20. Penyakit yang Selama Ini Disembunyikan

300 14 0
                                        

"Apa-apaan ini? Kang Sasongko, lepasin."

Laksita berkata dengan gusar sambil meronta-ronta. Bahunya mengeras dan meradang, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Sasongko. Tubuh kecilnya tidak berdaya ketika Sasongko semakin memperkuat cengkramannya, mendesaknya hingga mereka terjatuh ke matras, dan lutut Sasongko yang bertumpu pada matras menjepit pinggulnya.

"Laksita, tenanglah, ini yang kamu inginkan selama ini, kan?" ujar Sasongko tersendat-sendat, seiring deru napas yang berlomba-lomba keluar masuk dari lubang hidungnya yang kembang kempis. Bibirnya terus merangsek, menjelajahi leher Laksita yang mulai lembap oleh keringat. Bau parfum dan keringat Laksita semakin mengobarkan kelenjar kejantanannya. Laksita bergidik jijik ketika lidah Sasongko menjilati telinganya dengan penuh nafsu, seperti seekor lintah yang basah dan kenyal, lantas mengulum telinganya. Cengkraman Sasongko bagaikan pasak yang menancapi batang lengannya yang kaku dan meronta-ronta.

"Lepasin, Kang," Laksita mengerang. Terdengar Sasongko mengaduh ketika ia menerjang selangkangan lelaki tersebut dengan tempurung lutut kanannya. Percuma saja, sebab Sasongko malah semakin liar, dan lelaki itu menindihkan tubuhnya yang berbau balsem ke tubuh Laksita, membuat Laksita merasakan kemualan yang luar biasa. Terdengar denting dari mata gesper Sasongko, dan detik-detik selanjutnya Laksita merasakan sesuatu menggesek-geseki selangkangannya, sesuatu yang keras dan tegang.

"Tolong, tol...," Laksita berteriak, tapi kemudian teriakkannya seketika berhenti ketika telapak tangan Sasongko menghadiahinya tamparan, lantas membekap mulutnya. Dari kejauhan kebun binatang, samar-samar terdengar jeritan primata-primata, riuh bersahutan, seperti perpanjangan dari teriakkan minta tolong Laksita. Tamparan dari Sasongko, berpadu dengan bau keringat dan balsem dari tubuh lelaki tersebut, juga bau rokok dari mulutnya, membuat Laksita mual dan hampir pingsan. Detik-detik selanjutnya, ia merasakan tangan Sasongko yang menelusuri celana jeansnya, terus ke atas, menjelajahi pahanya, hingga menuju resleting. Dengan kasar, Sasongko menarik paksa resleting celana jeans tersebut.

Sasongko kian mengganas. Akal sehatnya pingsan, terbius oleh nafsu dan keyakinannya bahwa Laksita sebetulnya hanya berpura-pura dan menikmati ini, bahwa lama-kelamaan perempuan tersebut juga akan membenamkan nafsu liarnya ke dalam dekapan yang mesra dan sama ganasnya dengan dirinya. Tepat ketika ia bangkit, kembali bertumpu dengan lututnya, dan dengan tergesa-gesa menarik celana jeans yang dipakainya ke bawah, sebatang lengan yang kuat merenggut kerah kemejanya, menariknya ke belakang. Sasongko terhempas dan menabrak meja dispenser. Galon pada dispenser terjatuh, bersamaan dengan gelas, menimbulkan bunyi debam dan pecahan beling. Sekejap kemudian air tumpah-ruah menggenangi lantai kios.

Dengan mata yang nanar, Sasongko memandangi Ratno yang berdiri di hadapannya bersama Kalis. Kedua orang tersebut memandanginya dengan raut kaget dan penuh amarah. Di antara kaki kurus Ratno, Sasongko melihat Laksita yang duduk mencangkung, memeluk kedua lututnya, bersandar pada dinding dan menangis. Ia tersadar dari perbuatannya, sementara dirasanya bagian belakang kepalanya yang sakit dan berdenyut-denyut akibat benturan keras pada gigir meja. Merangkak dengan lemah di antara kaki Ratno dan Kalis, ia berusaha mengambil kacamatanya yang terjatuh di lantai. Baru saja ia menggamit kacamatanya, sebuah injakan keras dari kaki Ratno meremukkannya.

"Sudah gila kamu, Sasongko!" teriak Ratno. Suaranya menggunturi kesunyian kios. Dadanya naik turun dengan cepat, menahan amarah yang membara. Beberapa saat kemudian, Ratno kembali merenggut kerah kemeja Sasongko, mengangkatnya, lantas melayangkan tinju bertubi-tubi ke wajah Sasongko, sementara Kalis beranjak menuju Laksita.

"Saya bisa jelaskan ini, Ratno," ujar Sasongko tertahan-tahan. Hantaman bertubi-tubi dari tinju Ratno telah membuat bentuk wajahnya menjadi tidak karuan. Bibirnya yang mencong, bengkak, dan perih bukan main membuatnya harus bersusahpayah mengucapkan kata-katanya, seakan-akan setiap kata-kata yang terluncur darinya adalah ratusan jarum yang menusuk-nusuk bibirnya. Darah mengucur dari hidungnya yang patah dan bengkok ke samping. Bilur panjang melintang dari pelipis kanannya, sampai ke matanya yang merah dan menggelembung.

"Jelaskan nanti di kantor polisi, anjing buduk!" Ratno kembali mengguntur, sementara ia memandangi penyakit kulit yang membercak kaki Sasongko, penyakit yang selama ini selalu Sasongko tutupi dengan celana panjangnya. Dengan penuh nafsu dan amarah, Ratno meludahi wajah Sasongko, dan Laksita menatap ludah yang bercampur dahak kuning tersebut terciprat di kening Sasongko. Selanjutnya, Ratno menghadiahi rusuk Sasongko dengan sebuah tendangan keras.

Laksita menjerit seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya yang menggigil ketika dilihatnya Sasongko mengerang dengan tubuh yang melengkung, menggelepar-gelepar di lantai bagaikan seekor hewan yang disembelih. Kalis segera bertindak dengan meraih tubuh Ratno, manakala lelaki tersebut mengambil ancang-ancang demi menendang kembali Sasongko. Laksita tidak tahan lagi. Ia merasa segenap kekuatan tercerabut dari sekujur tubuhnya. Laksita akhirnya pingsan. 

Serangga AsparagusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang