24. Pantai Berpasir Biru

309 22 0
                                        

Laksita baru saja menyentuhkan ujung sendok kecil dari plastik itu ke permukaan puding di tangannya, ketika didengarnya bunyi lembut dari pintu yang terbuka. Mata sayunya segera terpaku kepada Airlangga yang berdiri di belakang pintu yang tertutup. Sendok puding kecil di tangannya terlepas, berdiri miring menancap puding, bagaikan dayung yang menancap di pasir pantai. Tapi warna puding rasa blueberry tersebut biru, tidak senada dengan warna putih pada pasir pantai. Yang senada dari puding itu dengan pantai hanyalah kesunyiannya. Airlangga beringsut menuju Laksita, lalu duduk di gigir ranjang, di samping paha kanan Laksita yang tertutup sehelai selimut dengan motif garis-garis biru. Laksita menundukkan kepalanya, memandangi puding yang tidak jadi dikudapnya.

"Puding dari rumah sakit, ya, Laksita?" tanya Airlangga murung setelah sebelumnya memandang baki di atas meja kecil samping ranjang. Di sana juga ada pot kecil bening berisi obat-obatan, sebuah vas yang berisi bunga-bunga plastik, dan sebuah buku novel milik Laksita. Sehelai pembatas buku dari bunga kering yang dilaminating terselip di buku tersebut. Laksita membisu, kebisuan yang membuat kepala Airlangga tertunduk, seperti bunga yang menunduk layu ditimpa salju pertama di musim dingin.

"Lu tahu, Ta? Gua pikir tukang masak rumah sakit adalah salah satu jenis orang yang paling banyak dosanya. Mereka bikin makanan yang kelihatannya enak, tapi kenyataannya rasanya... yah, lu tahu sendirilah." Airlangga berbicara tanpa memandang Laksita, mencoba memulai percakapan dengan lelucon, dan meluncurkan tatapannya yang murung ke telapak tangannya, seakan-akan di telapak tangan tersebut terletak sebuah dosa berwujud pasak besar yang menancapinya, membuat kebisuannya meraung-raung.

"Mereka enggak berdosa. Makanan yang mereka bikin enggak enak karena ada alasannya. Kalau pun mereka berdosa, gua kira dosa-dosanya enggak sebesar dosa dari laki-laki yang memaki-maki perempuan dengan kasar, atau...," Laksita berhenti berbicara. Matanya bergetar-getar oleh kesedihan. Ia lalu kembali berbicara dengan suara yang parau. "Atau dosa dari laki-laki kurang ajar yang mencoba memperkosa perempuan."

Laksita menangkupkan telapak tangan kanannya ke mulutnya. Genggaman tangan kirinya pada puding semakin erat. Puding kesunyian berwarna biru tersebut bergetar oleh kesedihan yang meluncur di pipi Laksita. Airlangga terdiam, merasakan tikaman angin di tengkuknya yang meluncur dari jendela pada dinding di sebrang pinggiran ranjang. Diraihnya pergelangan tangan kiri Laksita, sementara perempuan tersebut menerawang kelambu pada jendela yang bergerak-gerak dimainkan angin. Dirasakannya lengan Laksita yang tegang dan bergetar-getar. Kesedihan yang menggenangi mata Laksita turut pula menggenangi hatinya.

"Gua harap lu mau maafin gua, Ta, soal yang kemarin, gua..." Airlangga tidak meneruskan kalimatnya. Rasa bersalah membatu di kerongkongannya manakala Laksita mengalihkan pandang kepadanya. Jerit panjang peluit juru parkir dari bawah merambat di udara, masuk tanpa permisi melalui jendela. Sepasang cicak kasmaran berkejaran di dekat jam dinding yang suara detiknya terdengar jelas.

"Gua maafin lu, Ga."

Meski Laksita telah menerima permohonan maafnya, tapi Airlangga masih bisa merasakan kepiluan yang ikut hanyut di kata-kata yang mengalir dengan tenang dari mulut Laksita. Ini membuat rasa bersalahnya semakin membesar. Seakan mengerti, Laksita mengenggam ruas-ruas jari tangan Airlangga yang masih menggenggam pergelangan tangannya.

"Lu yang kuat. Gua mau lu terus hidup." Airlangga berujar lirih.

Laksita menangkap kecemasan, kerisauan, dan kasih sayang yang berpadu, membayang di mata lelaki tersebut. "Kenapa lu mau gua terus hidup, Ga?"

Airlangga sejenak terdiam dan melepaskan genggamannya. "Entahlah, gua enggak tahu..., gua..."

Ada sesuatu yang terselip di kata-kata Airlangga, sesuatu yang disirati oleh kebingungan, kegundahan dan ketidakyakinan yang teramat sangat. Laksita termenung memandang Airlangga ketika lelaki tersebut lantas memencet tombol pengungkit ranjang. Kini di dalam posisi duduk bersandar, wajah Laksita berdekatan dengan Airlangga. Matanya beradu dengan mata Airlangga yang memandangnya dengan tajam, sepasang mata kura-kura. Ia tidak keberatan ketika Airlangga mengangkat lengannya, dan memegang pipinya dengan telapak tangannya yang agak kasar, tapi memberinya rasa nyaman, menyelimuti sekujur hatinya yang bergetar oleh perasaan yang sukar diterjemahkan dengan kata-kata. Laksita menangis dan memejamkan matanya ketika Airlangga mengusap-usap pipinya dengan ibu jarinya, membiarkan air matanya mengalir di ibu jari itu. Melihat Laksita menangis, Airlangga juga tidak kuasa menahan tangisnya. Dipandangnya belahan samar di dagu lancip Laksita. Disibaknya rambut Laksita, dan nampaklah kening Laksita, putih dan bercahaya disepuh cahaya matahari, seperti dinding marmer di sebuah kastel yang sunyi.

Serangga AsparagusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang