Airlangga nyaris terjatuh ketika ia tersandung uraian tali tambang yang tergeletak di lantai kamarnya. Dengan langkah gontai, Airlangga beringsut menyingkap tirai pada jendela. Cahaya matahari menghambur wajahnya, bagaikan aliran sungai hangat yang pelan-pelan melemaskan sendi-sendi kakunya. Matanya yang masih berat oleh pening di kepalanya mengerjap-ngerjap, memandang semak-semak mawar di luar yang bergerak-gerak diembus angin, bertatahkan kilau butir-butir sisa air hujan semalam. Rasa syukur menyejukkan hatinya ketika ia mendengar lamat-lamat suara ibunya yang melayani para pembeli. Pagi ini hujan tidak turun, dan dagangan ibunya laku keras. Airlangga tersenyum murung. Digenggamnya kisi-kisi jendela yang berdebu, sementara pikirannya yang masih setengah tertidur menyusun kepingan-kepingan puzzle dari kejadian semalam. Pikirannya terbangun dicambuk kengerian ketika kepingan-kepingan puzzle tersebut tersusun sepenuhnya. Betapa bodohnya aku, pikir Airlangga, sementara ia menghela napas panjang, mengembuskannya seraya menundukkan kepalanya, memandangi ujung tali tambang yang melongok di antara kedua kakinya. Airlangga tidak bisa membayangkan kondisi ibunya jika semalam ia benar-benar memantapkan niatnya untuk menggantung diri. Diambilnya tali tambang tersebut, dan kengerian semakin menancapkan taring-taringnya di hatinya manakala permukaan tali yang kasar tersebut mengenai telapak tangannya saat ia menggulungnya, seolah-olah tali tersebut adalah seekor ular berbisa yang muncul dari mimpi buruknya.
Tapi Airlangga tidak bermimpi buruk tadi malam, malahan mimpinya sungguh indah. Sementara menggulung tali tersebut, ia merenungkan mimpinya.
Di dalam mimpinya ia berdiri di sehampar padang rumput ilalang luas yang dilingkung gunung berderet-deret, terpapar kehangatan dari cahaya kuning keemasan penghujung hari yang ramah. Angin sejuk menerpanya manakala ia berjalan pelan sambil menyibaki rumput ilalang yang lumayan tinggi, hingga langkahnya terhenti saat ia mencapai lapangan luas yang ditumbuhi rumputan liar pendek dan bunga Werdelia urticaefolia yang kuning bersemarak di pinggirannya. Di sanalah ia melihat seorang anak kecil sedang belajar menaiki sepeda, dituntun oleh seorang lelaki dewasa di kejauhan, bersemarak tawa riang. Ia terkejut ketika mendapati bahwa anak kecil tersebut adalah dirinya sendiri dan lelaki yang menuntunnya tidak lain adalah ayahnya. Airlangga jatuh berlutut, dan menangislah ia. Tidak berapa lama kemudian, ia merasakan tepukan lembut pada bahunya. Airlangga menolehkan kepalanya, dan segera pandangannya meraih Laksita, berdiri di belakang, memakai gaun putih selutut, tersenyum ramah kepadanya. Tidak ada lagi rumputan ilalang, berganti dengan bunga-bunga buatan Laksita yang memenuhi keluasan padang itu. Serangga-serangga Laksita Asparagus beterbangan di antara bunga-bunga tersebut, alangkah banyaknya, berpamer cahaya berwarna biru yang meremang dari perutnya masing-masing.
Airlangga tersadar dari lamunannya. Dihempaskannya tali tambang yang sudah tergulung rapi ke atas kasurnya, lalu ia duduk di gigir ranjang. Laksita muncul kembali di dalam ingatannya. Betapa ingin ia kembali rebah di kasur, mencoba tidur kembali dengan harapan ketika ia terbangun, Laksita hilang dari ingatannya. Segera diurungkannya niat tersebut. Percuma saja baginya. Hati yang hancur tidak pernah tertidur, pikir Airlangga. Ia mendesah pelan lalu bangkit, berjalan menuju pintu, dan membukanya. Segera ia disambut suara ibunya dan para pembeli yang kian menjelas di telinganya. Airlangga mengeluh, ia lebih mendambakan kicauan burung dan kerisik pohon, ketimbang mendengar obrolan mereka tentang gosip artis juga hal-hal lainnya yang ia anggap remeh. Pikirannya yang sedang kacau menjadi semakin kacau saja. Dengan langkah gontai ia menyeret tubuhnya menuju ruang tamu, hendak menutup pintu depan yang terbuka lebar demi meredam suara-suara tersebut. Baru saja dicapainya ambang pintu ruang tamu, langkah Airlangga terhenti manakala pandangannya terhenyak mendapati Himawan dan Kirani yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Darah seketika naik ke wajahnya, dan hatinya terkepal menggenggam amarah. Himawan yang sedang melamun menyadari kehadiran Airlangga dari dengusan kesal kawannya tersebut, dan sebentar mata mereka beradu dalam kebisuan, sampai akhirnya Airlangga berbalik melengos. Himawan segera bangkit dan memburu Airlangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serangga Asparagus
RomanceIni adalah sebuah kisah sederhana tentang makna dari cinta sejati, dan bagaimana Tuhan, dengan takdirnya yang misterius dan penuh kejutan membimbing dan mempertemukan hati sepasang manusia... Ada Airlangga, Airlangga Lazuardi, seorang lelaki "menyeb...
