Mobil melaju lembut di Jalan Balubur dan berhenti ketika lampu merah menyala. Mobil Kirani adalah satu di antara ribuan mobil lainnya yang menggeragap kota dengan deru dan asap beracun dari masing-masing knalpotnya. Tidak ada seorang pun yang berbicara di dalam mobil tersebut, kecuali Phil Collins dan Marilyn Martin yang berduet menyanyikan lagu "Separate Lives" dari dalam perangkat audio. Mobil merangkak kembali. Pengharum mobil beraroma apel yang tergantung di tangkai spion dalam bergoyang-goyang cepat ketika mobil melindas ceruk pada jalanan beraspal, seakan-akan sedang berjoged menikmati nyanyian Phil Collins dan Marylin Martin. Gerakkannya yang cepat tidak pas dengan tempo lagu yang lambat, bagaikan pertunjukan rodeo yang diiringi musik klasik bertempo andante.
Kiranilah yang sengaja memutar lagu tersebut, tentu saja dari CD pemberian Airlangga, CD yang dulu diberikan lelaki itu saat acara kelulusan bersama sebuah puisi panjang yang terdiri dari tiga halaman, ditulis dengan sangat rapi, dan ditempeli dengan mawar kering di setiap lembarnya. Kirani sangat tersanjung saat itu, walau ia menerima puisi tersebut dengan keangkuhan seorang putri di hadapan budak belian yang mencintainya. Puisi yang diberikan Airlangga secara diam-diam itu ia tunjukkan kepada teman-temannya, disertai hinaan-hinaan palsu, supaya rasa tersanjungnya tidak meruntuhkan harga dirinya. Salah seorang temannya, Lita, membacakan puisi tersebut di atas panggung dengan pengeras suara. Betapa gembiranya Kirani waktu itu ketika melihat wajah Airlangga yang gugup dan malu. Rasa superiornya sebagai seorang perempuan yang dipuja sedemikian rupa membentuknya menjadi seseorang yang angkuh dan dikuasai kegengsian. Ketika ia pulang, diputarnya lagu-lagu Phil Collins dari Airlangga, dan ia tersenyum menghina, menganggap bahwa selera musik Airlangga ketinggalan zaman, meski di dalam hati kecilnya ia menyukai lagu-lagu tersebut.
Akan tetapi kini semuanya berbeda. Bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Airlangga, sibuk dengan kuliahnya di luar kota, dan tempo hari ketika ia bertemu dengan lelaki tersebut di rumah Laksita, ia sebetulnya merasakan sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Tubuh Airlangga yang dulu kurus dan senantiasa membungkuk ketika berjalan dengan wajah menyiratkan rasa tidak percaya diri telah berubah menjadi tubuh yang kekar, dengan bahu bidang yang membangkitkan gairahnya. Wajah Airlangga yang dulu selalu menunjukkan raut kikuk setiap kali bertemu dengannya bersulih dengan raut tenang dan murung yang memancing rasa penasarannya. Kalau dulu Airlangga seringkali menghindari tatapannya, kini gilirannya yang tidak kuat memandang tatapan tajam Airlangga, seakan-akan selama tidak bertemu dengan dirinya, Airlangga telah mengasah tatapannya sebagai senjata untuk balas dendam kepadanya. Intinya, Airlangga telah beralihrupa menjadi sesosok lelaki yang menumbangkan rasa superiornya dan menggantinya dengan rasa cinta yang tumbuh pesat terhadap lelaki tersebut. Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa semenjak Airlangga mengenal Laksita, lelaki tersebut tidak pernah lagi mengiriminya puisi. Jauh di lubuk hatinya terselip kecemburuan kepada Laksita.
Mobil yang dkemudikan oleh Kirani membelok, melintasi jalan Ganesha, melewati kampus ITB. Rumah sakit tempat Laksita dirawat memang berada tidak begitu jauh dari kampus tersebut. Phil Collins dan Marylin Martin masih bernyanyi. Ya, ia sengaja memutar lagu tersebut demi menarik kembali perhatian Airlangga yang telah terpaling kepada Laksita. Ia juga tahu kalau Airlangga suka membaca buku, maka hari kemarin ia membeli sebuah buku puisi, dan kini buku tersebut sengaja ia letakkan di atas dashboard. Sesekali dipandangnya wajah Airlangga yang terpantul pada cermin spion dalam, mencoba menangkap reaksi yang ditampilkan wajah lelaki tersebut ketika mendengar lagu yang diputarnya atau melihat bukunya. Tapi tidak didapatinya reaksi apa pun pada wajah itu. Raut kikuk yang selalu menggores wajah Airlangga ketika berada di dekatnya pun telah hilang, berganti dengan raut tenang dan murung dengan wajah mengernyit yang memaling ke jendela, memandang lurus dan tajam keluar. Kirani menghela napas panjang. Ia tahu pikiran Airlangga kini sedang terbang jauh menuju Laksita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serangga Asparagus
RomanceIni adalah sebuah kisah sederhana tentang makna dari cinta sejati, dan bagaimana Tuhan, dengan takdirnya yang misterius dan penuh kejutan membimbing dan mempertemukan hati sepasang manusia... Ada Airlangga, Airlangga Lazuardi, seorang lelaki "menyeb...
