya setahi kuku dari rumah tersebut.

Pagi itu di kamarnya, Kirani sedang bersama beberapa teman sekampusnya. Teman-temannya tersebut memang sering melewatkan malam di rumahnya, setelah sebelumnya mengisi malam dengan tiga tema obrolan khas perempuan "normal": gosip, pria, dan fashion. Mereka baru saja bangun tidur beberapa jam yang lalu, masing-masing duduk di ranjang.

"Ni, pesen pizza, dong. Gua laper lagi, nih," ujar Devi, salah satu teman Kirani, seorang perempuan montok dengan wajah yang lebih tua daripada umurnya. Itulah sebabnya ia sering juga dipanggil "tante" oleh teman-temannya. Hal ini ditunjang dengan kebiasaannya memakai riasan yang tebal dan rambutnya yang tersapu bleaching berwarna perak, sehingga ia nampak mirip sosialita genit berusia setengah abad.

"Baru aja tadi makan bubur ayam, lu udah minta makan lagi. Perut lu banyak maunya," sembur Kirani yang bersandar di sandaran ranjang, mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menekuri layar smartphone di tangannya.

"Yah, itung-itung cuci mulut, Ni."

"Gila lu, cuci mulut pake pizza. Gua pesenin aja sekalian roti buaya, mau lu?" sengat Kirani, lalu kembali asyik dengan smartphone-nya. Rutinitas paginya memang mengecek akun-akun media sosialnya, mengecek seberapa banyak yang me-like postingan-nya. "Eh, tunggu, tunggu. Coba lu tebak, gua dapet WA dari siapa?" ujarnya tiba-tiba dengan wajah serius.

"Sang Pujangga?" teman-temannya kompak bersuara.

Kirani mengangguk sambil tersenyum dan mengangkat alis tebalnya yang semakin tebal karena disulam. Dilemparkannya smartphone-nya ke tengah ranjang, ke tengah kelilingan teman-temannya, seperti melemparkan sekerat daging kepada sekawanan anjing kelaparan. Sang Pujangga adalah julukan yang diberikan oleh Kirani dan teman-temannya kepada Airlangga. Julukan yang sebetulnya lebih bercitra olok-olokkan daripada pujian. Airlangga memang sudah sejak SMA mencintai Kirani, tapi selama itu pula Kirani menampiknya. Dan memang seperti anjing-anjing kelaparan yang dilempari daging, teman-teman Kirani langsung berebut ingin membaca puisi tersebut. Sebentar kemudian tawa kecil terkekeh-kekeh terderai dari masing-masing mulut mereka.

"Gila, pagi gini orang lain pada sibuk nyari duit, ini orang malah sibuk bikin puisi," ujar Vanka, perempuan dengan tato sepasang sayap di kulit batang lengannya, lantas menyapukan pandangannya pada botol-botol parfum beraneka model dan warna yang berjejer rapi pada sebuah rak kaca di dinding dekat meja rias. Ia selalu suka dan iri jika melihat koleksi parfum Kirani. Rasa irinya pagi itu bertambah saat memandang salah satu botol parfum keluaran terbaru, Lancome La Nuit Tresor for Woman. Memandang botolnya yang didesain berbentuk berlian berwarna ungu saja sudah membuat hatinya miris. Ia lalu mengambil dan membuka kembali lembar demi lembar majalah Vogue edisi bulan lalu yang tadi dibacanya.

"Lu kalo pacaran sama dia, Ni, bukannya kenyang dijajanin, malah kenyang dikasih puisi. Hari gini masih ngasih puisi ke cewek, hahaha," sahut Meri, jong Ambon berwajah mirip Rihanna sambil mengamati motif houndstooth yang menghias kuku-kuku jari-jemarinya yang lentik. Ia mempertimbangkan untuk mengganti motif tersebut nanti sore.

Serangga AsparagusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang